Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
17 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Jam satu malam di atas kasur, jempol saya menyusuri ruas jari telunjuk sambil melafalkan kalimat yang sama berulang kali.
Topik: Kecemasan & Overthinking · Burnout & Dunia Kerja
Jam satu malam lewat sedikit, dan kamar tidur saya hanya diterangi lampu jalan dari celah gorden. Di atas kasur tipis ini, jempol tangan kanan saya bergerak perlahan, menyusuri ruas-ruas jari telunjuk, jari tengah, lalu manis. Satu persatu. Setiap ketukan kecil di kulit diiringi lafal pelan yang nyaris tidak terdengar oleh telinga sendiri.
Saya sedang mencoba berzikir. Tepatnya, memaksakan diri untuk melakukannya.
Beberapa jam sebelumnya, kepala saya terasa sangat bising. Ada pesan pekerjaan yang belum selesai, kekhawatiran tentang tagihan awal bulan, dan rasa cemas tanpa nama yang biasa mampir saat tubuh sudah rebahan. Lalu saya teringat potongan ayat yang sering dikutip orang, Surah ar-Ra'd ayat 28. Di sana tertulis bahwa dengan mengingat Allah, hati memperoleh ketenangan. Janjinya terdengar sederhana dan menenteramkan. Siapa pun yang sedang letih tentu ingin hati yang tenang.
Praktiknya ternyata tidak sesederhana membalik telapak tangan.
Mulut saya mengucap Subhanallah tiga puluh tiga kali, lalu Alhamdulillah. Namun pikiran saya malah melompat ke percakapan canggung tadi sore di kantor. Lidah saya sibuk menyuarakan pujian, sementara otak saya sibuk menyusun argumen untuk membela diri di hadapan atasan. Jari-jari terus menghitung putaran ruas demi ruas secara mekanis, seperti mesin hitung otomatis yang tidak punya rasa.
Saya sempat berhenti di hitungan kedua puluh. Rasanya ada yang salah.
Dalam penjelasan mengenai ibadah ini, orang yang berzikir disebut sebagai seorang dhakir. Tujuannya adalah menghadirkan kesadaran batin, menautkan ucapan bibir dengan perhatian yang utuh. Kata-kata doa itu mestinya mengisi ruang batin, bukan sekadar bunyi yang keluar dari tenggorokan sementara kepala berkelana ke mana-mana.
Mengetahui hal itu membuat saya sempat merasa bersalah. Apakah zikir saya yang compang-camping ini ada gunanya kalau pikiran saya masih dipenuhi urusan sepele duniawi? Rasa ragu itu muncul begitu saja. Saya sempat ingin melepaskan tangan, menarik selimut, dan menyerah tidur saja.
Di tengah keraguan itu, saya membuka ponsel dan mengecek catatan lama tentang Surah al-Kahf ayat 24. Ayat itu berbicara tentang anjuran untuk mengingat Tuhan saat kita terlupa. Menariknya, ayat tersebut tidak menuntut manusia untuk langsung menjadi makhluk yang sempurna dan fokus seratus persen sepanjang waktu. Ayat itu berbicara kepada orang yang lupa. Seseorang yang sering tergelincir, hilang arah beberapa saat, lalu disuruh untuk kembali menyebut nama Tuhannya.
Manusia memang tempatnya lalai. Saya melupakan hal itu.
Ketika membaca nama-nama seperti Ar-Rahman yang Maha Pengasih dan Al-Karim yang Maha Pemurah, saya tersadar akan sesuatu. Dua sifat itu tidak ditujukan kepada malaikat yang suci dari salah. Dua nama itu disapa kepada orang-orang seperti saya, yang sedang berbaring lelah di tengah malam dengan kepala penuh kekacauan dan hati yang gampang goyah. Kalau kita harus menunggu hati bersih tanpa beban sebelum menyebut nama-Nya, mungkin kita tidak akan pernah mengucapkannya sama sekali.
Ketidakhadiran fokus tadi tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Zikir dengan pikiran yang melayang mungkin jauh dari sempurna, tetapi itu langkah pertama agar batin tidak sepenuhnya tenggelam oleh kepanikan harian.
Surah al-Ahzab ayat 41 meminta orang-orang beriman untuk berzikir sebanyak-banyaknya. Bukan karena Tuhan butuh dihitung pujiannya, melainkan karena kita yang mudah sekali tersesat dalam hitungan menit kalau dibiarkan tanpa pegangan. Kadang ada orang yang memakai butiran tasbih kayu, ada yang memakai cincin penghitung digital, dan ada yang cukup memakai ruas jarinya sendiri seperti yang saya lakukan malam ini. Alatnya bisa apa saja. Yang diuji adalah kesabaran kita untuk kembali setiap kali perhatian kita terlempar jauh.
Saya menarik napas panjang. Kamar masih hening. Deru kendaraan di jalan raya luar sudah jarang terdengar.
Saya memulai hitungan lagi dari ruas pangkal jari kelingking. Kali ini saya melambatkan tempo. Saya tidak lagi memburu angka tiga puluh tiga agar cepat selesai dan bisa tidur. Ketika kata Astaghfirullah keluar dari bibir, saya biarkan kata itu berhenti sejenak di dada. Saya akui rasa letih saya. Saya akui bahwa saya tidak punya kendali penuh atas hari esok.
Pikiran saya masih sempat teralihkan sekali atau dua kali ke urusan cicilan motor. Bedanya, kali ini saya tidak menghakimi diri sendiri. Begitu sadar pikiran saya kabur, saya cukup menggeser jempol ke ruas jari berikutnya dan melafalkan kalimat baru. Menghadirkan hati itu bukan peristiwa sekali jadi; proses ini menuntut kita berulang kali memanggil pulang pikiran yang tersesat.
Sekarang jam menunjukkan pukul satu lewat empat puluh. Rasa cemas di dada saya belum hilang sepenuhnya, dan masalah pekerjaan besok pagi tetap menunggu di meja kantor. Yang berubah hanyalah napas saya yang kini lebih teratur. Setidaknya, jempol saya sudah selesai menyusuri seluruh ruas jari tangan kanan, dan malam ini terasa sedikit lebih lengang.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.