Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
24 September 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Saya menatap draf balasan ketus yang sudah tiga bulan tersimpan di ponsel, lalu teringat bagaimana Umar bin Khattab menahan pukulannya di hadapan Uyainah.
Topik: Iman & Spiritualitas · Burnout & Dunia Kerja
Jam satu malam lewat sedikit, dan layar ponsel saya masih menyala di atas kasur. Ada satu nama di daftar kontak yang pesannya belum pernah saya balas sejak beberapa bulan lalu. Setiap kali namanya muncul di layar, dada saya rasanya masih sedikit sempit. Saya merasa direndahkan waktu itu, dan kepala saya selalu memutar ulang kalimat ketus yang seharusnya saya lontarkan untuk membalasnya.
Dendam itu melelahkan.
Rasanya aneh membiarkan orang yang menyakiti kita berjalan santai tanpa rasa bersalah, sementara kita menanggung dongkolnya berhari-hari. Sering kali saat naik motor di tengah macet atau sedang melamun di kamar mandi, pikiran saya menyusun skenario pertengkaran fiktif. Saya membayangkan membalas omongannya dengan kalimat sarkas yang membuatnya terdiam. Kita tumbuh dengan dorongan naluriah untuk membela diri. Kalau disenggol, senggol balik agar tidak dianggap gampang ditindas.
Dulu saya mengira orang yang gampang memaafkan adalah orang yang lemah. Saya kira mereka hanya tidak punya nyali untuk menegakkan batas harga diri.
Kemarin saya membaca riwayat tentang Umar bin Khattab di kitab Sahih Bukhari nomor 4642. Semua orang yang membaca sejarah tahu Umar bukan sosok yang ragu-ragu. Suatu hari, seorang pria bernama Uyainah datang menemuinya di Madinah. Tanpa basa-basi, Uyainah mencaci Umar, menuduhnya tidak adil dan tidak memberi hak kepada rakyat. Umar marah besar. Tangannya bahkan sudah hampir melayang untuk memukul Uyainah.
Tidak ada yang bisa menyalahkan Umar jika waktu itu dia benar-benar melayangkan pukulan. Umar adalah pemimpin tertinggi saat itu, punya kekuatan fisik yang disegani, dan orang itu jelas memprovokasinya di ruang publik.
Namun seorang sahabat bernama Al-Hurr yang duduk di dekat majelis itu bersuara. Al-Hurr mengingatkan Umar pada satu ayat, Surah Al-A'raf ayat 199. Ayat itu memuat panduan yang jelas: jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. Al-Hurr berkata kepada Umar bahwa Uyainah adalah bagian dari orang-orang bodoh tersebut.
Mendengar ayat itu, Umar berhenti seketika. Tangannya turun. Dia menahan diri sepenuhnya.
Saya membaca kisah itu berulang kali sambil memandangi langit-langit kamar. Menghentikan tangan sendiri saat amarah sedang berada di puncaknya membutuhkan tenaga batin yang amat besar. Menyerang orang lain saat kita punya kuasa itu mudah sekali, tetapi menahan diri saat kita mampu menghancurkannya adalah hal lain. Abdullah bin Zubair pernah mencatat bahwa ayat di Surah Al-A'raf itu memang diturunkan khusus berkenaan dengan akhlak manusia dalam bergaul sehari-hari.
Ayat tersebut membagi respons kita menjadi tiga tahapan yang sangat praktis.
Bagian pertamanya adalah memberi maaf. Melepaskan keinginan untuk membalas perlakuan orang lain. Ini bagian yang paling berat di awal, karena gengsi kita menuntut pelunasan rasa sakit. Kita merasa orang itu harus merasakan hal yang sama pedihnya dengan apa yang kita rasakan.
Bagian keduanya adalah mengajak kepada kebaikan. Jangan biarkan seluruh sisa energi kita habis tersedot untuk memikirkan keburukan satu orang. Masih ada pekerjaan lain yang perlu diselesaikan. Masih ada keluarga yang butuh senyum kita di rumah. Ada teman-teman baik yang layak diajak bicara hangat, ketimbang menghabiskan malam membedah niat buruk orang lain yang mungkin sudah tidur nyenyak di kasurnya.
Lalu bagian ketiganya adalah berpaling dari orang-orang bodoh. Dalam kondisi tertentu, diam dan membuang muka bukanlah tanda kalah. Dalam Surah Al-Furqan ayat 63, disebutkan karakter orang-orang yang memilih menjawab dengan ucapan damai saat orang-orang jahil menyapa mereka dengan kata-kata buruk. Mereka tidak ikut terjun ke dalam kubangan lumpur yang sama.
Ada orang yang memang hanya mencari keributan. Bila kita jelaskan dengan argumen logis, mereka mencari celah baru untuk menyerang. Bila kita diam, mereka memancing. Meladeni orang seperti itu hanya membuat kita kotor sendiri. Berpaling adalah cara melindungi kewarasan diri sendiri.
Di Surah An-Nur ayat 22, Allah mengajukan satu pertanyaan yang membuat saya terdiam cukup lama: tidakkah kalian ingin agar Allah mengampuni kalian? Pertanyaan itu menusuk tepat ke tempat yang paling rapuh. Saya sendiri bukan orang suci. Saya sering berbuat khilaf, menunda ibadah, membuat orang tua kecewa, dan setiap malam saya menengadahkan tangan memohon agar Tuhan menghapus semua dosa saya tanpa sisa. Namun anehnya, ketika ada orang lain yang berbuat salah kepada saya, hitungan saya mendadak sangat kaku dan tanpa belas kasihan.
Rasulullah pernah bersabda dalam riwayat Muslim bahwa Allah tidak akan menambah bagi hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dulu saya skeptis terhadap kalimat itu. Di dunia nyata, orang yang terus mengalah sering kali disepelekan di kantor atau lingkungan pertemanan.
Sekarang sudut pandang saya agak bergeser. Kemuliaan yang dimaksud tidak ada hubungannya dengan pengakuan orang lain. Kemuliaan itu ada pada kemampuan kita untuk tidak membiarkan racun kemarahan merusak isi kepala kita sendiri. Kita berhenti menjadi tawanan dari masa lalu yang pahit.
Malam ini, saya meletakkan ponsel di atas meja kerja, tepat di sebelah gelas teh yang sudah dingin. Layar ponsel akhirnya padam. Pesan lama itu masih tersimpan di kotak masuk, tetapi saya menekan tombol hapus pada draf balasan pedas yang tersimpan selama tiga bulan terakhir. Saya belum tahu apakah besok saya bisa menyapa orang itu dengan ramah kalau berpapasan di lorong. Mungkin belum. Tapi setidaknya malam ini, saya ingin tidur dengan dada yang sedikit lebih lapang.
Disadur dari muslim.or.id
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.