Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Menemukan Kedamaian dalam Syukur: Lebih dari Sekadar Kata Terima Kasih

24 September 2026 · 4 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Menemukan Kedamaian dalam Syukur: Lebih dari Sekadar Kata Terima Kasih

Sering kali kita merasa hampa karena sibuk menatap apa yang belum ada di tangan. Padahal, mensyukuri segelas air putih di pagi hari atau atap yang tidak bocor bisa menjadi langkah awal untuk menjemput ketenangan.

Topik: Kedamaian & Ketenangan Hati · Syukur & Kebahagiaan · Burnout & Dunia Kerja

Pernah ada waktu di mana setiap langkah terasa berat. Rasanya seperti sedang lari maraton di atas treadmill yang tidak berhenti, padahal tenaga sudah habis. Mungkin semalam kamu terjaga sampai pukul dua pagi hanya karena memikirkan cicilan yang belum lunas atau pesan WhatsApp dari atasan yang memicu cemas. Pikiran kita cenderung sibuk menatap apa yang belum ada, dan tanpa sadar, mata kita jadi tidak peka terhadap hal-hal yang sebenarnya sedang menemani saat ini.

Membuka jendela yang tertutup

Banyak orang mengira syukur itu hanya soal ritual lisan. Kalau dapat kabar baik, kita bilang terima kasih. Kalau keadaan sedang buntu, kita diam saja. Al-Raghib al-Isfahani pernah menjelaskan bahwa syukur itu sebenarnya berasal dari kata yang bermakna membuka jendela yang tertutup. Bayangkan sebuah kamar yang jendelanya tidak pernah dibuka selama berbulan-bulan. Debu menumpuk, udara terasa pengap. Saat jendela itu dibuka, kamu baru sadar ada matahari di luar. Syukur bekerja persis seperti itu. Ini adalah tindakan sadar untuk melihat apa yang sebenarnya sudah ada di depan mata.

Kita cenderung terjebak dalam kebiasaan menutup diri. Kita lupa bahwa sehatnya badan hari ini, atau sekadar bisa minum segelas air putih yang jernih di pagi hari, adalah hal-hal yang sering dianggap sepele sampai mereka benar-benar hilang. Syukur adalah tentang mengakui hal-hal kecil tersebut secara jujur.

Cara nabi menata hati

Jika bicara soal beban hidup, Rasulullah SAW sudah melewati apa pun yang pernah kita alami. Beliau memiliki tanggung jawab untuk memimpin umat dan menghadapi tekanan yang besar. Aisyah RA pernah mendapati beliau sedang beribadah di malam hari hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau memaksakan diri seperti itu padahal sudah dijamin segalanya, beliau menjawab singkat bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Ini menarik karena syukur di sini tidak membuat beliau diam atau pasif. Syukur menjadi tenaga untuk terus melangkah.

Bagi Nabi, syukur adalah respon. Saat mendapat kabar yang menyenangkan, beliau memuji Tuhan. Saat menghadapi masa sulit, beliau pun tetap memuji Tuhan. Ini bukan berarti beliau tidak merasa sedih atau lelah. Manusiawi kalau kita merasa lelah setelah bekerja seharian, atau merasa tidak adil saat rencana kita gagal total. Syukur menjadi cara kita menata hati agar tidak hancur saat kenyataan tidak sesuai dengan keinginan.

Tenang di tengah kekacauan

Ada efek nyata yang terjadi di kepala saat kita mencoba bersyukur di tengah kekacauan. Otak kita punya kecenderungan untuk terjebak dalam mode bertahan hidup, yang membuat kita selalu cemas. Dengan mencoba melihat apa yang sudah dimiliki, kita memaksa otak untuk sedikit tenang. Kita mulai menyadari bahwa hidup bukan soal memenangkan perlombaan dengan orang lain, melainkan soal menyadari porsi yang sudah diberikan.

Saya sering melihat teman yang merasa gagal hanya karena melihat pencapaian orang lain di media sosial. Padahal, dia punya kesehatan yang baik, keluarga yang utuh, dan pekerjaan yang masih bisa memberi makan. Perbandingan itu seperti racun yang pelan-pelan mematikan rasa syukur kita. Ketika kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, kita sedang merampas kedamaian kita sendiri. Menyadari bahwa setiap orang punya takaran masing-masing adalah jalan untuk merasa cukup.

Menanam syukur dalam keseharian

Kalau syukur terasa sulit dilakukan, mulailah dari yang benar-benar kecil. Jangan memaksakan diri untuk merasa bahagia dalam situasi yang menyakitkan. Cukup cari satu hal saja yang bisa kamu syukuri hari ini. Mungkin aroma kopi yang diseduh tadi pagi, atau fakta bahwa atap rumah tidak bocor saat hujan deras turun semalam. Hal-hal konkret seperti ini lebih membantu daripada kata-kata motivasi yang muluk.

Ingatlah untuk menghargai orang lain. Nabi pernah mengatakan bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, tidak benar-benar bersyukur kepada Tuhan. Ini nyata. Saat seseorang menahan pintu lift untuk kita, atau rekan kerja membantu mengirimkan dokumen yang kita perlukan, ucapkan terima kasih dengan tulus. Tindakan kecil ini melatih otot syukur dalam hati. Jika kita terbiasa melihat kebaikan pada orang lain, akan jauh lebih mudah untuk melihat kebaikan yang Tuhan titipkan pada hidup kita.

Syukur tidak akan mengubah situasi sulit menjadi mudah seketika. Masalah tetaplah masalah. Tagihan tetap harus dibayar, pekerjaan tetap menumpuk, dan rasa sedih tetap bisa datang tiba-tiba. Bedanya, dengan syukur, kita tidak menjadi orang yang mudah patah. Kita menjadi lebih tegar karena tahu ada perlindungan yang lebih besar di balik setiap ujian. Jangan merasa bersalah kalau hari ini kamu merasa belum bisa bersyukur. Itu bagian dari proses menjadi manusia. Kadang kita merasa lelah, kadang kita merasa marah. Terima saja perasaan itu. Lalu, perlahan-lahan, cobalah kembali melatih mata untuk melihat hal kecil.

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.