Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
25 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Di tengah malam, saya membaca obrolan Andrea Sexton-Dumas dan Philip Cozzolino tentang orang-orang yang mendekati ajal. Rencana membalas perlakuan rekan kerja besok pagi mendadak kehilangan tujuannya.
Topik: Kecemasan & Overthinking · Pernikahan & Keluarga · Burnout & Dunia Kerja
Jam setengah satu malam, layar ponsel masih menyala di dada saya. Suara kipas angin berderit pelan di sudut kamar, bunyi akrab yang menemani akhir dari hari yang melelahkan. Di luar kamar, suara knalpot motor sesekali masih terdengar dari jalan raya. Saya belum bisa memejamkan mata, sibuk membaca rekaman obrolan tentang kematian. Topik semacam ini biasanya dijauhi orang kalau mereka berniat tidur lelap.
Di layar itu tertulis nama Andrea Sexton-Dumas. Dia bekerja sebagai pendamping kematian di Oakland, California. Tugasnya menemani orang-orang yang mendekati akhir hayat, mendengarkan ketakutan mereka, dan duduk bersama keluarga yang sedang berduka. Di episode yang sama, hadir Philip Cozzolino, seorang psikolog dari University of Virginia School of Medicine. Cozzolino meneliti bagaimana pikiran tentang batas umur mempengaruhi perilaku manusia. Temuannya sederhana: orang yang bersedia memikirkan garis akhir hidupnya cenderung bersikap lebih jujur, lebih menghargai orang lain, dan berhenti meributkan hal-hal sepele.
Dulu, membayangkan kematian selalu membuat perut saya mulas. Waktu kecil, obrolan tentang kubur selalu dibalut cerita seram tentang siksaan, kalajengking tanah, dan kesendirian yang menakutkan. Kita diajari untuk gemetar. Akibatnya, saya terbiasa membuang jauh-jauh bayangan itu ke pojok kepala. Saya rasa kebanyakan orang di sekitar saya juga begitu. Rasanya mustahil mau memikirkan kain kafan ketika cicilan rumah masih berjalan dua belas tahun lagi dan target pekerjaan kantor belum selesai.
Di rekaman itu, Andrea membagikan satu latihan hening yang dia sarankan untuk orang yang sedang memikul duka. Dia meminta pendengarnya membayangkan memegang segenggam tanah basah. Merasakan butiran tanah yang lembap di kulit, mencium aromanya yang khas, lalu membayangkan membuat lubang kecil di sana. Ke dalam lubang itu, seseorang dipersilakan menitipkan rasa kehilangan atau kecemasan yang berat. Setelahnya, tanah diratakan kembali dan disiram sedikit air bersih.
Ketika pertama kali membaca panduan itu, kening saya berkerut. Praktik semacam itu terdengar asing untuk orang yang sehari-hari berkutat dengan kemacetan jalanan dan tumpukan pesan WhatsApp kerjaan. Namun, makin lama dibayangkan, gestur itu terasa sangat masuk akal.
Kita memang berasal dari tanah. Suatu hari nanti, kita akan kembali berbaring di bawahnya tanpa membawa tas kerja, laptop, atau tabungan bank. Kakek saya dimakamkan di sebuah pemakaman desa di Jawa Tengah sekitar lima tahun silam. Saya masih ingat dinginnya tanah merah yang menempel di telapak tangan saya saat membantu menutup liang. Pada saat gundukan tanah itu selesai dirapikan, semua perdebatan keluarga yang sempat memanas beberapa minggu sebelumnya mendadak hilang suaranya. Tidak ada yang merasa perlu menang dalam obrolan hari itu. Kematian punya cara sendiri untuk meredam kebisingan dunia.
Cozzolino menemukan hal serupa di ruang risetnya. Saat seseorang menyadari bahwa jatah napasnya terbatas, prioritas hidupnya bergeser secara alami. Hubungan dengan orang tua, pasangan, atau kawan lama menjadi jauh lebih berharga daripada dorongan untuk terlihat hebat di media sosial.
Pukul dua siang tadi, saya sempat kesal setengah mati di kantor. Seorang rekan kerja mengirim laporan tanpa mencantumkan nama saya, padahal saya yang mengerjakannya semalaman. Dada saya panas. Saya sudah menyusun kata-kata tajam di kepala untuk menyerangnya di grup percakapan kantor besok pagi.
Sekarang, saat membaca catatan Cozzolino di tengah malam, rencana balasan itu terasa basi.
Kalau jatah hidup saya habis lusa, nama saya di lembar laporan itu tidak ada artinya lagi. Kemarahan itu langsung terasa konyol. Kita sering menghabiskan energi untuk mempertahankan harga diri pada hal-hal yang sepuluh tahun lagi bahkan tidak akan diingat siapa pun.
Tentu ini bukan berarti kita harus pasrah dan membiarkan diri diinjak orang lain. Menyadari keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti berusaha atau menjadi pemalas. Poinnya ada pada kemampuan menyaring beban. Banyak hal yang membuat kita cemas hari ini sebenarnya hanya kepalsuan yang kita ciptakan sendiri: gengsi, rasa takut dianggap tertinggal oleh teman seangkatan, dan keinginan untuk selalu dipuji orang lain.
Dalam sujud malam hari, kepala ditaruh sejajar dengan lantai. Posisi itu mengingatkan bahwa manusia tidak punya alasan untuk menyombongkan apa pun. Nafas ini titipan. Pekerjaan ini titipan. Tubuh yang pegal ini pun titipan yang kelak dikembalikan ke tanah asalnya. Mengakui kenyataan itu justru melepaskan ketegangan yang menumpuk di pundak selama berbulan-bulan.
Saya meneguk sisa air putih dari gelas di meja samping tempat tidur. Airnya sudah hangat.
Layar ponsel akhirnya saya matikan. Kamar menjadi gelap gulita, menyisakan kerlip kecil lampu pengisi daya di colokan dinding. Besok pagi rutinitas yang sama mungkin akan kembali menunggu, tetapi malam ini, dada saya terasa sedikit lebih lapang.
Disadur dari greatergood.berkeley.edu
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.