Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
1 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Yusuke Fujitani menemukan bahwa tubuh manusia yang rumit tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Dari sana, ia mulai mencari siapa yang sebenarnya menyusun detail kecil dalam hidup kita.
Jam sepuluh malam, saya sering menatap layar ponsel sambil menunggu rasa kantuk datang. Di saat hening seperti itu, pikiran biasanya melayang pada hal-hal yang tidak sempat dipikirkan di siang hari. Ada orang yang sibuk menghitung cicilan, ada yang memikirkan kesalahan yang baru saja dilakukan, dan ada pula yang bertanya-tanya tentang arah hidupnya sendiri.
Yusuke Fujitani pernah berada di posisi itu juga. Saat masih duduk di bangku kuliah jurusan keperawatan di Jepang, ia mempelajari anatomi dan cara kerja organ manusia. Ia menghabiskan hari-harinya membedah seluk-beluk tubuh manusia. Ada satu detail yang membuatnya terdiam. Manusia memiliki empat puluh enam kromosom, dan jika satu saja angka itu bergeser, dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan seseorang.
Kehamilan berlangsung selama sembilan bulan. Bukan enam, bukan dua belas. Angka itu menetap dengan presisi yang sulit dijelaskan oleh logika kebetulan. Yusuke melihat semua itu dan merasa ada rancangan yang sengaja dibuat. Jika kacamata yang kita pakai saja membutuhkan perancang, apakah mungkin tubuh yang sedemikian rumit ini lahir tanpa ada yang mengaturnya?
Dia sadar ada hukum yang tidak tertulis namun nyata bekerja di balik denyut nadi manusia. Sejak saat itu, dia mulai membaca buku dan mencari jawaban tentang siapa yang membuat aturan tersebut.
Ketertarikannya membawa Yusuke mengenal Islam. Dia membandingkan banyak keyakinan, namun hatinya tertambat pada satu hal. Dia melihat bahwa dalam ajaran yang dipelajarinya, penyembahannya tertuju pada satu Tuhan tanpa perantara benda buatan tangan. Dia tidak perlu bersimpuh di depan patung yang bisa rusak atau berubah. Baginya, sujud kepada Tuhan yang tidak terlihat adalah tindakan yang sangat masuk akal.
Pada Juni 2014, Yusuke datang ke Masjid Kobe. Dia datang sendirian tanpa ada janji temu sebelumnya. Dia tidak mengenal siapa pun di dalam sana. Dia hanya berjalan masuk dan menyampaikan keinginannya untuk memeluk keyakinan baru. Hari itu menjadi titik awal perjalanannya menjadi seorang muslim.
Setelah memeluk Islam, Yusuke tidak lantas berhenti pada tataran teori saja. Dia ingin merasakan langsung bagaimana keyakinan itu hidup dalam keseharian. Dia pergi ke Pakistan selama lima bulan untuk belajar secara langsung di lapangan. Dia hidup berpindah-pindah antar masjid bersama jamaah tabligh.
Pengalaman itu tidak selalu mudah. Dia harus berhadapan dengan keracunan makanan hingga membuatnya harus diinfus sebanyak tiga kali. Dia mengalami demam tinggi dan tubuh yang lemas. Namun, dia tidak pernah terpikir untuk pulang. Di sana, dia menemukan hal yang tidak tersedia di dalam buku teks atau bangku kuliah.
Dia belajar bahwa Islam menuntut pembuktian nyata. Tindakan itu lebih berharga daripada sekadar hafalan ayat. Dia belajar untuk berserah diri pada aturan Tuhan yang tetap. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, ketaatan pada aturan Tuhan membuatnya merasa lebih tenang. Sekarang, Yusuke dikenal sebagai imam Jepang pertama di Masjid Kobe, sebuah tempat yang juga menjadi saksi perubahan besar dalam hidupnya.
Kadang kita merasa lelah karena ingin mengatur segala hal dalam hidup kita sendiri. Padahal, ada bagian-bagian yang memang bukan kendali kita. Mungkin, ketenangan itu justru datang ketika kita berhenti memaksakan kehendak dan mulai menerima bahwa ada rancangan yang lebih besar di balik setiap helaan napas kita.
Disadur dari muslimmatters.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.