Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Celana merah dan rasa waswas yang berlebihan

20 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Celana merah dan rasa waswas yang berlebihan

Sebuah secarik kertas dilempar ke meja hanya karena seorang siswi berbicara sedikit terlalu keras kepada pengajarnya.

Topik: Kecemasan & Overthinking

Raudah Mohd Yunus mengisahkan hari-hari awalnya di sebuah kelas persiapan kuliah menuju Timur Tengah. Dia datang dari sekolah negeri biasa. Teman-teman sekelasnya hampir semua lulusan madrasah atau pesantren. Para pemuda mengenakan kopiah putih, dan para pemudinya memakai tudung panjang yang rapi. Awalnya, suasana itu terasa menyejukkan. Raudah merasa berada di tengah lingkaran orang-orang yang taat dan tulus belajar agama.

Kekaguman itu tidak bertahan lama.

Beberapa pekan setelah kelas berjalan, suasana berubah menjadi kaku dan melelahkan. Para siswi diminta untuk tidak banyak bertanya. Suara perempuan dituduh memancing pikiran yang tidak pantas, sehingga diam dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang aman. Saat seorang siswi maju ke depan kelas untuk presentasi, sejumlah siswa laki-laki menyorakinya dari deretan bangku belakang. Bila ada siswi yang berbicara sedikit terlalu keras tanpa sengaja, secarik kertas akan mendarat di mejanya. Isinya teguran singkat tentang bagaimana adab seorang muslimah.

Raudah kemudian mendengar cerita serupa dari kawan-kawannya di sekolah lain. Ada asrama yang hanya membolehkan pakaian berwarna kusam: hitam, abu-abu, dan putih. Warna cerah dicurigai sebagai pemikat syahwat. Celana panjang dilarang keras, terutama celana merah, dengan alasan bisa memancing godaan bagi siswa laki-laki. Penulis Amerika, Umm Zakiyyah, juga pernah menceritakan reaksi kaget seorang asisten guru terhadap impian polos seorang bocah perempuan yang hanya ingin kelak menjadi seorang ibu.

Kejadian-kejadian itu memperlihatkan dua cara yang berbeda dalam memandang hal yang sama.

Cara pertama memandang interaksi manusia lewat rasa takut dan curiga yang terus menyala. Di mata orang yang memakai kacamata ini, setiap hal menyimpan bahaya biologis. Pertanyaan tentang pelajaran dibaca sebagai upaya menarik perhatian. Kain penutup badan dinilai berdasarkan seberapa muram warnanya. Suara manusia biasa diperlakukan seolah-olah racun yang siap merusak moral orang lain.

Orang yang memakai cara pandang ini sering kali merasa sedang menjaga kesucian. Mereka berniat membentengi diri dari dosa. Namun, hidup dengan kecurigaan tanpa henti menciptakan beban pikiran yang berat. Ketika semua hal dicurigai, isi kepala tanpa sadar dipaksa memikirkan hal-hal kotor sepanjang waktu. Setiap kali melihat warna merah, yang terlintas adalah nafsu. Setiap kali mendengar suara seorang perempuan, yang dibayangkan adalah godaan. Niatnya menjauhi keburukan, tetapi yang terjadi kepala mereka malah dipenuhi oleh hal-hal buruk itu sendiri.

Lalu ada cara pandang kedua, yaitu melihat sesama manusia dengan rasa hormat yang wajar.

Dalam cara pandang ini, seorang teman sekelas yang bertanya adalah seseorang yang sedang haus ilmu. Titik. Suaranya adalah alat komunikasi, bukan godaan terselubung. Pakaian longgar dipakai untuk menutup diri dengan sopan dan pantas di hadapan sesama, tanpa perlu membebani warna kain dengan tuduhan kotor. Kerapian dan kesopanan dijaga tanpa harus mematikan rasa percaya diri orang lain.

Cara pandang kedua ini jauh lebih menenangkan dada. Kita tidak perlu sibuk menebak niat buruk di balik tiap gerak-gerik orang lain. Hati tidak dibebani oleh imajinasi liar yang tidak perlu. Saat ada seorang teman perempuan berbicara di depan ruangan, pendengar fokus menyimak gagasannya. Rasa hormat lahir secara alami dari kedewasaan pribadi, bukan dari ketakutan yang dipaksakan.

Saya mengerti mengapa cara pandang pertama begitu mudah menular. Lingkungan sering kali mengajarkan bahwa semakin keras kita melarang dan mencurigai sesuatu, semakin saleh diri kita. Ketakutan selalu terasa lebih mendesak daripada ketenangan. Menghakimi warna baju orang lain terasa jauh lebih gampang daripada melatih mata dan pikiran sendiri untuk tetap bersih.

Menahan pandangan dan menjaga kehormatan adalah bagian dari ajaran yang baik. Itu tanggung jawab pribadi tiap orang di hadapan Tuhannya. Masalah muncul saat tanggung jawab itu dilempar keluar dan diubah menjadi kecurigaan massal terhadap sesama. Laki-laki menuntut perempuan diam seribu bahasa agar pikiran mereka tidak terganggu, padahal tugas menundukkan pandangan dimulai dari isi kepala sendiri.

Ketenangan batin tidak lahir dari ruangan yang steril dari suara atau pakaian berwarna cerah. Ketenangan hadir saat kita mampu melihat orang lain sebagai manusia seutuhnya, lengkap dengan akal, martabat, dan hak untuk belajar bersama secara wajar.

Malam ini, mungkin kita bisa memeriksa cara kita melihat sekitar. Apakah kita memandang orang lain dengan prasangka yang melelahkan, atau dengan ketulusan yang memberi ruang bagi orang lain untuk bernapas dengan lega.

Baca juga

Disadur dari aboutislam.net


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.