Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
27 September 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Kevin B Lee berdiri di depan gedung bioskop San Francisco, menatap kembali film Platoon yang pernah melukai masa kecilnya.
Tahun 1986, seorang anak laki-laki duduk di deretan kursi bioskop San Francisco bersama keluarganya. Lampu ruangan padam. Di layar lebar, film Platoon karya Oliver Stone mulai bergulir. Desing peluru, teriakan di hutan Vietnam, dan kekerasan yang bertubi-tubi membuat dadanya sesak. Pengalaman itu membekas lama. Di sekolah, film perang itu memicu olok-olok rasial dari teman-temannya. Di rumah, tayangan itu mengusik luka lama keluarga yang selama bertahun-tahun sengaja dipendam.
Puluhan tahun kemudian, anak itu, Kevin B Lee, sudah menjadi pembuat film. Dalam sebuah esai video untuk jurnal The Cine-Files yang dikurasi oleh Ariel Avissar dan Evelyn Kreutzer, Kevin kembali ke lokasi yang sama. Gedung bioskop itu sudah berganti fungsi. Kevin berdiri di trotoar dengan kamera sederhana. Dia tidak lagi membiarkan adegan-adegan brutal itu menggilas perasaannya. Dia membedah film itu, mengamati susunan gambarnya, lalu menyusun ulang bagaimana peristiwa masa lalu itu hadir di kepalanya.
Ada dua cara memandang luka lama yang tersimpan di kepala kita.
Cara pertama menempatkan kita tetap duduk di kursi bioskop yang gelap. Di sana, kita merasa kecil dan tak berdaya. Kita memutar ulang kejadian pahit dengan volume suara yang sama kerasnya seperti waktu pertama kali terjadi. Percakapan pedas lima tahun lalu, kegagalan memilih langkah hidup, atau tatapan merendahkan dari orang lain kita tonton berulang-ulang tanpa henti. Setiap kali ingatan itu muncul, dada berdegup kencang seolah kejadian buruk itu sedang menimpa kita sekarang juga.
Banyak orang hidup bertahun-tahun dengan cara pertama ini. Saya pun sering terjebak di posisi itu. Membenci diri sendiri karena tidak bisa membantah kata-kata orang lain di masa lalu adalah beban yang berat. Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun yang masih melihat masa lalunya dengan cara seperti ini, sebab rasa sakit memang nyata adanya.
Cara kedua adalah apa yang dilakukan Kevin di depan gedung tua itu. Dia melangkah keluar dari ruangan gelap. Dia menyalakan lampu, berdiri di tempat terbuka, lalu melihat gulungan pita film itu sebagai sebuah rekaman yang sudah selesai tayang.
Saat kita memakai cara pandang kedua, kita tidak menyangkal bahwa kejadian itu pernah melukai kita. Bedanya, kita sadar bahwa kita bukan lagi sosok lemah yang duduk kaku di kegelapan. Kita sudah dewasa. Kita punya jarak aman dari peristiwa itu. Rasa perihnya mungkin masih ada sisa, tetapi ia kehilangan kuasanya untuk mengendalikan napas kita.
Dalam sudut pandang keimanan, masa lalu yang pahit bukanlah penjara abadi. Semua rasa sakit, benturan nasib, dan perlakuan buruk orang lain adalah ketetapan yang sudah selesai perjalanannya di dunia nyata. Allah menetapkan waktu agar kita bisa berjalan maju, bukan agar kita terus-menerus meratapi bab yang sudah ditutup. Mengakui bahwa diri kita rapuh di hadapan takdir justru membuka pintu ketenangan yang selama ini tertutup rapat.
Kita tidak perlu pura-pura kuat dan menghapus semua ingatan buruk begitu saja. Usaha menghapus memori secara paksa biasanya gagal total. Yang bisa kita ubah posisinya adalah kursi tempat kita menonton. Selama ini kita duduk terlalu dekat dengan layar, membiarkan suaranya menenggelamkan pikiran kita sendiri.
Begitu kita mundur beberapa langkah, kita mulai bisa melihat bingkainya. Kita menyadari bahwa orang yang melukai kita dulu mungkin juga manusia yang sedang bingung dengan hidupnya sendiri. Kita melihat bahwa anak kecil yang ketakutan di bioskop itu sudah berhasil bertahan hidup sampai hari ini. Dia selamat.
Ketenangan batin tidak lahir dari hilangnya kenangan pahit. Ketenangan datang saat kita berhenti menonton ingatan itu dengan cara pandang yang sama. Gedung bioskopnya mungkin masih berdiri di sana, tetapi pertunjukannya sudah bubar sejak lama.
Disadur dari aeon.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.