Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
2 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Pernah merasa lelah karena terus-menerus mengejar kesenangan, atau justru tersiksa karena terlalu keras pada diri sendiri? Mungkin kita cuma sedang lupa cara menyeimbangkan ritme hidup.
Topik: Burnout & Dunia Kerja · Kecemasan & Overthinking
Jam dua dini hari, dan saya masih terjaga. Ponsel di tangan terasa panas, layarnya terus menyajikan guliran gambar orang-orang yang tampak sedang menikmati hidup dengan begitu sempurna. Di satu sisi, ada tawaran diskon belanja besar-besaran yang menggoda mata. Di sisi lain, ada deretan postingan tentang pentingnya hidup minimalis dan disiplin diri yang ketat. Keduanya menuntut perhatian saya, dan entah mengapa, keduanya justru membuat kepala saya terasa berdenyut. Saya merasa terjepit di antara keinginan untuk memanjakan diri dan dorongan untuk menekan segala rasa agar terlihat lebih tertata.
Kita sering berada di titik ini, bukan? Merasa lelah dengan tumpukan barang yang kita beli, tapi merasa bersalah saat mencoba hidup sederhana. Kita sebenarnya hanya sedang berupaya mencari cara agar tidak karam dalam keinginan yang tidak pernah ada habisnya. Sejarah mencatat banyak tokoh besar yang juga pernah mengalami kegelisahan serupa. Siddhartha Gautama, misalnya, pernah hidup dalam kemewahan istana yang berlimpah. Namun, ia justru merasa hampa karena tahu semua kenyamanan itu tidak akan bertahan lama. Ia lalu mencoba cara yang berseberangan: meninggalkan segala kenyamanan, hidup melarat, bahkan menyiksa diri sendiri demi mencapai kedamaian batin. Ternyata, keduanya tidak memberikan jawaban yang ia cari. Hidup mewah tidak menjamin ketenangan, dan hidup dalam penyiksaan diri justru melemahkan fisik serta pikiran.
Akhirnya, muncul satu gagasan tentang jalan tengah. Ia bukan tentang memilih antara kemewahan atau kemiskinan, melainkan bagaimana kita bisa hidup tanpa menjadi budak dari keduanya. Kita tidak harus membuang semua yang kita miliki, pun tidak harus terus-menerus menuruti hasrat akan hal-hal baru. Mungkin, kunci ketenangan yang kita cari selama ini ada pada kesederhanaan yang disengaja.
Mari melihat ke keseharian kita. Berapa kali kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya karena merasa suntuk di kantor atau merasa tidak berharga setelah melihat hidup orang lain di media sosial? Atau, berapa kali kita memaksakan diri bekerja hingga larut malam demi mengejar target yang tidak pernah cukup? Kita sering terjebak dalam siklus yang melelahkan. Jika kita jujur pada diri sendiri, sering kali kelelahan itu bukan datang dari pekerjaan, melainkan dari upaya kita untuk terus merasa 'cukup' melalui barang atau pencapaian. Kita haus, tapi kita malah meminum air asin. Semakin banyak yang kita teguk, semakin kita merasa kering.
Dalam tradisi keagamaan, konsep zuhud atau hidup bersahaja bukan tentang mengharamkan dunia. Ia adalah soal meletakkan dunia di tangan, bukan di dalam hati. Ketika sesuatu ada di tangan, kita bisa menggunakannya saat dibutuhkan dan melepaskannya dengan mudah saat ia harus pergi. Namun, ketika dunia sudah masuk ke dalam hati, kehilangan sedikit saja benda kesayangan bisa membuat kita merasa hancur. Ini adalah latihan untuk melatih kejernihan pikiran. Saat kita mulai belajar membatasi keinginan, kita perlahan mendapatkan kembali ruang di kepala kita yang selama ini penuh sesak dengan ambisi dan kecemasan.
Cobalah perhatikan meja kerja atau kamar tidur kita saat ini. Mungkin ada terlalu banyak benda yang tidak pernah kita sentuh selama berbulan-bulan. Benda-benda itu bukan sekadar tumpukan plastik atau kain; mereka adalah penanda dari keinginan kita yang tidak terarah. Setiap barang yang kita miliki menuntut perhatian. Kita perlu membersihkannya, menyimpannya, dan memikirkannya. Semakin sedikit yang kita miliki, semakin sedikit distraksi yang mengganggu fokus kita. Ini bukan tentang menjadi miskin atau tidak punya apa-apa. Ini adalah tentang memiliki kontrol penuh atas apa yang masuk ke dalam hidup kita.
Lalu, bagaimana dengan kita yang sering merasa cemas saat malam datang? Mungkin salah satu caranya adalah dengan mulai membatasi paparan pada hal-hal yang tidak memberikan kedamaian. Tidak perlu menghapus semua akun media sosial, cukup pilih apa yang kita izinkan masuk ke ruang pikiran kita. Kadang, kita hanya perlu diam tanpa harus melakukan apa-apa. Duduk di kursi tanpa ponsel, melihat ke luar jendela, atau sekadar memperhatikan napas sendiri bisa menjadi latihan yang sangat berharga. Kita tidak perlu menjadi pertapa di puncak gunung untuk bisa menemukan ketenangan. Cukup dengan mengurangi kebisingan di sekitar kita, perlahan-lahan suara hati yang selama ini teredam akan mulai terdengar lagi.
Sering kali, kita merasa harus menjadi hebat agar dianggap layak. Kita takut terlihat tertinggal jika tidak mengikuti tren, atau takut terlihat lemah jika kita tidak bekerja sampai jatuh sakit. Padahal, tubuh dan jiwa kita memiliki batasan yang nyata. Mengakui bahwa kita tidak bisa memiliki segalanya adalah bentuk keberanian yang besar. Saat kita melepaskan tuntutan untuk menjadi sempurna, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas dengan lebih lega. Kita tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa tenang.
Mungkin esok hari, saat kita terbangun, kita bisa mulai dengan satu hal kecil. Mungkin dengan tidak langsung meraih ponsel setelah membuka mata. Atau dengan memilih tidak membeli satu barang yang sebenarnya tidak kita perlukan minggu ini. Langkah-langkah kecil ini terasa sepele, namun dampaknya bisa sangat besar bagi kondisi hati kita. Hidup ini memang tidak selalu mudah, tapi mungkin ia akan terasa lebih ringan jika kita berhenti menambah beban yang sebenarnya tidak perlu kita bawa. Cukupkan diri dengan apa yang ada, nikmati waktu yang berjalan, dan percayalah bahwa ketenangan itu lebih dekat daripada yang kita bayangkan. Ia tidak ada di toko belanja, tidak ada di kolom komentar, ia ada di dalam kesederhanaan yang kita ciptakan sendiri setiap harinya.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.