Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Dua batang pohon di depan pagar kontrakan

29 September 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Dua batang pohon di depan pagar kontrakan

Di Inggris, program resep alam mencatat angka pemulihan 64 persen bagi pasien yang diminta rutin keluar ruangan.

Pukul lima sore kemarin, saya berdiri di depan pagar kontrakan sambil menatap pohon mangga tetangga yang daunnya rontok ke selokan. Kaki saya masih memakai sandal jepit karet yang sudah menipis. Kepala masih penuh oleh deretan pesan kerjaan yang belum sempat saya bereskan sejak pagi. Saya cuma berdiri diam di sana sekitar sepuluh menit, mendengarkan desir angin sore dan suara gesekan daun kering di aspal.

Anehnya, sesak di dada pelan-pelan mereda.

Hal sepele seperti melihat pohon atau menginjak rumput basah sering dianggap pelarian malas. Kita merasa sedang membuang waktu kalau tidak terus bekerja di depan monitor. Namun, kecenderungan tubuh mencari tanaman atau udara terbuka ternyata memiliki catatan panjang.

Dorongan untuk keluar

Pada tahun 1982, kepala kementerian pertanian dan kehutanan Jepang bernama Tomohide Akiyama mulai mengampanyekan kegiatan yang disebut shinrin-yoku. Saat itu Jepang sedang mengalami lonjakan industri yang luar biasa padat, dan orang-orang mulai kelelahan akibat jam kerja yang panjang di dalam pabrik dan kantor beton. Akiyama mendorong masyarakat untuk masuk ke hutan dan menghirup aroma pepohonan demi mengendurkan saraf.

Tahun 2005, seorang peneliti bernama Qing Li menguji efek berjalan di bawah naungan pohon. Dia menemukan bahwa beberapa hari berjalan santai di kawasan hijau memicu kenaikan sel kekebalan alami dalam tubuh hingga separuh lebih banyak dibanding biasanya. Senyawa fitonsida yang dilepaskan tanaman untuk melindungi diri dari jamur diduga memberi pengaruh langsung ke tubuh manusia saat terhirup.

Banyak negara mulai menaruh perhatian pada hal tersebut. Di Finlandia, peneliti menyarankan warganya menghabiskan waktu sekitar lima jam dalam sebulan di area terbuka sebagai langkah pencegahan stres. Korea Selatan merancang program khusus di hutan untuk membantu petugas pemadam kebakaran yang mengalami trauma berat. Di Kanada, dokter bahkan bisa menulis resep resmi agar pasien meluangkan waktu di alam terbuka.

Inggris juga mengambil langkah serupa sejak tahun 2019 lewat program bernama Dose of Nature. Dari seribu lima ratus pasien pertama yang dirujuk ke ruang terbuka oleh dokter layanan kesehatan mereka, angka perbaikan kondisinya mencapai 64 persen. Angka itu melewati tingkat pemulihan terapi bicara biasa yang berada pada kisaran 50 persen.

Kembali ke tanah asal

Catatan-catatan medis itu sebetulnya hanya membuktikan sesuatu yang sudah lama kita ketahui di dalam hati. Manusia dibentuk dari tanah, dan kita terlalu lama mengurung diri di antara dinding semen, layar gawai, serta pendingin ruangan.

Ketika tubuh dan pikiran dipaksa terus memproses angka, target, dan obrolan tanpa henti, saraf kita bekerja dalam mode siaga penuh. Tekanan darah naik, detak jantung bertambah cepat, dan pikiran mudah tersulut rasa cemas. Duduk beberapa saat di dekat tanaman hijau atau mendengarkan gemercik air menurunkan hormon stres ke batas aman.

Dalam tradisi muslim, kita mengenal tafakur. Berdiam diri sejenak memperhatikan ciptaan Allah sering dianggap butuh waktu luang berjam-jam di tempat sunyi. Banyak orang menundanya karena merasa harus pergi jauh ke puncak gunung atau pantai terpencil. Kenyataan harian kita tidak selalu memberi ruang untuk liburan seperti itu.

Tafakur bisa dimulai dari hal yang paling dekat. Memperhatikan semut yang berjalan di sela pot bunga depan teras atau membiarkan telapak kaki menyentuh tanah basah setelah hujan sore hari sudah cukup untuk mengingatkan posisi kita. Bumi ini dihamparkan sebagai tempat bernaung yang ramah, bukan arena perlombaan yang harus ditaklukkan setiap detik.

Kadang kita merasa gelisah bukan karena kurang berusaha, melainkan karena kita memutus diri dari ritme alamiah yang sudah Allah atur. Saat menatap dahan pohon yang bergoyang pelan tertiup angin, ada rasa pasrah yang ikut hadir. Pohon itu tidak terburu-buru tumbuh, tidak memaksa berbuah di luar musimnya, dan tetap berdiri tegak menerima panas maupun dingin.

Mengambil jeda tanpa rasa bersalah

Kalau sore ini kepalamu terasa berat, matikan layar ponselmu sejenak. Kamu tidak perlu merencanakan perjalanan mahal ke hutan pinus nun jauh di sana.

Cukup buka pintu rumah, melangkah ke halaman, atau cari sudut jalan terdekat yang memiliki sedikit pepohonan rindang. Berdirilah di sana beberapa menit. Rasakan hembusan angin di kulit wajahmu, dengarkan burung gereja yang berkicau sebelum gelap, dan biarkan napasmu kembali teratur tanpa dipaksa.

Bumi tempat kita berpijak diciptakan dengan tenang. Kita yang terlalu sering lupa bagaimana caranya ikut tenang bersama bumi itu.

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.