Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
30 September 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Pesanmu masuk lewat tengah malam, menceritakan anak lelakimu yang mulai berubah sikap sejak bergaul dengan lingkungan barunya di sekolah.
Pesanmu masuk jam setengah dua belas malam, tepat saat saya sedang merapikan cangkir teh dingin di meja kerja. Kamu menulis kalimat yang terasa perih: "Saya lelah dan merasa gagal mendidik anak, karena begitu dia keluar pagar rumah, semua nilai baik yang kami tanamkan seolah lenyap disapu pergaulannya." Kamu menyalahkan dirimu sendiri. Kamu merasa kurang sabar, kurang tegas, atau mungkin kurang pintar mengawasi anak lelakimu yang baru menginjak usia SMP itu.
Saya ingin mengajakmu menarik napas sejenak. Berhenti menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang memang tidak berada di bawah kendali tunggal seorang ibu.
Ada kenyataan pahit yang sering kita tolak sebagai orang tua. Kita sering berpikir bahwa kasih sayang di dalam rumah cukup kuat untuk membentengi anak dari apa pun. Sumber masalahnya sering kali bukan kurangnya perhatianmu. Lingkungan di luar rumah punya daya tarik dan tarikan gravitasi yang jauh lebih brutal daripada perkiraan kita.
Sejarah mencatat hal ini berkali-kali. Tengoklah masa kecil Nabi Muhammad. Sejak bayi, beliau dikirim jauh dari ibunya yang menjanda, kakeknya, dan kenyamanan klan terhormatnya di Mekkah. Beliau dititipkan ke pedalaman padang pasir bersama keluarga miskin. Tujuannya jelas, yaitu agar beliau tumbuh di tempat dengan bahasa paling murni, jauh dari kerusakan budaya kota. Bagi telinga kita hari ini, keputusan itu mungkin terdengar kejam, seperti kisah Jane Eyre yang dibuang ke Lowood Institution atau Oliver Twist yang telantar di penampungan kerja. Tapi masyarakat saat itu paham satu hal: lingkungan membentuk manusia lebih cepat daripada wejangan orang tua.
Bahkan seorang penguasa besar seperti Khalifah Abdul Malik pernah meratapi hal serupa. Beliau berterus terang bahwa rasa cintanya kepada putranya, Al-Waleed, justru mencelakakan si anak. Karena tidak tega melepaskannya ke padang pasir, Al-Waleed tumbuh di dalam istana dengan pengucapan bahasa Arab yang keliru dan gaya bicara yang cacat. Cinta seorang ibu atau ayah yang menahan anak dalam sangkar tanpa menempatkannya di ekosistem yang tepat sering berakhir meleset dari harapan.
Orang tua zaman sekarang sering kali merasa bisa menanggung semuanya sendirian. Banyak yang yakin bisa mengajarkan akidah, adab, hadis, dan membaca Al-Qur'an hanya bermodal pencarian Google atau video pendek di ponsel pintar. Kita tidak pernah berani mengajar aljabar atau fisika kepada anak kalau kita sendiri tidak memahaminya, tetapi untuk urusan pembentukan jiwa, kita kerap bersikap terlalu percaya diri. Kamu merasa wajib menjadi benteng sekaligus ruang kelas sendirian di rumah. Itu beban yang mustahil kamu pikul tanpa bantuan lingkungan sekitar.
Pengaruh kawan sebaya bukan sekadar asumsi orang tua yang cemas. Para psikolog di Temple University pernah membuktikannya lewat penelitian pemindaian otak fMRI. Mereka mengamati 40 remaja dan orang dewasa, termasuk 14 remaja usia 14 hingga 18 tahun, yang diminta bermain gim video simulasi menyetir selama enam menit. Saat bermain sendirian di dalam mesin pemindai, para remaja ini mengemudi dengan hati-hati. Namun, begitu mereka tahu dua teman sebayanya sedang menonton dari ruangan sebelah, perilakunya berubah drastis. Para remaja itu menerobos lampu kuning 40 persen lebih sering dan mengalami tabrakan 60 persen lebih banyak. Keberadaan teman sebaya memicu bagian otak mereka untuk mengambil risiko bahaya demi pengakuan.
Otak anakmu memang diprogram untuk mencari tempat di tengah teman-temannya. Mengharapkan seorang anak berusia belasan tahun tetap berpegang teguh pada aturan rumah sementara seluruh kawan bermainnya menertawakan aturan itu sama saja menuntut hal yang mustahil.
Bahkan para nabi membutuhkan teman seperjalanan yang baik. Nabi Musa memohon kepada Tuhannya agar saudaranya, Harun, dijadikan pendamping tugasnya. Nabi Muhammad juga diingatkan dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 28 agar senantiasa bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari. Beliau mengingatkan kita melalui perumpamaan yang sangat sederhana: berteman dengan penjual minyak wangi akan membuat kita ikut harum atau mencium wangi semerbak, sementara bergaul dekat pandai besi yang meniup bara api berisiko membakar baju kita atau membuat kita terkena bau busuk.
Jadi, tolong berhenti menyiksa batinmu malam ini. Kamu tidak gagal. Kamu hanya sedang berhadapan dengan lingkungan luar yang terlalu berat untuk dilawan anakmu sendirian.
Tugasmu sekarang bukan mengurungnya di kamar atau menceramahinya tiap lima menit. Tugasmu adalah memeriksa kembali siapa saja yang mengelilingi anakmu setiap hari. Lingkungan seperti apa yang kamu sediakan untuknya saat dia berada di luar rumah? Kalau sekolahnya, teman tongkrongannya, atau komunitas sekitarnya membuat dia merasa harus menjadi orang lain agar diterima, maka tempat itulah yang perlu kamu ubah. Kamu tidak bisa menaruh benih di tanah yang tandus lalu memarahi benih itu karena gagal berbunga.
Saya pernah mendengar kisah seorang dokter perempuan di Amerika Serikat yang menyelesaikan hafalan Al-Qur'an dengan ijazah resmi dari India. Saat masih usia sekolah, orang tuanya melihat bahwa sekolah umum di sana tidak mendukung pendidikannya. Mereka mengirimnya jauh ke India selama beberapa waktu untuk menuntaskan bacaan agamanya sebelum melanjutkan sekolah kedokteran di Amerika. Mereka tahu batas kemampuan mereka sebagai orang tua, dan mereka memilihkan tanah yang subur untuk anaknya tumbuh.
Matikan lampu kamarmu sekarang dan tidurlah. Besok pagi, alih-alih memarahi anakmu karena kata-kata kasarnya, ajak dia duduk. Perhatikan dengan siapa dia menghabiskan waktu sorenya, lalu bantulah dia menemukan lingkaran yang tidak menuntutnya merusak dirinya sendiri.
Disadur dari aboutislam.net
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.