Ceritain Aja / Catatan & Hikmah
23 September 2026 · 2 min
Ketika hidup berakhir di tengah langkah kebaikan, kita diingatkan bahwa hakikat keberadaan bukanlah seberapa lama kita bernapas, melainkan jejak kasih yang kita tinggalkan.
Seringkali, kita merasa bahwa waktu di dunia ini begitu panjang dan kita punya banyak kesempatan untuk menunda amal baik. Namun, kisah Idris, seorang pemuda yang berpulang saat sedang berjuang dalam kegiatan amal, menjadi tamparan lembut bagi hati kita yang lalai. Idris meninggal dunia karena serangan jantung saat mengikuti lari amal 5K. Ia pergi di saat sedang melangkah untuk membantu sesama. Bagi dunia, mungkin ini terlihat seperti tragedi yang begitu mendadak, terutama karena ia meninggalkan istri dan bayi berusia dua bulan. Namun, bagi mereka yang beriman, ada hikmah agung yang tersembunyi di balik peristiwa ini.
Apa sebenarnya yang membuat seseorang begitu dicintai oleh lingkungannya? Idris dikenal sebagai sosok penggerak yang aktif dalam proyek-proyek kepemudaan. Hidupnya didedikasikan untuk membawa orang lain lebih dekat kepada masjid dan nilai-nilai Islam. Kematiannya bukan sekadar akhir dari napas, melainkan titik kulminasi dari cara ia menjalani hidup. Ini mengajarkan kita bahwa 'husnul khotimah' bukan hanya tentang kondisi saat ajal menjemput, tapi tentang konsistensi dalam menanam kebaikan selama kita masih diberi kesempatan.
Reaksi komunitas setelah kepergian Idris sungguh mengharukan. Mereka mengumpulkan lebih dari 76.000 Poundsterling dalam waktu singkat. Dana ini bukan hanya untuk menopang keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga diniatkan sebagai Sadaqah Jariyah atas nama Idris. Inilah investasi akhirat yang sesungguhnya. Ketika seseorang pergi, ia tidak membawa harta atau jabatan, melainkan aliran pahala yang terus mengalir berkat kebaikan yang ia rintis semasa hidup. Komunitas yang merespons dengan kasih sayang ini adalah cerminan dari dampak positif yang telah ditanam Idris sebelumnya.
Seringkali kita merasa takut dengan ketidakpastian ajal. Padahal, yang seharusnya lebih kita takuti adalah hidup yang berlalu tanpa makna. Jika kita bisa memilih, bukankah kita semua ingin pulang saat sedang melakukan sesuatu yang dicintai oleh Sang Pencipta? Kematian Idris adalah pengingat bahwa hidup yang singkat ini harus diisi dengan hal-hal yang memiliki dampak jangka panjang bagi umat. Apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi di lingkungan kita? Atau kita masih terlalu sibuk dengan urusan diri sendiri hingga lupa bahwa waktu terus berdetak?
Kita tidak perlu menjadi tokoh besar untuk meninggalkan warisan. Mulailah dari langkah kecil: ikut serta dalam kegiatan sosial, membantu tetangga yang kesulitan, atau sekadar memberikan waktu untuk membimbing generasi muda. Fokuslah pada apa yang bisa kita berikan, bukan apa yang bisa kita ambil dari dunia. Dengan membangun 'proyek kebaikan' kita masing-masing—seperti yang dilakukan Idris dengan proyek komunitasnya—kita sedang menyiapkan bekal terbaik untuk hari pertemuan dengan Allah SWT. Mari jadikan setiap detak jantung kita sebagai sarana untuk menebar manfaat, agar saat saatnya tiba, kita pulang dalam keadaan paling tenang.
Disarikan dari karya dan pandangan mereka — bukan kutipan verbatim.
Imam al-Ghazali
Beliau menekankan bahwa kemuliaan akhir hayat sangat bergantung pada kebiasaan yang dibina sepanjang hidup, di mana hati yang terpaut pada kebaikan akan dijemput dengan keridhaan.
Ibn al-Qayyim
Beliau mengajarkan bahwa orang yang hidupnya dipenuhi dengan niat menolong orang lain akan mendapatkan kemudahan saat menghadapi sakaratul maut karena amal shalihnya menjadi teman setia.
Buya Hamka
Beliau sering mengingatkan bahwa hidup ini hanyalah pinjaman dan kebermaknaan seorang manusia diukur dari seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan bagi umat manusia.
Disadur dari aboutislam.net
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.