Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
28 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Ada kalanya kecemasan datang tanpa alasan jelas. Abu Zayd al-Balkhi sudah membahas cara mengelolanya sejak seribu tahun lalu.
Topik: Kecemasan & Overthinking
Mungkin sekarang jam dua belas malam, dan kamu masih menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar kencang. Dada terasa sesak karena membayangkan hari esok, padahal tidak ada kejadian buruk yang nyata di depan mata. Banyak orang mengalami hal serupa, termasuk saya.
Sekitar seribu tahun yang lalu, ada seorang pria bernama Abu Zayd al-Balkhi. Dia hidup di masa keemasan peradaban Islam di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Afghanistan. Dia bukan hanya sibuk dengan ilmu geografi atau matematika, tetapi juga menaruh perhatian besar pada apa yang terjadi di balik kepala dan dada manusia.
Al-Balkhi menulis sebuah karya tentang kesehatan jiwa yang menurut saya sangat membumi. Dia meyakini bahwa manusia adalah satu kesatuan antara raga dan jiwa. Jika tubuhmu sakit, pikiranmu pun akan terasa berat. Begitu juga sebaliknya, saat batinmu penuh dengan kecemasan, tubuhmu akan kehilangan semangat untuk sekadar bangun dari tempat tidur.
Kamu mungkin sering merasa takut pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Al-Balkhi menyebut ketakutan ekstrem ini dengan istilah 'fazaa'. Anehnya, dia tidak menyarankan kita untuk terus menghindar atau mengurung diri. Dia justru menganjurkan cara yang mungkin terasa tidak nyaman: hadapi pelan-pelan.
Jika ada hal yang membuatmu takut, al-Balkhi menyarankan agar kamu mencoba mendekatinya sedikit demi sedikit. Terus paparkan dirimu pada situasi itu sampai rasa takut tersebut berangsur berkurang karena terbiasa. Dia menyebut metode ini sebagai latihan jiwa.
Dia juga memberikan tips sederhana untuk kondisi darurat. Sama seperti kita menyimpan kotak P3K berisi obat-obatan untuk luka fisik, al-Balkhi berpesan bahwa kita harus selalu menyiapkan pikiran yang sehat dan perasaan yang baik di dalam kepala. Jadi, ketika perasaan cemas datang tiba-tiba, kamu punya bekal ingatan yang menenangkan untuk ditarik ke permukaan.
Banyak dokter di masa itu hanya fokus pada penyakit fisik. Al-Balkhi sering mengkritik cara pandang tersebut. Menurutnya, mengobati fisik saja tidak akan cukup kalau beban mentalnya tidak dibersihkan. Dia melihat bagaimana kemarahan, kesedihan, dan kecemasan bisa membuat fisik seseorang ikut tumbang.
Dia membagi kesedihan menjadi beberapa jenis. Ada kesedihan yang muncul karena alasan jelas, seperti kegagalan atau kehilangan sesuatu. Untuk yang ini, dia menyarankan obrolan yang menenangkan dan nasihat dari orang-orang terdekat. Namun, ada pula rasa sedih yang muncul tanpa sebab yang bisa kita identifikasi. Untuk kondisi kedua, dia percaya bahwa kesehatan fisiklah yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.
Apa yang dia tulis seribu tahun lalu sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita saat ini. Kita sering terlalu keras pada diri sendiri ketika pikiran tidak mau tenang. Kita merasa bersalah karena tidak bisa langsung bahagia di tengah tumpukan tugas atau pesan yang belum terbalas.
Al-Balkhi tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa rasa takut. Dia hanya menawarkan cara agar kita bisa hidup berdampingan dengan perasaan tersebut tanpa harus hancur olehnya. Mungkin itu sebabnya dia dulu menolak posisi menteri dan memilih untuk terus belajar. Dia tahu bahwa ketenangan tidak dicari dengan kekuasaan, melainkan dengan memahami diri sendiri secara jujur.
Mungkin setelah membaca ini, kamu bisa mencoba bernapas lebih pelan. Tidak perlu memaksakan diri untuk segera tidur jika pikiran masih ramai. Cukup berbaring, sadari bahwa apa yang kamu rasakan adalah bagian dari menjadi manusia, lalu tunggu sampai kantuk datang dengan sendirinya.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.