Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
28 September 2026 · 2 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Di bandara, saya memperhatikan seorang bocah yang menggenggam tablet begitu erat seolah benda itu akan terbang jika ia melepasnya.
Dua jam lalu, saya duduk di ruang tunggu bandara. Di kursi sebelah, seorang bocah tampak sibuk dengan tabletnya. Matanya bergerak lincah ke kanan dan kiri, mengikuti pergerakan karakter kartun di layar. Saya mengintip sedikit. Ada adegan karakter hijau yang merampas mainan milik karakter merah muda. Karakter merah muda itu menangis, lalu dalam sekejap mata, semuanya kembali tersenyum lebar. Tidak ada jeda untuk merasakan sedih, apalagi untuk memahami kenapa mainan itu direbut. Segalanya berubah begitu cepat.
Kebanyakan orang tua fokus menghitung berapa lama anak mereka menatap layar. Mereka cemas soal durasi atau jenis konten yang disaksikan. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatian kita: tempo dari tontonan itu sendiri. Kita sering lupa bahwa anak-anak membutuhkan waktu untuk memproses apa yang mereka lihat.
Belajar memahami perasaan orang lain butuh waktu. Saat anak melihat karakter yang berbuat salah, mereka perlu waktu untuk mengenali rasa kecewa itu sebelum adegan berganti. Jika tontonan bergerak terlalu cepat dengan warna-warna yang berkedip dan suara yang riuh, otak anak hanya menangkap stimulus visual tanpa sempat memaknainya. Mereka menjadi penonton pasif yang terseret oleh ritme yang diciptakan untuk menjaga perhatian mereka agar tidak beralih.
Kondisi ini serupa dengan logika ekonomi perhatian yang diterapkan pada dunia dewasa. Kita terbiasa dengan tombol "lewatkan iklan" atau ringkasan instan agar tidak perlu membaca panjang. Bagi anak-anak, logika ini dipindahkan ke dalam hiburan mereka. Masalah muncul saat cerita dipotong oleh lagu acak atau transisi yang mendadak. Anak tidak diajak untuk mengamati, melainkan hanya didorong untuk terus menatap ke layar berikutnya.
Beberapa tontonan memang menawarkan pendekatan berbeda. Ada acara yang memberikan jeda bagi karakter untuk berbicara perlahan atau membiarkan sebuah kejadian berlangsung sampai akhir. Misalnya, acara seperti Mister Rogers' Neighborhood atau beberapa seri animasi yang sengaja melambat. Dalam tayangan tersebut, sebuah persoalan muncul, dibicarakan, dan diselesaikan tanpa terburu-buru. Penonton diajak untuk melihat emosi yang jujur, bukan sekadar potongan aksi yang tidak berbekas.
Saya teringat dengan pentingnya jeda dalam percakapan sehari-hari. Kita merasa nyaman saat berbicara dengan seseorang yang mau mendengarkan tanpa memotong. Anak-anak sebenarnya mencari hal yang sama pada tontonan mereka. Mereka ingin merasa aman dan dimengerti, bukan sekadar dipaksa untuk terus merespons stimulasi baru yang tidak henti-hentinya.
Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menjauhkan teknologi dari hidup anak. Namun, kita bisa lebih teliti memilih tontonan yang memberi ruang. Perhatikan apakah tontonan itu memungkinkan anak untuk berpikir atau justru hanya menguras energinya dengan suara bising. Sebuah tayangan yang bagus membiarkan anak untuk menyerap nilai di dalamnya melalui pengulangan yang alami.
Banyak orang tua merasa tenang saat melihat anaknya diam membeku di depan layar. Padahal, diamnya mereka mungkin bukan tanda ketenangan, melainkan bentuk kewaspadaan yang dipaksakan oleh ritme tontonan yang terlalu rapat. Anak perlu belajar untuk tenang tanpa harus dipacu oleh hiburan yang riuh. Kita perlu melatih diri untuk tidak memberikan stimulus yang berlebihan saat mereka sudah lelah dengan dunia yang bergerak cepat di luar sana. Menonton bagi anak sebaiknya menjadi cara untuk memahami dunia, bukan cara untuk melarikan diri dari kesadaran.
Disadur dari aeon.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.