Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
6 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Tahun 1982 di Jepang, Tomohide Akiyama menyarankan orang-orang berjalan ke hutan saat kantor mulai terasa menyesakkan.
Topik: Burnout & Dunia Kerja
Jam sebelas malam, dan kepala saya masih terasa bising oleh urusan kerja yang belum tuntas. Ada setumpuk berkas di samping laptop, gelas kopi dingin yang belum dicuci, dan rasa kencang di tengkuk yang tidak mau hilang. Rasanya hampir semua orang di usia tiga puluhan memikul ketegangan serupa setiap hari. Kita sering bingung bagaimana caranya berhenti sejenak.
Dalam keadaan lelah seperti itu, ada dua cara memandang dunia di sekitar kita.
Cara pertama adalah memandang alam sebagai hiasan belaka. Kita melihat deretan pohon di trotoar atau petak rumput di samping ruko hanya sebagai benda mati yang kebetulan tumbuh di sela aspal. Saat merasa jenuh, kita menganggap jeda hanya bisa didapat dengan rencana besar: cuti panjang, memesan tiket mahal ke tempat wisata yang jauh, atau menginap di vila mewah. Selama uang dan waktu libur belum terkumpul, kita merasa terpaksa terus menahan sesak di dada. Cara pandang ini sangat wajar. Hampir semua orang pernah menjalaninya, terutama ketika rutinitas harian terasa menuntut produktivitas tanpa henti.
Namun ada cara kedua yang jauh lebih menenangkan.
Cara kedua memandang tumbuhan, angin, dan suara gemericik air sebagai bagian dari ciptaan yang bisa membantu meredakan kegelisahan kita saat ini juga. Kita tidak perlu menunggu cuti tahunan tiba untuk menurunkan beban di kepala. Kita cukup menengok ke luar jendela, mendengarkan kicau burung liar di tiang listrik, atau berhenti sepuluh menit di taman kota saat jam istirahat makan siang.
Tahun 1982 di Jepang, mantan pejabat kehutanan bernama Tomohide Akiyama mulai memperkenalkan istilah shinrin-yoku atau mandi hutan. Gagasan itu lahir ketika industrialisasi bergerak terlalu cepat dan orang-orang kota mulai kehabisan tenaga. Akiyama mengajak warga masuk ke rimbun pepohonan bukan untuk berolahraga berat, melainkan untuk diam dan menghirup udara di bawah naungan dahan.
Penelitian ilmiah menyusul bertahun-tahun setelahnya. Mulai tahun 2005, seorang dokter bernama Qing Li mengadakan uji coba terkontrol pada orang-orang yang berjalan di kawasan hutan. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan sel pembunuh alami dalam sistem kekebalan tubuh hingga separuhnya, sementara hormon stres cortisol dan detak jantung menurun stabil. Pengaruh baik itu bahkan bertahan antara satu hingga empat pekan setelah mereka pulang ke kota. Ketika percobaan yang sama diulang di tengah jalanan kota yang padat, perubahan fisik semacam itu tidak terjadi.
Banyak negara mulai mempraktikkan cara pandang kedua ini secara resmi. Di Finlandia, para peneliti menganjurkan warganya meluangkan waktu minimal lima jam dalam sebulan di ruang terbuka hijau. Di Korea Selatan, pemerintah menyusun kegiatan khusus di alam terbuka untuk membantu pemulihan petugas pemadam kebakaran yang menanggung trauma kerja. Sementara itu di Inggris, sejak 2019 dokter umum dalam program Dose of Nature meresepkan waktu di ruang terbuka bagi pasien mereka. Program ini mencatat angka perbaikan kondisi sebesar 64 persen, melampaui angka terapi bicara umum yang berada di kisaran 50 persen. Dokter di Kanada bahkan mulai menuliskan lembar resep resmi yang isinya berupa anjuran mengunjungi taman.
Ketika melihat pohon kecil di tepi jalan dengan cara kedua, hati kita diajak untuk melambat. Tuhan menaruh ketenangan pada hal-hal sederhana yang Dia tumbuhkan di muka bumi. Suara air yang mengalir atau kepakan burung gereja di kabel listrik menyimpan irama yang teratur. Irama itu mengirim sinyal ke tubuh kita bahwa saat ini keadaan sedang aman. Kita tidak sedang dikejar tenggat waktu selama tiga menit kita berdiri di bawah daun mangga tetangga.
Saya sendiri sering gagal mempraktikkan hal ini. Kadang saya melintasi jalur hijau di dekat halte bus sambil terus menatap ponsel dengan dahi berkerut. Saya melewati puluhan batang pohon rindang tanpa sadar bahwa mereka ada di sana. Tubuh saya menuntut istirahat, tetapi pikiran saya terus menuntut pembuktian diri.
Berpindah dari cara pandang pertama ke cara pandang kedua butuh pembiasaan kecil. Kita tidak perlu menjadi pencinta alam yang mendaki gunung tinggi. Memperhatikan tanaman sirih gading di atas meja kantor atau menyiram pot lidah buaya di teras kontrakan sudah cukup untuk memberi jeda pada otak kita yang lelah.
Pilihan cara memandang ini selalu ada setiap hari. Kalau saat ini kamu belum punya waktu atau biaya untuk pergi berlibur ke tempat yang jauh, jangan merasa terkungkung. Cobalah buka pintu depan, letakkan ponsel di atas meja makan, dan perhatikan sebatang pohon terdekat selama lima menit. Biarkan matamu beristirahat pada warna hijaunya.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.