Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Kebiasaan mengecek ramalan bintang jam satu malam

19 Oktober 2026 · 4 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Kebiasaan mengecek ramalan bintang jam satu malam

Jari saya masih menggulir tulisan peruntungan zodiak di layar ponsel yang menyala di kamar gelap. Di Damaskus tujuh abad lampau, orang-orang mendatangi peramal dengan kecemasan yang serupa.

Topik: Kecemasan & Overthinking · Pernikahan & Keluarga

Jam satu malam, layar ponsel menyala di kamar yang gelap. Jari saya menggulir pelan sebuah artikel peruntungan zodiak minggu ini.

Saya tahu tulisan itu disusun acak oleh penulis konten yang mungkin sedang terburu-buru mengejar target pembaca. Saya sarjana, saya bekerja tiap hari dengan angka di kantor, dan saya tahu bintang di langit tidak mengurusi cicilan motor saya. Namun jempol saya tetap mengetuk tautan itu.

Ada kebutuhan aneh dalam dada manusia untuk mengetahui hari esok sebelum ia tiba. Saat lelah atau cemas memikirkan kontrak kerja, kita gampang menaruh perhatian pada hal-hal ganjil, asal hal itu memberi sedikit rasa aman.

Ada cangkir teh yang sudah dingin di meja samping tempat tidur. Di dinding, jam terus berdetik tanpa tergesa. Hari tadi mungkin terasa berat dengan teguran atasan atau saldo rekening yang menipis lebih cepat dari perhitungan awal bulan.

Kebiasaan mencari petunjuk nasib ini punya riwayat yang panjang.

Tujuh ratus tahun lalu di Damaskus, seorang ulama bernama Ibnu Qayyim al-Jawziyyah memperhatikan tabiat manusia yang serupa. Ayahnya, Abu Bakr, adalah pengawas madrasah hukum Jawziyyah. Ibnu Qayyim tumbuh di lingkungan para ahli hukum mazhab Hanbali, lalu menghabiskan belasan tahun belajar kepada Ibnu Taimiyah sejak umur dua puluh satu tahun, tepatnya pada 1313.

Dalam kitabnya yang berjudul Miftah Dar al-Sa'adah, Ibnu Qayyim mencatat kejengkelannya terhadap peramal bintang.

Kala itu, banyak warga kota pergi menemui ahli nujum demi menanyakan nasib toko mereka atau masa depan pernikahan anak-anak mereka. Ibnu Qayyim membedah klaim itu dengan akal sehat: kalau jarak bintang begitu jauh sehingga pengaruh fisiknya mengecil, kenapa para peramal menganggap Merkurius yang kecil punya pengaruh besar terhadap nasib manusia? Ia juga menyinggung titik imajiner bernama al-Ra's dan al-Dhanab yang dipakai meramal tanpa ada bukti wujudnya di langit.

Bagi Ibnu Qayyim, orang yang menggantungkan ketenangan batinnya pada peredaran benda langit adalah orang yang kehilangan arah tentang jiwanya sendiri.

Kritik tegas itu bukan lahir dari kesombongan seorang sarjana di balik meja nyaman. Ibnu Qayyim sendiri tahu betul bagaimana rasanya terkurung dalam ketidakpastian yang dingin.

Pada 1326, silang pendapat hukum mengenai perkara talak dan ziarah kubur menyeretnya ke dalam tahanan. Para hakim dari empat mazhab sepakat menahannya di Benteng Damaskus bersama gurunya, Ibnu Taimiyah.

Penjara abad pertengahan bukan tempat yang ramah. Tidak ada tanggal pasti kapan pintu sel akan dibuka. Di sana tidak ada ruang gerak, tidak ada kabar dari keluarga, dan tidak ada jaminan hidup untuk hari esok.

Ketika kendali atas masa depan diambil dari tangan kita, rasa cemas biasanya menuntut kepastian secepat mungkin. Kita ingin membuka pintu yang terkunci, atau setidaknya mengintip lubang kunci.

Ibnu Qayyim tidak memegang ramalan bintang di dalam sel itu.

Ibnu Rajab, salah seorang murid yang mencatat riwayat hidupnya, menceritakan bahwa selama dua tahun di benteng tersebut, Ibnu Qayyim menyibukkan diri dengan satu hal: mushaf Al-Qur'an. Alih-alih memikirkan putusan hakim yang berada di luar kuasanya, ia melatih jiwanya untuk hadir penuh di lantai selnya. Di ruangan batu itu, ia merasakan apa yang sering disebut sebagai dhawq, sebuah ketenangan batin yang hadir saat seseorang berhenti memaksakan kehendak atas hari esok.

Ibnu Taimiyah wafat di penjara itu pada 1328. Setelah kepergian gurunya, barulah Ibnu Qayyim dibebaskan.

Ia keluar dari benteng itu tanpa berubah menjadi orang yang sinis.

Bertahun-tahun setelahnya, ia banyak menulis tentang pembenahan batin. Dalam Al-Wabil al-Sayyib, ia mengupas laku zikir. Ia juga menulis syarah panjang berjudul Madarij al-Salikin untuk karya sufi Khwaja Abdullah Ansari. Ibnu Qayyim menghormati Ansari, meski ia meninggalkan ucapan jujur: saya mencintai sang guru, tetapi saya lebih mencintai kebenaran.

Kejujuran itu yang sering kali luntur dari kita saat tengah malam.

Membaca ramalan bintang di internet sebenarnya cara pikiran kita yang panik melarikan diri dari kenyataan. Kita merasa tidak berdaya menghadapi hari esok, lalu mencari sandaran semu agar tidak perlu merasakan kelelahan hari ini.

Padahal rasa cemas itu manusiawi.

Dua tahun mendekam di Benteng Damaskus memberi pelajaran bagi Ibnu Qayyim bahwa rasa tenang tidak lahir dari usaha menebak masa depan. Ketenangan datang saat seseorang menerima keterbatasannya sendiri. Bintang di angkasa tetap berputar pada porosnya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengurus dompet atau kesepian kita.

Ketika ia wafat pada usia enam puluh tahun di bulan Rajab tahun 751 Hijriah dan dimakamkan di dekat ayahnya di pemakaman Bab al-Saghir, catatan yang ia tinggalkan menjadi pengingat sederhana: manusia tidak membutuhkan ramalan nasib untuk bertahan hidup.

Malam ini, saat jarimu gatal ingin membuka artikel zodiak atau memikirkan masalah bulan depan, letakkan ponsel itu di meja.

Tarik napas perlahan.

Hari esok belum tiba. Tugas kita malam ini cuma mematikan lampu dan tidur.

Baca juga

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.