Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
17 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Seorang kawan bertanya apakah permohonannya sah jika tidak diucapkan dalam bahasa Arab. Pertanyaan lain menyusul tentang kerabatnya yang sengaja terbang umrah demi meminta pasangan hidup.
Topik: Iman & Spiritualitas · Kecemasan & Overthinking · Pernikahan & Keluarga
Pukul sebelas malam, ada pesan singkat masuk ke ponsel saya dari seorang kawan yang sedang gelisah. Dia merasa ada tatapan iri dan dengki dari lingkungan kantornya yang membuat badannya lemas berhari-hari. Dia takut terkena penyakit ain, tapi dia bingung karena tidak hafal kalimat perlindungan dalam lafal bahasa Arab. Pertanyaan berikutnya muncul tak lama kemudian: apakah Tuhan tetap mendengar bila dia memohon hanya dengan bahasa yang dia pakai sehari-hari di rumah?
Kegalauan semacam itu sering sekali singgah di kepala banyak orang. Kita kerap merasa permohonan kita tidak sah bila susunan katanya tidak rapi atau tidak mengikuti kalimat klasik para ulama. Ada juga rasa bersalah saat melihat orang lain mampu memesan tiket pesawat ke tanah suci demi hajat tertentu, sementara tabungan kita pas-pasan. Di forum tanya jawab SeekersGuidance, Shaykh Faraz Rabbani pernah mengurai keresahan-keresahan serupa ini secara jernih. Berikut dua pertanyaan yang paling sering ditanyakan, lengkap dengan cara memandangnya.
Bisa. Kamu boleh memakai bahasa apa pun yang mengalir di kepalamu saat ini.
Penyakit ain itu nyata. Nabi Muhammad memang menganjurkan ruqyah dan mengajarkan untaian perlindungan tertentu untuk menepisnya. Kalimat yang diajarkan Nabi adalah susunan kata yang paling rapi dan paling selamat. Kita dianjurkan mempelajarinya jika mampu. Namun, menggunakan bahasa ibu sama sekali tidak mengurangi kesungguhan permohonanmu. Allah tidak membatasi penerimaan doa pada aksara atau tata bahasa tertentu. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 186, tertulis bahwa ketika seorang hamba bertanya tentang Tuhannya, Dia menegaskan diri-Nya dekat dan mengabulkan panggilan siapa pun yang berseru kepada-Nya. Ayat itu tidak menyebutkan rumus baku kalimat, tidak menuntut dialek tertentu, dan tidak mensyaratkan status sosial si pemohon.
Imam Ghazali pernah menjelaskan bahwa letak sejati dari sebuah permohonan berada pada rasa butuh yang ada di dalam hati. Lidah kita bertugas memberi bentuk lahiriah pada rasa butuh itu. Bila hatimu gemetar karena cemas, lalu bibirmu hanya sanggup berbisik dalam bahasa Sunda atau bahasa Indonesia yang patah-patah meminta agar diselamatkan dari keburukan orang lain, permohonan itu sampai tanpa hambatan.
Tidak harus. Seorang perempuan yang mengangkat kedua tangannya di dapur rumah kontrakan sambil menunggui panci mendidih didengar sama jelasnya dengan orang yang berdiri tegak menghadap Ka'bah.
Banyak orang menabung bertahun-tahun untuk umrah dengan satu niat besar, misalnya meminta pasangan hidup. Niat itu baik dan mulia. Menempuh perjalanan jauh ke tanah suci memang dihormati dalam tradisi Islam. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan ada tiga doa yang mustajab: doa orang tua, doa orang yang terzalimi, dan doa orang yang sedang bepergian jauh atau musafir. Seseorang yang terbang ke Makkah mendapatkan kemuliaan karena posisi musafirnya serta kehormatan tempat yang dia datangi.
Namun, perjalanan umrah itu tidak membuat Allah menjadi lebih bersedia untuk mengabulkan permintaanmu dibanding kemarin. Keberangkatan itu mengubah diri orang yang berangkat, bukan mengubah kehendak Tuhan. Menempuh ribuan kilometer, meninggalkan kasur yang empuk, dan menatap bangunan batu tua di tanah gersang membuat hati seseorang luluh. Di sanalah dia merasa kecil, merasa lemah, dan akhirnya memohon dengan ketulusan yang belum pernah dia capai di kamar tidurnya sendiri. Manfaat perjalanan itu ada pada kerapuhan hati si pemohon, bukan pada jarak geografisnya. Jika kamu belum mampu berangkat, kamu tidak tertinggal apa-apa dalam urusan didengar oleh Sang Pencipta.
Sebagian dari kita merasa asing jika harus berbicara panjang lebar sehabis salat. Kita terbiasa buru-buru melipat sajadah, lalu kembali mengecek surel pekerjaan di meja makan.
Shaykh Faraz Rabbani menyarankan satu latihan sederhana yang bisa dicoba mulai malam ini. Setiap kali selesai menunaikan salat fardu, bacalah Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas. Setelah itu, jangan langsung berdiri. Tetaplah duduk bersila di tempatmu selama satu menit saja. Gunakan waktu enam puluh detik itu untuk berbicara kepada Allah memakai bahasamu sendiri, tanpa teks hafalan dan tanpa basa-basi yang dibuat-buat.
Ceritakan apa yang membuat pundakmu kaku seharian tadi. Sebutkan rasa takutmu tentang saldo rekening, tentang orang tua yang mulai sering sakit, atau tentang jodoh yang belum juga tampak tanda-tandanya. Lakukan kebiasaan duduk satu menit ini secara teratur selama tiga puluh hari. Perlahan-lahan, rasa canggung itu akan luntur dengan sendirinya.
Disadur dari seekersguidance.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.