Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
8 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Di balik tumpukan dokumen pernikahan, ada kesepakatan sederhana yang sering terabaikan di tengah riuh pesta. Pernikahan bukan cuma tentang walimah, tapi tentang perjanjian yang mengikat dua manusia.
Topik: Pernikahan & Keluarga
Pukul dua pagi, saya masih memandangi secarik kertas di meja kayu yang mulai kusam. Itu bukan dokumen penting yang menentukan nasib perusahaan atau aset bernilai tinggi. Hanya salinan akta nikah milik kakek dan nenek, tertulis tahun 1957. Kertasnya sudah menguning, tintanya pun perlahan memudar, namun di sana tercantum janji yang disaksikan oleh dua orang saksi di sebuah desa kecil. Saat itu, mungkin mereka tidak terpikir bahwa selembar kertas ini akan menjadi pondasi bagi kehidupan yang bertahan puluhan tahun, melewati badai ekonomi hingga cucu yang lahir dan tumbuh dewasa.
Kebanyakan dari kita kini melihat pernikahan sebagai rangkaian acara yang melelahkan. Kita sibuk memilih warna dekorasi, menentukan jumlah tamu yang harus diundang, hingga memikirkan bagaimana foto di media sosial akan terlihat. Semua hal itu memang ada, namun ada bagian yang sering kali terasa jauh lebih sunyi: akad itu sendiri. Di dalam tradisi kita, momen ini sering kali hanya dianggap sebagai prosedur legal agar hubungan dianggap sah secara agama dan hukum. Padahal, jika kita mau menepi sejenak dari keramaian, akad itu adalah sebuah janji di depan saksi bahwa ada hak dan kewajiban yang berpindah tangan.
Dalam bahasa Arab, istilah yang sering digunakan adalah nikah. Ia bukan sekadar upacara, melainkan sebuah kontrak. Bayangkan betapa seriusnya para leluhur kita dulu. Tanpa pesta mewah, tanpa katering dengan pilihan menu internasional, mereka berpegang pada kesepakatan. Ada mahar yang diberikan, bukan sebagai harga beli seorang perempuan, melainkan sebagai wujud tanggung jawab dan penghormatan. Jika kakek saya memberikan mahar berupa alat shalat atau emas yang tidak seberapa, itu adalah pengakuan bahwa ia siap menanggung beban hidup bersama nenek. Ini bukan soal angka di balik nominal mahar tersebut. Ini tentang keberanian seorang laki-laki untuk berkata, 'Aku sanggup menjagamu di depan Tuhan'.
Kita sering menganggap remeh kekuatan sebuah kata yang terucap. Padahal, di dalam ajaran yang kita pelajari, kata-kata adalah beban yang harus dipertanggungjawabkan. Saat seorang suami mengucapkan kabul, ia sebenarnya sedang menandatangani kontrak seumur hidup yang tidak bisa dibatalkan semudah kita menghapus pesan di aplikasi obrolan. Ada hak-hak yang harus dipenuhi, ada ruang batin yang harus dijaga agar tidak retak oleh ego masing-masing. Ketika kehidupan sehari-hari terasa berat, dan tagihan bulan depan mulai menumpuk di meja, mungkin saat itulah kita kembali diingatkan pada komitmen awal tersebut.
Banyak orang merasa cemas karena dunia hari ini menuntut kesempurnaan. Kita takut jika pernikahan tidak terlihat ideal, maka kita dianggap gagal. Kita sering membandingkan hubungan kita dengan orang lain yang tampil rapi di layar ponsel. Padahal, pernikahan kakek saya tidak pernah dihiasi dengan filter estetika. Mereka bertengkar karena masalah sepele, mungkin soal garam yang kurang atau siapa yang lupa mematikan lampu teras, namun mereka tidak lari saat rasa lelah itu datang. Mereka memahami bahwa kontrak itu menuntut ketahanan. Ada masa ketika rasa cinta memudar, dan yang tersisa hanyalah janji yang diucapkan di depan saksi tadi.
Ketenangan batin tidak muncul dari pesta yang megah. Ia justru datang dari kesadaran bahwa kita sedang berada di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat, di bawah ikatan yang jujur. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari cara agar pernikahan terasa seperti dongeng, hingga kita melupakan realitas bahwa hidup ini memang penuh dengan kekacauan yang tidak bisa diprediksi. Menjalani hari-hari bersama pasangan berarti siap menerima bagian yang tidak sempurna dari mereka. Siap melihat sisi lelah mereka saat pulang kerja, siap menghadapi kebiasaan buruk yang awalnya tidak kita sadari ada.
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluh tentang beratnya menyesuaikan diri dengan pola hidup pasangannya setelah dua tahun menikah. Mereka sering berdebat tentang pembagian tugas domestik, hal-hal membosankan seperti siapa yang mencuci piring atau membuang sampah. Saya hanya tersenyum dan berkata bahwa mungkin di sanalah letak ibadahnya. Di antara piring kotor dan sisa makanan, ada ruang untuk saling mengerti dan menahan diri. Tidak selalu harus ada percakapan puitis setiap malam. Terkadang, cukup dengan duduk berdampingan tanpa bicara, sambil membiarkan waktu berlalu tanpa harus merasa harus melakukan sesuatu yang hebat.
Pernikahan adalah tentang dua orang yang sepakat untuk tidak menyerah ketika keadaan menjadi sulit. Jika kita hanya mencari kebahagiaan yang terus-menerus, kita akan kecewa. Namun, jika kita melihat pernikahan sebagai sebuah tempat untuk bertumbuh, mungkin kita akan lebih sabar. Kita belajar bahwa memberi itu tidak harus selalu dalam bentuk barang mewah. Mendengarkan keluhan pasangan saat mereka lelah, itu sudah merupakan bagian dari pemenuhan hak. Memberikan ruang bagi mereka untuk menenangkan diri, itu juga bentuk kasih sayang yang nyata.
Akad yang dulu diucapkan di depan penghulu atau saksi adalah pengingat bahwa kita tidak sendirian memikul beban dunia. Ada seseorang yang sudah berjanji untuk berbagi beban itu dengan kita. Meskipun dunia di luar sana sedang bergejolak, dan kita sering merasa cemas dengan ketidakpastian masa depan, ada tempat untuk pulang. Di dalam rumah yang mungkin tidak luas, di atas lantai yang mungkin tidak selalu bersih, ada ketenangan yang bisa kita bangun bersama. Bukan melalui kesempurnaan, tapi melalui keberanian untuk tetap bertahan meski sering kali ingin menyerah. Itu adalah bentuk pengabdian yang paling membumi yang bisa kita lakukan setiap harinya.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.