Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
7 Oktober 2026 · 2 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Ada saat ketika hidup terasa seperti naskah yang ditulis dengan terlalu banyak drama dan kesedihan yang melelahkan.
Topik: Burnout & Dunia Kerja
Jam dua dini hari, saya menatap plafon kamar. Pikirannya melompat dari satu kekecewaan ke kekecewaan lain yang terjadi minggu lalu. Kadang, hidup terasa begitu berat sampai saya merasa seperti pion yang digerakkan oleh tangan tak terlihat, lalu dijatuhkan begitu saja saat sudah tidak dibutuhkan. Rasanya tidak adil menjadi pihak yang terus-menerus menelan pahitnya kejadian.
Sebuah pemikiran muncul di tengah keheningan itu. Bagaimana jika seluruh kejadian yang membuat saya marah, lelah, dan bersedih ini hanyalah bagian dari sebuah sandiwara besar? Kita terbiasa menempatkan diri sebagai orang yang terzalimi oleh nasib. Kita merasa menjadi korban dari skenario yang tidak kita buat sendiri. Namun, coba posisikan diri di kursi penonton. Dalam sebuah lakon, tidak mungkin ada cerita jika semuanya serba manis dan tenang.
Penulis naskah drama mana pun pasti tahu bahwa karakter protagonis membutuhkan tantangan. Mereka butuh konflik untuk tumbuh. Begitu pula dengan kehidupan yang kita jalani. Jika tidak ada kesulitan atau pihak yang berseberangan dengan keinginan kita, cerita ini tidak akan memiliki alur. Sisi gelap dan terang hadir dalam porsi yang pas agar drama ini tetap berjalan. Jika hanya kebahagiaan yang ada, maka tidak akan ada perkembangan.
Seseorang mungkin merasa lelah karena terus berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan di kantor. Atau ada juga yang berduka karena kehilangan sesuatu yang dianggap berharga. Saya pernah terjebak dalam rasa kesal yang luar biasa pada situasi seperti itu. Rasanya seolah-olah semesta sedang mengerjai saya secara pribadi. Namun, bila kita berhenti sejenak dan melihat pola besarnya, mungkin kesesakan itu adalah bagian yang memang harus ada agar saya bisa belajar sesuatu.
Ada sebuah sudut pandang yang sedikit menenangkan di tengah kekacauan ini. Bahwa setiap karakter, baik itu mereka yang berperan sebagai penjahat maupun orang bijak, sebenarnya berasal dari akar yang sama. Kita semua sedang menjalankan peran yang diberikan di panggung ini. Tidak ada pihak yang benar-benar berdiri sendiri sebagai musuh yang terpisah dari kehendak Yang Maha Kuasa. Padahal, kita seringkali sibuk melabeli orang lain sebagai pengganggu, lupa bahwa mereka pun sedang sibuk memainkan naskah mereka sendiri.
Saya tidak sedang menyarankan untuk pasrah dan tidak melakukan apa-apa saat menghadapi masalah. Hanya saja, beban emosional yang kita pikul akan berkurang jika kita berhenti menganggap bahwa dunia ini adalah tempat yang salah. Justru, dengan menerima bahwa kesedihan memiliki tempat yang sama pentingnya dengan kegembiraan, kita bisa sedikit bernapas lega. Energi yang biasanya habis digunakan untuk mengeluh bisa disimpan untuk menjalani peran hari ini dengan lebih baik.
Besok pagi, saat alarm berbunyi dan rutinitas dimulai kembali, saya akan mencoba melihat setiap hambatan bukan sebagai serangan pribadi. Mereka hanyalah plot dalam bab kehidupan hari ini. Peran ini menuntut saya untuk tetap hadir meski naskah yang diberikan tidak selalu sesuai dengan selera. Saya akan bangun, membuat kopi, dan kembali menjadi pemeran di atas panggung kehidupan yang luas ini.
Disadur dari www.sloww.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.