Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
8 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Pukul sepuluh malam saya menangis di undakan masjid, tetapi dua puluh menit kemudian memaki pengemudi mobil di tikungan jalan.
Topik: Sabar & Tawakal · Burnout & Dunia Kerja
Pukul sepuluh malam lewat sedikit, saya duduk di undakan masjid dekat perumahan. Kaki masih dingin terkena air wudu, aroma minyak wangi sisa jamaah di sebelah masih menempel di lengan baju, dan lampu teras masjid sudah mulai dipadamkan satu per satu oleh marbot. Malam itu, doa terasa sampai ke ulu hati. Dada terasa lapang, seolah semua ketakutan soal cicilan rumah dan masa depan lenyap tanpa sisa. Saya merasa sudah menjadi manusia baru yang bersih dan tenang.
Dua puluh menit kemudian, di tikungan jalan raya yang gelap, sebuah minibus memotong lajur motor saya tanpa menyalakan lampu sein. Tangan saya spontan menekan klakson panjang tanpa jeda. Mulut saya melontarkan makian kasar, dan rasa damai yang tadi memenuhi dada langsung lenyap berganti degup jantung yang kencang dan amarah yang mendidih.
Sampai di kontrakan, saya melempar kunci motor ke atas meja makan. Bunyi denting logamnya terdengar keras di ruangan sepi. Sambil berdiri menatap pintu kulkas yang berdengung, saya merasa malu pada diri sendiri. Dua puluh menit yang lalu saya merasa begitu pasrah di hadapan Tuhan, tetapi urusan lampu sein saja langsung meruntuhkan seluruh ketenangan itu dalam satu detik.
Kejadian seperti itu bukan cuma menimpa saya satu kali. Banyak orang mengira ketika mereka selesai mengikuti pengajian, menyelesaikan itikaf panjang, atau selesai shalat dengan air mata yang menetes, jiwa mereka otomatis sudah naik kelas. Kita merasa sudah menjadi orang yang lebih sabar dan bijaksana hanya karena baru saja mencicipi satu momen hening yang kuat.
Kyle Kowalski menulis rangkuman menarik dari enam buku pemikir Ken Wilber mengenai dua hal yang sering dicampuradukkan orang: keadaan batin sesaat dan tahap kedewasaan. Wilber menyebut pengalaman batin yang tiba-tiba sebagai bagian dari proses bangun kesadaran, sementara kedewasaan diri adalah proses tumbuh. Dua hal ini sangat berlainan jalurnya.
Pengalaman tersentuh, rasa damai yang meluap, atau rasa dekat dengan Yang Maha Kuasa bisa datang kepada siapa saja tanpa memandang umur atau kepintaran. Kondisi batin semacam ini bisa muncul saat shalat malam, saat berjalan sendirian di bawah rintik hujan, atau bahkan saat kita terbangun di antara mimpi dan terjaga. Pengalaman itu nyata, tetapi sifatnya sementara. Datang sebentar, lalu pergi lagi.
Tantangan yang jauh lebih berat menurut catatan Wilber adalah mengubah kondisi sesaat itu menjadi karakter yang menetap. Kita bisa saja merasakan kepasrahan total di atas sajadah selama sepuluh menit. Namun, begitu kita berdiri dan kembali ke dunia nyata, kita akan berinteraksi menggunakan tahap kedewasaan kita yang sebenarnya. Kalau kematangan emosi kita masih tipis, kepasrahan tadi akan langsung menguap begitu piring kotor di wastafel menumpuk atau anak menangis menolak tidur.
Wilber juga mengingatkan bahwa cara seseorang mengartikan pengalaman batinnya akan selalu mengikuti seberapa dewasa cara berpikirnya saat itu. Orang yang berpikiran sempit akan memakai pengalaman spiritualnya untuk merasa lebih suci daripada tetangga sebelah. Mereka merasa sudah memegang kebenaran mutlak hanya karena pernah menangis dalam doa. Pengalaman batin yang luas dipersempit oleh wadah pikiran yang belum matang.
Ada satu konsep lain yang dijelaskan Wilber, yaitu kekeliruan membedakan tingkatan sebelum rasional dengan tingkatan melampaui rasional. Banyak orang mengira sikap pasrah itu sama dengan bersikap masa bodoh seperti anak kecil. Anak balita memang tidak pusing memikirkan hari esok karena mereka belum paham tanggung jawab hidup. Itu adalah tahap sebelum logika bekerja. Sementara orang dewasa yang berserah diri kepada takdir bertindak setelah mereka berusaha sekuat tenaga dan menerima keterbatasan diri. Keduanya sama-sama tidak cemas, tetapi kualitas batin di baliknya berjarak ribuan langkah.
Kedewasaan batin tidak bisa dipotong kompas dengan sekadar memperbanyak ritual tanpa melatih kesabaran sehari-hari. Ritual memberi kita jeda dan rasa tenang sesaat agar jiwa kita tidak patah oleh tekanan hidup. Yang menentukan mutu jiwa seseorang justru terlihat dari bagaimana ia bereaksi ketika harapannya ditolak, ketika gajinya telat dibayar, atau ketika pendapatnya diremehkan orang lain dalam rapat keluarga.
Kini saya berhenti membanggakan momen-momen ketika shalat terasa nikmat atau doa terasa syahdu. Momen-momen itu adalah hadiah kecil yang patut disyukuri, semacam oase singkat di tengah hari yang melelahkan. Namun, itu bukan garis akhir.
Tugas kita yang sesungguhnya baru dimulai besok pagi pukul tujuh. Tugas itu ada di dapur saat mencuci wajan berminyak, ada di jalanan saat macet mengular, dan ada di meja kantor saat rekan kerja melemparkan beban pekerjaannya kepada kita. Di sanalah kita membuktikan apakah ketenangan yang kita rasakan di atas sajadah semalam sanggup bertahan menjadi perangai, atau cuma cerita sepuluh menit yang langsung habis ditelan bunyi klakson.
Disadur dari www.sloww.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.