Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
1 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Di Baghdad abad ke-9, para cendekiawan bekerja menerjemahkan buku dengan bayaran setara atlet profesional hari ini. Mungkin kita tidak perlu membangun perpustakaan raksasa, tapi kita bisa meniru cara mereka merawat rasa ingin tahu.
Topik: Kedamaian & Ketenangan Hati · Kecemasan & Overthinking
Pukul dua pagi, saat dunia luar senyap dan hanya ada suara dengung kulkas di dapur, sering kali saya membuka ponsel. Bukan untuk bekerja, bukan untuk membalas pesan mendesak. Saya sekadar melompat dari satu tautan ke tautan lain, mencari sesuatu yang saya sendiri tidak tahu namanya. Kadang saya merasa cemas karena otak saya terasa penuh, padahal isi kepalanya hanya potongan informasi yang tidak menyambung.
Beberapa waktu lalu saya membaca tentang Baitul Hikmah, atau Rumah Kebijaksanaan yang dibangun di Baghdad sekitar tahun 825. Bayangkan sebuah tempat di mana para ahli dari berbagai latar belakang berkumpul, tidak untuk bertarung argumen, melainkan untuk duduk tenang dan menerjemahkan ilmu dari bahasa Yunani, Sanskerta, hingga bahasa Persia ke dalam bahasa Arab. Mereka dibayar dengan harga yang sangat tinggi oleh khalifah. Sejarawan mencatat, honorarium seorang penerjemah saat itu bisa menyamai gaji atlet profesional yang kita kenal di zaman sekarang.
Angka-angka itu membuat saya terpaku. Mengapa sebuah kekaisaran mau mengeluarkan anggaran sebanyak itu hanya untuk buku dan kertas? Ternyata, ada keyakinan kuat bahwa mencari ilmu adalah bagian dari perintah agama. Ilmu bukan sesuatu yang harus dikejar dengan rasa gelisah, melainkan sesuatu yang perlu didekati dengan ketekunan. Mereka tidak terburu-buru. Mereka mengerti bahwa memahami karya besar, seperti tulisan Aristoteles atau Galen, butuh waktu bertahun-tahun di ruangan yang sunyi.
Kita hidup di masa yang berbeda. Hari ini, saya merasa bersalah jika tidak memegang ponsel setiap saat. Kita terobsesi dengan kecepatan. Jika ada informasi baru, kita ingin segera tahu dalam lima detik. Jika ada masalah, kita ingin solusi instan tanpa melalui proses berpikir yang panjang. Padahal, ketenangan batin yang dicari orang-orang di Baghdad dulu justru datang dari kemampuan mereka fokus pada satu hal dalam durasi yang sangat lama.
Saya sering mencoba mempraktikkan ini di malam hari. Sebelum tidur, saya mencoba menjauhkan ponsel dari jangkauan tangan. Saya mengambil satu buku, atau sekadar duduk diam tanpa melakukan apa pun selain memperhatikan tarikan napas sendiri. Rasanya tidak nyaman di awal. Tangan saya sering gatal ingin meraih layar, ingin tahu apa yang sedang terjadi di dunia luar.
Namun, perlahan-lahan saya menyadari sesuatu. Kecemasan itu sering muncul karena kita terlalu banyak menerima input tanpa pernah benar-benar mengolahnya di dalam diri. Kita seperti perpustakaan yang bukunya dibuang sembarangan ke lantai. Tidak ada rak, tidak ada klasifikasi, hanya tumpukan kertas yang berantakan. Orang-orang di masa keemasan Islam itu memiliki ketenangan karena mereka memberi tempat bagi setiap ilmu untuk tinggal dengan nyaman di kepala mereka.
Ada satu detail menarik lainnya. Banyak penerjemah di Rumah Kebijaksanaan adalah orang Kristen, seperti Hunayn ibn Ishaq yang memimpin proyek besar penerjemahan tersebut. Mereka bekerja bahu-membahu dengan ilmuwan Muslim, Persia, dan dari berbagai penjuru dunia. Mereka tidak melihat perbedaan latar belakang sebagai hambatan untuk duduk bersama. Mereka paham bahwa kebenaran atau ilmu tidak memiliki sekat suku maupun agama. Bagi mereka, sebuah kebenaran adalah kebenaran, terlepas dari siapa yang mengucapkannya.
Sikap ini sangat membumi dan bisa kita tiru saat kita merasa lelah dengan dunia yang penuh pertentangan. Saat kita merasa muak dengan debat kusir di media sosial, mungkin kita perlu mencontoh cara mereka. Mereka lebih memilih untuk mendengarkan, menerjemahkan, dan mencoba memahami apa yang dipikirkan orang lain daripada berteriak paling kencang. Itu adalah bentuk ketenangan yang sulit ditemukan saat ini.
Saya tidak meminta kamu untuk menjadi ilmuwan atau menulis buku. Itu terlalu jauh. Tapi cobalah untuk berhenti merasa bahwa setiap detik harus produktif secara instan. Menjaga kewarasan di tengah dunia yang bising ini bisa dimulai dari hal sederhana. Matikan notifikasi yang tidak perlu. Sisihkan waktu tiga puluh menit saja setiap malam untuk tidak menyentuh internet. Gunakan waktu itu untuk membaca satu bab buku yang benar-benar kamu sukai, atau sekadar menulis jurnal kecil tentang hal-hal yang membuat kamu merasa lega hari ini.
Kita tidak perlu membangun gedung besar seperti Rumah Kebijaksanaan. Cukup bangun ruang kecil di dalam hati dan pikiran kita agar bisa bernapas lega. Saat kepala terasa berat, ingatlah bahwa mereka yang hidup seribu tahun lalu pun pernah berada di titik yang sama. Mereka memilih untuk tenang, tekun, dan sabar dengan proses mereka. Mungkin itulah cara terbaik untuk bertahan di dunia yang sering kali terasa terlalu cepat bagi kita semua.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.