Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Membaca kembali kerumitan tentang tambahan dalam pinjaman

27 September 2026 · 2 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Membaca kembali kerumitan tentang tambahan dalam pinjaman

Umar bin Khattab pernah berharap penjelasan soal riba lebih gamblang. Jika beliau saja berhati-hati, apalagi kita yang hanya sedang duduk menatap layar ponsel.

Jam dua pagi, layar ponsel di tangan saya masih menyala terang. Saya sedang membaca catatan lama tentang apa yang disebut riba. Di pikiran saya, hal ini sering kali terasa seperti labirin yang tidak ada ujungnya. Banyak orang berdebat, dari masa ke masa, tentang mana yang benar-benar dilarang dan mana yang sekadar perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Ketika Umar pun merasa bimbang

Ada satu riwayat dari Umar bin Khattab yang membuat saya terdiam. Beliau pernah berkata bahwa ada tiga perkara yang beliau harapkan Rasulullah jelaskan lebih detail sebelum beliau wafat. Salah satunya adalah soal riba. Membaca ini membuat saya merasa sedikit lebih tenang. Ternyata, kebingungan ini sudah ada sejak lama. Jika seorang tokoh seperti Umar bin Khattab saja merasa urusan ini butuh kejelasan yang lebih mendalam, tentu wajar jika kita di masa sekarang sering merasa ragu saat berurusan dengan sistem keuangan yang ada.

Sebagian orang memegang pendapat yang cukup kaku. Mereka melihat segala bentuk tambahan dalam pinjaman sebagai sesuatu yang harus dihindari. Di sisi lain, ada juga yang mencoba melihatnya dengan kacamata berbeda. Mereka membedakan antara tambahan yang bersifat menindas dengan tambahan yang dianggap sebagai biaya operasional atau nilai waktu dari uang itu sendiri. Perdebatan ini tidak pernah benar-benar selesai karena setiap zaman punya caranya sendiri dalam memandang uang.

Mengapa ini tidak pernah terasa sederhana

Kesulitan utamanya terletak pada bagaimana kita memaknai istilah tersebut di dunia modern. Di zaman dulu, riba mungkin terlihat jelas dalam transaksi barter atau pinjaman uang tunai yang bunganya berlipat ganda saat si peminjam tidak mampu membayar. Sekarang, bentuknya jauh lebih halus. Uang tidak lagi hanya menjadi alat tukar, tapi juga komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Saya sering memikirkan teman-teman yang sedang bergelut dengan cicilan rumah atau biaya pendidikan. Mereka tidak berniat melakukan hal-hal yang tidak baik. Mereka hanya mencoba bertahan hidup di tengah ekonomi yang serba menuntut. Bagi mereka, mencari jawaban yang mutlak tentang benar atau salah terasa seperti beban tambahan. Saya melihat ini bukan hanya soal angka di atas kertas, melainkan soal bagaimana kita menjaga hati agar tetap tenang saat memenuhi kebutuhan hidup.

Ada perbedaan cara pandang yang cukup tajam antara masa lalu dan masa sekarang. Dahulu, pinjaman sering kali bersifat personal. Kita meminjam kepada tetangga atau kerabat. Jika ada tambahan, rasanya akan sangat terasa ketidakadilannya bagi si peminjam yang sedang kesulitan. Namun, saat ini kita berhadapan dengan lembaga yang anonim. Rasanya menjadi berbeda ketika kita berurusan dengan sistem yang tidak memiliki wajah.

Perdebatan tentang riba memang rumit. Mungkin memang tidak ada jawaban yang bisa memuaskan semua pihak dengan cepat. Bagi saya, kehati-hatian adalah jalan yang paling masuk akal saat ini. Jika kita merasa ada sesuatu yang janggal dalam sebuah transaksi, mungkin itu adalah sinyal dari hati untuk lebih teliti. Tidak perlu terburu-buru menghakimi orang lain yang memiliki pandangan berbeda. Fokuslah pada apa yang mampu kita kendalikan sendiri hari ini. Mungkin esok pagi, kita bisa belajar lebih banyak lagi tanpa harus merasa terbebani oleh ketidakpastian ini.

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.