Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
6 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Tahun 2015, seorang mantan pegawai periklanan duduk membaca tumpukan buku tebal untuk mencari cara merapikan hidupnya yang berantakan.
Topik: Kecemasan & Overthinking
Tahun 2015, Kyle Kowalski meninggalkan ruang kantor periklanan setelah mengalami krisis hidup yang cukup berat. Dia lalu duduk membaca tumpukan buku, membedah enam karya pemikir bernama Ken Wilber, mulai dari A Brief History of Everything sampai Finding Radical Wholeness. Dari bacaan itu, dia mencari satu jawaban sederhana: bagaimana menyatukan kepingan hidup yang rasanya tercerai-berai. Di kamar kita sendiri, kegelisahan yang sama kerap datang tanpa permisi. Jam sebelas malam, kita baru selesai membalas pesan kantor, lalu beranjak mengambil air wudhu dengan kepala yang masih penuh angka target bulanan. Tubuh kita lelah, pikiran melayang ke mana-mana, dan hati terasa hampa. Kita sering merasa hidup ini terbelah menjadi bagian-bagian yang saling bertengkar.
Banyak orang bertanya tentang rasa terbelah ini lewat pertanyaan-pertanyaan yang sama.
Ken Wilber menghabiskan puluhan tahun menulis buku tebal karena melihat manusia modern hidup dalam kotak-kotak yang terkunci. Fisika dan biologi ditaruh di satu lemari, sementara doa dan ketenangan batin disingkirkan ke sudut lain. Akibatnya, kita merasa aneh saat membaca artikel kesehatan mental di siang hari, lalu shalat malam beberapa jam kemudian. Seolah-olah dua hal itu milik dua dunia yang bermusuhan.
Wilber menawarkan gagasan yang ia sebut Teori Integral. Idenya sederhana: semua disiplin ilmu yang pernah dipelajari manusia, dari penelitian laboratorium Barat sampai tradisi hening orang-orang Timur, sedang melihat hal yang sama dari sudut berbeda. Saat kita ke dokter untuk memeriksa lambung yang perih karena stres kerja, itu fakta biologis. Namun ketika kita duduk diam di atas sajadah mengakui rasa takut gagal, itu urusan batin. Keduanya nyata. Keduanya saling terhubung. Dalam tradisi kita, ilmu pengetahuan tentang alam semesta tidak pernah dianggap sebagai lawan bagi keimanan. Keduanya merupakan ayat. Yang satu tertulis di atas lembaran kertas, yang satu terbentang di cakrawala dan denyut nadi kita sendiri. Memisahkan keduanya secara kaku hanya membuat dada kita semakin sesak.
Salah satu prinsip utama yang ditulis Wilber adalah anggapan bahwa setiap orang memegang sedikit kebenaran. Tentu saja tidak ada manusia yang memiliki seluruh kebenaran secara mutlak. Orang yang berbeda pandangan politik dengan kita, rekan kerja yang menyebalkan di kantor, atau bahkan orang yang tidak sejalan keyakinan dengan kita, masing-masing membawa sebagian kecil pengalaman nyata tentang dunia ini.
Mendengar hal ini di awal mungkin terasa tidak nyaman. Kita terbiasa ingin menang dalam perdebatan di media sosial atau membuktikan bahwa kelompok kitalah yang paling suci dan sempurna. Padahal, sikap keras kepala seperti itu sering kali lahir dari rasa takut. Kita takut kalau orang lain benar, maka posisi kita runtuh.
Nabi Muhammad mengajarkan bahwa kebijaksanaan adalah barang milik seorang mukmin yang tercecer; di mana pun ia menjumpainya, ia berhak memungutnya. Kita tidak perlu setuju dengan seluruh cara hidup orang lain untuk bisa belajar dari ketekunan mereka, ketertiban mereka menjaga waktu, atau ketelitian riset mereka. Mengakui bahwa orang lain memiliki secuil kebenaran tidak membuat iman kita luntur. Langkah itu justru membuat hati kita lebih lapang, lebih tenang saat mendengar pendapat yang berbeda, dan tidak gampang tersulut amarah ketika ada yang berbicara tidak sesuai selera kita.
Kyle Kowalski mencatat bahwa pendekatan integral melibatkan latihan pada tiga bagian diri: raga, pikiran, dan ruh. Praktiknya tidak serumit istilah teorinya. Wilber menyebutkan bahwa latihan ini harus hadir dalam diri sendiri, dalam hubungan dengan sesama manusia, dan dalam interaksi dengan alam sekitar.
Di kehidupan nyata, ini berarti kita berhenti memperlakukan tubuh kita seperti mesin sewaan. Kalau tubuhmu butuh tidur tujuh jam malam ini, tidurlah. Jangan ganti kebutuhan fisik itu dengan memaksakan diri membaca buku pengembangan diri sampai subuh sambil meminum kopi instan ketiga. Tubuh yang lapar dan kurang tidur tidak akan mampu menampung pikiran yang jernih, apalagi shalat yang khusyuk.
Setelah urusan fisik beres, beri makan akalmu dengan bacaan yang baik, bukan sekadar guliran video pendek yang memancing emosi setiap lima detik. Lalu, beri ruang untuk jiwamu bernapas. Luangkan lima menit saja setelah shalat fardhu untuk duduk tanpa menyentuh layar ponsel. Rasakan tarikan napasmu, ingat betapa kecilnya kita di hadapan Allah yang mengatur perputaran bumi, dan biarkan beban hari itu diletakkan sejenak. Ketika tubuh cukup istirahat, pikiran disaring dari racun informasi, dan ruh kembali terhubung dengan Penciptanya, hidup yang tadinya terasa tercecer pelan-pelan akan terasa utuh kembali.
Disadur dari www.sloww.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.