Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Pernahkah kamu merasa habis, padahal hari baru dimulai?

4 Oktober 2026 · 4 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Pernahkah kamu merasa habis, padahal hari baru dimulai?

Lelah yang menumpuk bukan sekadar kurang tidur. Kadang, itu adalah sinyal bahwa ada bagian dari dirimu yang sedang berteriak minta rehat.

Topik: Burnout & Dunia Kerja

Tiga tahun lalu, saya pernah berada di titik di mana bangun pagi terasa seperti hukuman. Jam di dinding menunjukkan pukul enam, tapi rasanya saya baru saja memejamkan mata. Ada tumpukan laporan yang belum selesai dan beberapa pesan di ponsel yang menunggu balasan. Saya tidak merasa sakit fisik yang serius, tapi energi di dalam diri seolah menguap begitu saja. Setiap langkah terasa berat, seolah kaki saya tertanam di semen basah yang mengeras. Jika kamu merasa sedang di fase ini, mungkin kamu tidak sedang malas. Kamu hanya sedang terbakar habis.

Istilah medis untuk kondisi ini sudah ada sejak lama, meski dulu orang mungkin menyebutnya neurasthenia atau sekadar kelelahan saraf. Di masa lalu, dokter seperti George Beard bahkan sempat menyebutnya sebagai 'Americanitis' di komunitas intelektual tahun 1869. Mereka mencoba mencari nama untuk kondisi ketika pikiran dan tubuh menolak untuk terus berlari, padahal dunia menuntut kecepatan yang sama. Namun, bagi saya dan mungkin kamu, ini bukan soal istilah atau buku teks psikiatri. Ini soal bagaimana rasanya menjadi manusia yang merasa tidak lagi memiliki sisa cadangan tenaga untuk esok hari.

Dalam beberapa catatan sejarah, ada kisah Nabi Musa yang pernah diingatkan mertuanya, Yitro. Dia melihat Musa memikul beban sendirian, menangani semua urusan umat tanpa henti. Yitro berkata bahwa cara Musa bekerja itu tidak baik. Bebannya terlalu berat dan dia tidak akan mampu menanggungnya seorang diri. Seringkali, kita merasa harus menjadi satu-satunya orang yang memegang kendali atas semua masalah. Kita merasa kalau kita berhenti sejenak, dunia akan berhenti berputar. Padahal, kita hanyalah manusia dengan kapasitas terbatas. Mengakui bahwa kita tidak bisa melakukan segalanya adalah langkah awal untuk bernapas kembali.

Banyak orang terjebak dalam siklus yang sama. Kita memaksakan diri bekerja melampaui batas, mengabaikan sinyal tubuh, lalu bertanya-tanya mengapa hati terasa kosong dan getir. Gejala-gejala seperti merasa tidak lagi mencapai apa pun, menjadi sinis terhadap pekerjaan, atau merasa berjarak dari orang-orang di sekitar adalah tanda nyata. Sering kali, kita mencoba menutupi ini dengan dalih produktivitas. Kita bekerja lebih keras, berharap rasa lelah itu akan hilang dengan sendirinya setelah tugas selesai. Kenyataannya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Ia akan selalu ada, menunggu untuk dikerjakan besok.

Ada satu malam ketika saya benar-benar menyerah pada rasa lelah itu. Saya meletakkan ponsel saya di meja kayu yang mulai kusam dan menatap langit-langit kamar. Saya sadar bahwa saya tidak sedang memperjuangkan sesuatu yang bermakna bagi jiwa saya, saya hanya sedang mengejar ekspektasi yang tidak pernah berhenti bergerak. Saya merasa bersalah karena tidak bisa 'berhasil' seperti orang lain di media sosial. Ternyata, membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah cara tercepat untuk menghancurkan sisa-sisa kedamaian yang tersisa di dada.

Kamu tidak perlu menjadi orang yang paling hebat untuk diizinkan beristirahat. Rehat bukan berarti kamu lemah atau kalah. Rehat adalah kebutuhan dasar manusia, sama seperti makan atau minum. Jika mesin kendaraan butuh berhenti untuk mendinginkan suhu agar tidak meledak, apalagi tubuh manusia yang memiliki hati dan pikiran. Terkadang, kita butuh jeda yang panjang. Bukan jeda untuk merencanakan sesuatu yang lebih besar, tapi jeda untuk sekadar duduk tanpa melakukan apa pun.

Jangan terjebak pada pemikiran bahwa produktivitas adalah satu-satunya pengukur harga diri kita. Kita bukan sekadar alat untuk menghasilkan sesuatu atau memenuhi target kantor. Ada nilai dalam diri kita yang tetap ada meskipun kita tidak sedang melakukan apa-apa. Ada hikmah di balik ketidakmampuan kita, yaitu pengingat akan ketergantungan kita kepada Sang Pencipta. Bahwa di balik setiap denyut nadi dan setiap napas yang kita hirup saat ini, ada kuasa yang bekerja di luar kendali kita.

Mungkin mulai besok, coba kurangi sedikit beban itu. Kalau tidak bisa sepenuhnya, kurangi porsinya satu per satu. Fokuslah pada hal yang paling penting saja. Tidak masalah jika ada pesan yang belum dibalas selama beberapa jam. Tidak masalah jika laporan tidak selesai tepat di jam kantor berakhir. Dunia tidak akan kiamat hanya karena kamu memilih untuk tidur lebih awal atau mematikan ponsel selama satu jam.

Setiap orang memiliki ambang batasnya masing-masing. Jangan memaksakan diri untuk terus berlari di jalur yang mungkin bukan milikmu. Jika kamu merasa sedang di ambang kehancuran emosional, itu adalah panggilan untuk kembali ke dalam diri. Cari tahu apa yang membuat jiwamu merasa lelah. Apakah itu pekerjaanmu, lingkunganmu, atau mungkin caramu memandang dirimu sendiri? Semua jawaban itu tidak akan datang saat kamu masih terus berlari. Jawaban itu hanya muncul saat kamu berani berhenti sejenak dan mendengarkan suara hatimu sendiri. Kamu tidak harus menjadi sempurna hari ini. Kamu hanya perlu cukup untuk dirimu sendiri.

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.