Ceritain Aja / Catatan & Hikmah
19 September 2026 · 2 min
Seringkali kita menuding angka perceraian yang tinggi adalah bukti orang-orang terlalu mudah menyerah. Namun, benarkah demikian? Mari kita lihat sisi lain dari dinamika pernikahan yang penuh luka.
Topik: Pernikahan & Keluarga
Sering sekali kita mendengar keluhan tentang tingginya angka perceraian di kalangan umat Islam. Spontan, muncul stigma bahwa pasangan zaman sekarang terlalu gampang menyerah dan tidak menganggap pernikahan sebagai ikatan sakral.
Namun, sebelum kita menghakimi, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihat lebih dalam. Apakah setiap perpisahan memang bermula dari ego yang tidak terkendali, atau justru dari pondasi yang memang rapuh sejak awal?, Kisah Anisa menjadi refleksi yang menyentuh hati.
Ia terjebak dalam dilema antara perasaan tulusnya dan ekspektasi orang tua yang memaksakan kehendak demi 'kebaikan' masa depan. Pernikahan yang dibangun di atas tekanan dan pengabaian suara hati nurani seringkali menjadi bom waktu.
Anisa akhirnya harus menjalani kehidupan rumah tangga dengan hati yang masih tertambat pada orang lain, sebuah situasi yang tentu saja membawa kepedihan mendalam bagi semua pihak yang terlibat., Dalam Islam, pernikahan adalah perjanjian berat yang dimuliakan. Namun, memaksa seseorang menikah tanpa kerelaan hati justru bisa memicu ketidakharmonisan di masa depan.
Ketenangan batin tidak akan muncul dari kepatuhan yang dipaksakan. Mungkin, alih-alih sekadar menuding orang lain 'gampang bercerai', kita perlu belajar untuk lebih empati terhadap proses pemilihan pasangan.
Pernikahan bukan sekadar urusan restu atau status sosial, melainkan tentang menyatukan dua jiwa yang sama-sama siap membangun baitullah dengan penuh cinta dan rida Allah. Jangan sampai kita mengabaikan kesehatan mental dan kebahagiaan hati, karena di sanalah letak keberkahan yang sesungguhnya.
Disadur dari aboutislam.net
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.