Ceritain Aja / Catatan & Hikmah
16 September 2026 · 2 min
Sering mendengar anggapan kalau depresi atau cemas berarti kurang ibadah? Mari kita luruskan perspektif ini dengan meneladani bagaimana Rasulullah SAW memeluk emosinya dan mengajarkan penyembuhan yang holistik.
Topik: Iman & Spiritualitas · Kesehatan Mental & Jiwa · Kecemasan & Overthinking
Pernah tidak kamu merasa lelah secara mental, tapi justru merasa bersalah karena menganggap itu tanda iman yang sedang 'drop'? Ada anggapan di masyarakat kita bahwa seorang Muslim seharusnya kebal terhadap kesedihan atau depresi.
Padahal, jika kita menengok sejarah Islam, para ulama dan Rasulullah SAW sendiri sangat memanusiakan perasaan manusia. Mengalami rasa cemas atau duka bukanlah aib, melainkan bagian dari ujian kehidupan yang dirasakan oleh siapa saja, bahkan oleh para Nabi sekalipun.
Rasulullah SAW pernah melalui masa yang sangat berat hingga disebut 'Tahun Kesedihan', di mana beliau merasakan duka mendalam atas kehilangan orang-orang yang dicintainya. Namun, beliau tidak memendamnya sendirian.
Beliau justru mengajarkan kita untuk mengakui emosi tersebut dengan jujur namun tetap dalam bingkai iman. Ketika beliau meneteskan air mata melepas kepergian putranya, Ibrahim, beliau tetap menjaga lisannya agar tidak mengeluh pada takdir, sembari mengakui bahwa hati memang merasakan sedih yang nyata.
Ini adalah contoh indah bagaimana spiritualitas dan pengakuan emosi bisa berjalan beriringan. Menariknya, Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan kesehatan fisik sebagai penunjang kesehatan mental.
Beliau sering menganjurkan perawatan medis untuk meredakan duka, seperti mengonsumsi talbinah (sup barley) untuk menenangkan hati. Beliau menegaskan bahwa untuk setiap penyakit yang Allah ciptakan, selalu ada obatnya.
Artinya, mencari bantuan profesional, medis, atau psikologis sama sekali tidak menafikan tawakal kita kepada Allah. Justru, itu adalah bentuk ikhtiar seorang hamba yang paham bahwa kesehatan jiwa dan raga adalah amanah yang harus dijaga.
Mari berhenti memvalidasi stigma bahwa kesehatan mental adalah soal kurangnya ibadah. Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa ilmuwan Muslim terdahulu, seperti Al-Balkhi, sudah sangat serius mengkaji kesehatan jiwa sejak berabad-abad lalu.
Saatnya kita pun lebih bijak: mendekatlah pada Allah lewat doa, namun jangan ragu untuk menempuh jalan ikhtiar medis jika hati mulai terasa sesak. Kamu berhak untuk pulih, dan kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini.
Disadur dari yaqeeninstitute.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.