Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
4 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Saat seseorang menyakiti kita, rasanya ingin sekali membalas. Tapi, bukankah menggenggam dendam itu seperti memegang bara api yang justru membakar tangan kita sendiri?
Jam sebelas malam, dan saya masih menatap layar ponsel yang meredup. Di ruang obrolan, ada satu pesan terakhir dari seseorang yang beberapa hari lalu melontarkan kata-kata tajam. Saya membacanya lagi. Rasanya, ingin sekali mengetik balasan yang sama pedasnya. Rasanya ingin sekali dia tahu bahwa saya terluka, bahwa tindakannya tidak pantas, dan bahwa dia tidak bisa memperlakukan saya begitu saja. Pikiran itu berputar-putar. Semakin saya memikirkannya, semakin sesak dada ini.
Ada satu perumpamaan yang mungkin pernah kamu dengar, atau mungkin justru baru kamu rasakan malam ini. Menggenggam kemarahan karena disakiti itu mirip seperti memegang bara api. Kita terus menggenggamnya, berharap bara itu akan membakar orang yang telah menyakiti kita. Kita menanti momen yang tepat untuk melemparkannya kembali. Namun, yang terjadi justru tangan kita sendiri yang melepuh. Kulit kita terkelupas. Luka di tangan kita malah bertambah parah karena kita sendiri yang enggan melepaskan bara tersebut. Orang yang menyakiti kita mungkin sudah tidur nyenyak di rumahnya, sementara kita masih terjaga, membiarkan bara itu perlahan memakan kedamaian jiwa kita sendiri.
Islam menawarkan cara yang jauh lebih sederhana untuk urusan hati yang sedang panas ini. Kita sering terjebak dalam anggapan bahwa memaafkan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, atau kita kalah dalam sebuah pertarungan harga diri. Padahal, memaafkan adalah tindakan melepaskan beban. Ketika kita memilih untuk melepaskan, kita sebenarnya sedang mengambil kembali kendali atas ketenangan diri sendiri.
Bayangkan, ada seorang pria bernama Uyainah yang datang ke majelis Umar bin Khattab. Tanpa tedeng aling-aling, dia melontarkan tuduhan kejam di depan banyak orang. Umar, seorang pemimpin yang dikenal tegas, tentu saja merasa tersinggung. Urat lehernya mungkin menegang. Tangannya mungkin sudah siap untuk memberikan pelajaran. Itu manusiawi. Namun, saat itu seorang sahabat bernama Al Hurr mendekat dan mengingatkan Umar tentang ayat dalam surat Al-A’raf. Dia mengingatkan Umar untuk bersikap pemaaf, mengajak pada kebaikan, dan berpaling dari mereka yang memilih untuk bersikap bodoh. Saat itu juga, Umar menurunkan tangannya. Dia berhenti. Dia tidak membalas. Kemarahan yang tadi hampir meledak itu sirna. Umar tidak kehilangan wibawanya hanya karena dia memilih diam. Sebaliknya, dia justru memenangkan ketenangan jiwanya sendiri.
Sering kali, masalah utama kita bukan pada apa yang orang lain lakukan, melainkan pada bagaimana kita membiarkan tindakan mereka berputar terus di kepala kita berjam-jam. Kita terus memutar ulang percakapan itu. Kita membayangkan skenario balasan yang sempurna. Kita menaruh orang itu di kursi utama pikiran kita, seolah-olah dia adalah pusat dunia kita. Padahal, dia tidak pantas mendapatkan ruang sebesar itu di pikiran kita.
Berpaling dari mereka yang jahil bukan berarti kita lemah. Itu adalah tanda bahwa kita punya prioritas yang lebih besar. Kita punya waktu, energi, dan kasih sayang yang lebih berharga untuk diberikan kepada diri sendiri atau kepada hal-hal yang benar-benar membangun hidup kita. Mengapa harus menghabiskan malam dengan memikirkan mereka yang bahkan mungkin tidak ingat sudah melukai kita?
Ada kalanya, pilihan terbaik memang bukan mendebat atau memberikan penjelasan panjang lebar. Ketika seseorang memang berniat untuk terus mencari kesalahan atau memancing keributan, penjelasan apa pun yang kita berikan tidak akan pernah sampai. Mereka tidak sedang mencari kebenaran; mereka hanya sedang mencari lawan untuk memuaskan ego mereka sendiri. Jika kita meladeninya, kita hanya akan terjebak dalam drama yang tidak ada ujungnya. Memberikan jeda, menarik diri, dan menutup pintu percakapan itu jauh lebih elegan daripada harus terlibat dalam debat yang hanya menguras emosi.
Kamu tidak perlu membuktikan kepada siapa pun bahwa kamu berada di pihak yang benar. Kebenaran tidak selalu butuh saksi. Kadang, kebenaran cukup dirasakan di dalam hati melalui ketenangan yang kita jaga. Saat kita melepaskan dendam, kita memberikan ruang bagi Allah untuk menenangkan hati kita. Kita mengakui bahwa kita pun manusia yang penuh salah, yang juga sangat berharap Allah menutup aib kita dan memaafkan dosa-dosa kita. Bagaimana mungkin kita bisa meminta ampunan-Nya jika kita sendiri sulit sekali mengampuni kesalahan sesama manusia?
Kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa keras dia bisa memukul balik saat disakiti. Kemuliaan justru terlihat dari seberapa sabar dia bisa menahan diri saat dia sebenarnya mampu untuk membalas. Ingatlah, melepaskan bara api di tangan itu akan menyakitkan pada awalnya karena kita sudah terlanjur menggenggamnya begitu lama. Namun, setelah bara itu jatuh ke tanah, rasa sakit di tanganmu akan perlahan hilang. Kamu akan bisa tidur lebih tenang. Kamu bisa kembali bernapas dengan lega.
Besok pagi saat kamu terbangun, pesan yang tadi malam membuatmu marah itu tidak akan lagi terasa seperti duri yang menusuk. Ia akan menjadi sekadar teks di layar ponsel yang tidak perlu ditanggapi dengan amarah. Kamu bisa membacanya, menghembuskan napas, lalu meletakkan ponselmu dan memulai hari dengan lebih ringan. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memegangi bara api milik orang lain.
Disadur dari muslim.or.id
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.