Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
26 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Ada orang yang melihat waktu sebagai musuh yang harus dikalahkan, sementara yang lain menganggapnya sebagai tamu yang perlu dijamu. Kamu ada di kubu mana malam ini?
Topik: Burnout & Dunia Kerja
Jam sebelas malam, dan saya masih menatap layar. Di sudut kanan bawah laptop, deretan angka menunjukkan waktu yang terus merayap maju. Mungkin kamu juga sedang dalam posisi serupa. Berbaring, lampu kamar sudah dimatikan, hanya sisa cahaya ponsel yang menerangi wajah. Ada dua cara manusia di bumi ini memandang detak jarum jam, dan masing-masing membawa rasa yang berbeda di dada.
Sebagian orang melihat waktu sebagai deretan tugas yang harus diselesaikan. Bagi mereka, hidup adalah serangkaian garis lurus. Bayangkan seseorang dengan daftar panjang di kertas catatan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Pukul delapan harus menjawab surel, pukul sembilan rapat, pukul sepuluh menyelesaikan laporan. Jika ada satu saja yang meleset, rasanya seperti ada lubang menganga di tengah hari. Mereka terbiasa dengan prinsip Eisenhower, di mana segala sesuatu dipilah antara yang mendesak dan yang penting. Bagi mereka, waktu adalah komoditas yang harus dihemat. Jika jarum jam bergerak lebih cepat dari kemampuan tangan, kecemasan mulai naik ke tenggorokan. Ini adalah cara hidup yang sangat efisien, sangat produktif, namun seringkali meninggalkan rasa lelah yang pekat di ujung hari.
Orang-orang ini merasa bahwa jika mereka tidak melakukan satu hal dalam satu waktu, mereka telah kehilangan sesuatu yang berharga. Mereka mungkin merasa bersalah saat duduk diam tanpa melakukan apa pun di sore hari. Kebahagiaan mereka diukur dari seberapa banyak kotak yang sudah dicentang. Namun, ketika malam tiba dan mereka masih memikirkan esok hari, ketenangan itu sulit sekali didapat.
Di sisi lain, ada cara pandang yang lebih melingkar. Orang-orang ini menganggap waktu bukanlah musuh yang harus dipaku ke dinding. Mereka melihatnya seperti musim yang berganti. Matahari terbit, lalu tenggelam, lalu muncul kembali. Tidak ada yang benar-benar hilang karena semuanya akan berulang. Dalam budaya yang mengadopsi cara pandang ini, seperti di banyak tempat di Asia, prioritas utamanya bukanlah kecepatan, melainkan ketepatan rasa dan kualitas hubungan. Mereka mungkin menghabiskan waktu lebih lama untuk duduk mengobrol atau sekadar merenungkan keputusan sebelum bertindak. Baginya, mengerjakan sesuatu dengan benar jauh lebih menenangkan daripada menyelesaikannya secepat mungkin.
Memang, tidak ada salahnya ingin efisien. Kita semua punya kewajiban, cicilan, atau tanggung jawab yang tidak bisa menunggu. Namun, saat kamu merasa cemas karena hari ini terasa berantakan, mungkin masalahnya bukan pada jadwalmu, melainkan pada caramu memandang detik-detik tersebut. Jika kamu merasa dikejar waktu, cobalah berhenti sejenak.
Lihatlah secangkir teh di mejamu yang sudah dingin. Kamu bisa saja menyesalinya karena kamu lupa meminumnya selagi hangat di tengah kesibukan mengerjakan tugas A1 atau A2. Namun, kamu juga bisa menarik napas, menyadari bahwa teh itu tetap ada di sana, menunggu. Begitu pula dengan hidup. Banyak hal yang kamu anggap sangat mendesak hari ini sebenarnya tidak akan meruntuhkan duniamu jika selesai sedikit lebih lambat.
Seringkali, kita merasa lelah bukan karena pekerjaan itu sendiri, melainkan karena pikiran kita yang terus berpacu, menganggap setiap menit adalah kompetisi. Kita meniru pola pikir yang sering dipakai orang-orang yang terlalu sibuk dengan efisiensi, seolah-olah hidup ini adalah daftar tugas yang harus rampung sebelum nyawa dicabut. Padahal, ada ruang untuk jeda. Ada ruang untuk bernapas tanpa harus merasa bersalah karena tidak produktif selama lima menit saja.
Jika kamu sedang lelah, cobalah ingat bahwa setiap hari adalah siklus. Jika hari ini ada rencana yang gagal, besok matahari akan terbit lagi. Ini bukan berarti kamu boleh malas, melainkan kamu boleh melepaskan beban yang terlalu berat di bahumu. Berhenti sejenak untuk menata hati itu perlu. Tidak ada yang salah dengan menjadi orang yang rapi dengan jadwal, selama kamu tidak membiarkan jadwal itu menjadi tuan atas batinmu. Sebaliknya, tidak ada yang salah dengan menjadi orang yang santai, selama kamu tetap menjalankan tanggung jawab dengan niat yang benar.
Coba tengok catatanmu. Apakah kamu menulis daftar itu untuk membantu dirimu sendiri, atau justru untuk menyiksa dirimu sendiri agar merasa cukup? Seringkali, kita menulis daftar tugas bukan karena ingin maju, tapi karena takut dianggap tidak berharga jika tidak sibuk. Itu adalah bisikan cemas yang tidak perlu kamu dengarkan.
Saat malam semakin larut, letakkan ponselmu. Rasakan heningnya kamar. Tidurlah dengan sadar bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kamu tidak menyelesaikan satu atau dua pekerjaan hari ini. Besok, semuanya akan terulang kembali. Kesempatan untuk memperbaiki diri akan selalu ada. Itu adalah janji dari waktu yang bersifat melingkar. Ia tidak pernah benar-benar habis, ia hanya berganti rupa. Tarik napas panjang. Tutup matamu. Besok adalah hari yang baru, dan kamu punya waktu untuk menjalaninya dengan cara yang lebih tenang, tanpa harus terburu-buru mengejar bayang-bayang di dinding.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.