Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
10 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Pada Juli 1091, Al-Ghazali menduduki kursi pengajar tertinggi di Nizamiyya Baghdad, namun empat tahun kemudian lidahnya mendadak kelu di depan para murid karena beban ego yang ia pikul.
Topik: Syukur & Kebahagiaan · Burnout & Dunia Kerja
Pesanmu masuk jam sebelas malam lewat sedikit: "Aku sudah dapat promosi yang kuincar dua tahun, tapi tiap kali ada yang memberi selamat di grup kantor, dadaku malah sesak dan merasa palsu."
Aku membaca kalimat itu sambil duduk di tepi kasur, memandangi cangkir teh yang sudah dingin sejak magrib. Rasanya banyak orang pernah berada di posisi itu. Kita bersusah payah memanjat anak tangga karier, begadang sampai larut, menyisihkan waktu tidur, lalu saat tiba di lantai yang kita tuju, kita mendadak ingin putar balik. Keberhasilan yang sudah lama diidamkan ternyata tidak menghadirkan rasa tenang.
Kisah yang serupa pernah dialami seorang pemikir besar bernama Al-Ghazali. Lahir sekitar tahun 1058 di Tus, ia menuntut ilmu bertahun-tahun di Nishapur di bawah bimbingan gurunya, al-Juwayni. Kecerdasannya yang menonjol menarik perhatian Nizam al-Mulk, wazir penguasa Dinasti Seljuk. Pada Juli 1091, sang wazir mengangkatnya menjadi pimpinan pengajar di Nizamiyya Baghdad. Tempat itu merupakan pusat kajian paling terpandang di dunia Islam kala itu.
Usia Al-Ghazali baru tiga puluhan ketika memegang kursi pengajar tertinggi tersebut. Ratusan penuntut ilmu, bangsawan, dan sarjana terkemuka memadati ruang kuliahnya untuk mendengarkan tiap fatwa dan argumentasinya. Ia diberi gelar kehormatan dan dielu-elukan ke mana pun ia pergi.
Namun kemuliaan duniawi itu perlahan meremukkan batinnya.
Empat tahun setelah menduduki jabatan puncak itu, tubuhnya memberikan perlawanan keras. Suatu hari pada tahun 1095, ketika hendak mengajar para muridnya, lidah Al-Ghazali mendadak kelu. Tidak ada satu patah kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya. Selera makannya lenyap, lambungnya menolak makanan padat, dan tenaganya merosot drastis. Tabib istana didatangkan untuk memeriksa kondisi fisiknya, tetapi mereka tidak menemukan penyakit fisik apa pun. Tubuhnya mogok karena jiwanya sedang menderita tekanan batin yang berat.
Al-Ghazali belakangan menuliskan kejadian itu tanpa menutupi aibnya sendiri. Ia menyadari sebuah kenyataan yang pahit: seluruh keilmuan, kepandaian berdebat, dan posisinya di mimbar Nizamiyya ternyata digerakkan oleh kecintaan pada popularitas dan sanjungan publik. Ia menyibukkan diri demi menjaga gengsi, sementara keridhaan Allah tergeser ke sudut belakang.
Mengakui borok hati semacam itu di depan diri sendiri menuntut kejujuran yang sangat perih.
Maka di puncak kariernya pada tahun 1095, Al-Ghazali memutuskan pergi. Ia menanggalkan jabatannya di Nizamiyya, meninggalkan lingkaran kekuasaan di Baghdad, dan membagikan hartanya. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kehormatan. Ia berkelana sebagai musafir sederhana ke Damaskus dan Yerusalem, berdiam diri di sudut-sudut masjid, menyapu lantai, dan menata ulang niatnya dari nol. Dari masa pengasingan itulah lahir kitab Ihya Ulum al-Din, sebuah karya yang ia susun untuk menghidupkan kembali kepekaan spiritual yang sempat padam di balik tumpukan dalil dan status sosial.
Rasa sesak yang kamu keluhkan semalam bukan tanda bahwa kamu tidak bersyukur. Itu sinyal sehat dari hatimu. Batinmu sedang memberi tahu bahwa ada jurang pemisah antara gelar barumu dan kebutuhan jiwamu yang sebenarnya.
Selama dua tahun terakhir, energimu terkuras untuk memenangkan perlombaan kantor. Kamu mungkin percaya bahwa setelah email pengumuman itu disebarkan dan gajimu naik, semua keraguan tentang dirimu akan hilang seketika. Kenyataannya, posisi baru itu langsung menuntut topeng baru yang jauh lebih berat. Kamu merasa tidak boleh salah. Kamu takut terlihat ragu di hadapan tim, dan kamu cemas orang lain akan menilai bahwa kamu tidak pantas berada di sana. Menjaga citra tanpa cela di hadapan rekan kerja adalah pekerjaan yang menguras tenaga.
Al-Ghazali tidak membuang pengetahuannya saat ia melangkah keluar dari Baghdad. Yang ia tanggalkan hanyalah rasa lapar akan penghormatan manusia.
Tentu saja kamu tidak perlu mengajukan surat pengunduran diri besok pagi seperti yang dilakukan Al-Ghazali di abad kesebelas. Kondisimu sangat berbeda. Ada biaya sewa rumah yang harus dibayar tepat waktu, ada tagihan dapur, dan ada keluarga yang bergantung padamu. Meninggalkan pekerjaan secara mendadak justru akan melahirkan kesulitan hidup yang tidak perlu.
Yang perlu kamu ubah sekarang hanyalah caramu memandang posisi barumu itu.
Mulai esok hari, letakkan jabatanmu di atas meja kerja saja; jangan bawa pulang ke dalam tempat tidurmu. Perlakukan pekerjaan ini sebagai ikhtiar mencari rezeki yang halal, bukan panggung untuk mengukur harga dirimu di hadapan sesama manusia. Bila ada kawan kantor memujimu, balaslah dengan senyum dan ucapan terima kasih yang wajar, tanpa perlu merasa harus menjadi orang paling pintar di ruangan itu. Boleh sekali bilang bahwa kamu belum tahu saat ada kendala baru, lalu belajar bersama tim tanpa rasa malu.
Besok pagi, sebelum kamu membuka laptop dan membaca pesan kerja, tariklah napas perlahan. Jalani tugasmu sebaik mungkin, penuhi kewajibanmu kepada orang lain, lalu tutup laptopmu tepat waktu saat jam kerja usai. Nilaimu sebagai hamba Allah tidak pernah ditentukan oleh sebaris nama jabatan di tanda pengenal kantor.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.