Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
23 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Pukul tiga dini hari, alarm berdering di samping segelas air hangat yang belum sempat diminum.
Topik: Kecemasan & Overthinking
Pukul 03.45, alarm kedua berdering di dekat botol minum yang tinggal seperempat di atas meja. Saya terbangun dengan tenggorokan kering, punggung pegal, dan kepala agak berdenyut. Pikiran pertama yang melintas sering kali bukan perihal pahala yang melimpah, melainkan pertanyaan sederhana: apakah badan ini sanggup bertahan sampai petang nanti tanpa tumbang?
Ada hari-hari ketika puasa terasa berat dijalani. Beban kerja kantor menumpuk, tenggat waktu mendesak, atau tubuh sedang diserang demam ringan. Dari percakapan singkat di ruang istirahat kantor atau obrolan santai di rumah, keraguan yang sama sering muncul berulang kali.
Rasa bersalah kerap menekan dada saat seseorang terpaksa minum obat penurun panas pada jam satu siang. Ada perasaan bersalah seolah-olah ketahanan iman sedang runtuh di hadapan secangkir air. Pandangan itu membuat banyak orang memilih memaksakan diri bertahan walau lambung sudah melilit hebat.
Teks Al-Qur'an memandang kerapuhan tubuh dengan sangat manusiawi. Dalam surah Al-Baqarah ayat 184 dan 185, kelonggaran bagi orang yang sakit atau sedang menempuh perjalanan jauh tertulis dengan tegas. Syariat tidak dirancang untuk menjebak seseorang dalam bahaya fisik. Hari-hari yang terlewat karena kondisi badan yang tidak memungkinkan cukup diganti di lain waktu ketika kesehatan sudah pulih. Bagi orang yang memiliki kondisi menahun dan tidak lagi sanggup berpuasa, ketentuan fidyah hadir sebagai jalan keluar. Mengakui bahwa raga sedang butuh diobati merupakan bentuk kepatuhan terhadap aturan yang sama.
Kekhawatiran soal niat juga sering menghantui orang-orang yang terbangun mepet dengan waktu subuh. Mereka panik karena merasa belum membaca susunan kalimat tertentu dalam bahasa Arab sebelum tidur.
Niat berada di dalam tekad hati, bukan pada getaran suara yang keluar dari lidah. Niat menuntut ketetapan hati, bukan cuma hafalan kata-kata. Saat kamu menyalakan alarm dini hari dengan tujuan bangun untuk sahur, ketetapan itu sesungguhnya sudah bekerja. Keputusan sadar untuk menahan diri dari makan dan minum sejak batas fajar tiba sudah sah menjadi penanda niat. Al-Baqarah ayat 187 menggambarkan batas itu seperti terpisahnya benang putih fajar dari benang hitam malam. Kamu tidak perlu menyiksa pikiran dengan keraguan yang tidak perlu hanya karena lidahmu tidak sempat melafalkan bait kalimat.
Pertanyaan ini biasanya muncul menjelang sore hari di jalan raya. Perut kosong, cuaca terik, dan seorang pengendara memotong jalur secara tiba-tiba di depan kita. Menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga azan magrib berkumandang memang rukun yang menggugurkan kewajiban. Kendati demikian, menahan lapar sendirian belum menyelesaikan persoalan batin.
Catatan dalam tradisi Islam menyebutkan bahwa puasa bisa berujung pada rasa lapar semata jika lisan tetap gemar berbohong dan mengumbar amarah. Tubuh memang berpuasa dari makanan, tetapi perangai masih rakus mencari pertengkaran. Hal ini tidak berarti kita harus berubah menjadi manusia tanpa emosi sama sekali. Kelelahan fisik tentu memicu rasa kesal lebih cepat dari biasanya. Yang diminta adalah jeda satu tarikan napas sebelum lidah melepaskan kata-kata kasar. Puasa melatih ruang jeda itu, agar kita tidak lekas membalas setiap gangguan kecil yang datang silih berganti.
Menjelang petang, semangkuk kolak dan beberapa butir kurma biasanya sudah tersaji di meja makan. Menatap hidangan sederhana itu sambil mendengarkan azan magrib adalah saat yang jujur bagi siapa pun. Kita tidak diwajibkan menjadi sempurna dalam satu malam; kita hanya diminta datang apa adanya dengan segala kelemahan manusiawi kita.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.