Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Komentar Facebook kawan lama dan rasa lelah mencari jempol

18 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Komentar Facebook kawan lama dan rasa lelah mencari jempol

Surel itu masuk larut malam, menceritakan kawan SMA yang putus kontak gara-gara debat di kolom komentar status. Dari setelan pelacak di peramban sampai perburuan jempol, layar kaca memang pandai memancing ego kita.

Topik: Burnout & Dunia Kerja

Pesanmu masuk lewat surel semalam, tepat jam sebelas lewat sepuluh. Kamu menulis bahwa pertemananmu dengan kawan SMA pecah begitu saja setelah kalian berdebat sengit di kolom komentar status Facebook. Hal yang membuatmu makin gelisah, setelah kejadian itu kamu merasa makin terobsesi memeriksa berapa banyak orang yang menekan tombol suka pada unggahanmu berikutnya. Kamu merasa jiwamu sedang sakit karena haus pengakuan.

Rasa gelisah itu wajar. Hubungan bertahun-tahun di dunia nyata memang kerap goyah begitu dipindahkan ke layar digital. Kita yang tadinya saling mengenal baik di warung kopi atau ruang kelas mendadak melihat sisi lain kawan kita secara telanjang. Ada opini tajam tentang isu tertentu yang tidak pernah dibicarakan saat makan siang bareng, lalu mendadak terpampang di linimasa.

Sadaf Farooqi, seorang penulis di Karachi, mencatat pengalaman serupa di blog pribadinya. Dia mengamati pertemanan lamanya yang merenggang setelah saling terhubung di Facebook. Kawan-kawan lamanya membaca opininya, lalu memutuskan menantangnya secara terbuka di muka umum. Farooqi sempat meladeni bantahan itu, sebelum akhirnya dia menyadari satu hal: perdebatan berbalas di kolom komentar hanya membuang waktu dan menguras energi. Dia memilih undur diri dan menutup percakapan. Baginya, memilih diam dan meninggalkan perdebatan adalah jalan mencari rida Allah.

Berhenti membalas komentar orang memang bukan perkara mudah. Ego kita menuntut kemenangan. Ada dorongan di tenggorokan yang ingin memastikan bahwa kalimat terakhir tetap milik kita agar kita tidak terlihat bodoh.

Namun, bagian kedua dari pesanmu adalah titik yang paling mengkhawatirkan. Kamu heran kenapa setelah pertengkaran itu, hasratmu untuk pamer dan disukai orang asing malah makin menggebu.

Ponsel di genggamanmu memang sengaja dirancang untuk menyalakan sifat tamak akan pujian. Farooqi mengingat kembali momen ketika Facebook melakukan penawaran saham perdana atau IPO. Sejak saat itu, algoritma platform terasa makin invasif dan aneh. Farooqi mencontohkan pengalamannya saat menelusuri topik di peramban Safari di ponselnya, lalu seketika itu juga iklan bertarget tentang hal yang baru dicarinya muncul di beranda akunnya.

Pelacakan data pribadi hanyalah sisi luarnya. Ada manipulasi batin yang jauh lebih berbahaya yang diam-diam bekerja pada diri kita.

Platform digital sengaja memasang setelan bawaan akun ke mode Public. Pengguna didorong menyematkan tanda lokasi pada foto, mencantumkan nama orang lain, dan terus disodori daftar People You May Know. Saat kita mencoba menjauh dan tidak masuk beberapa hari, kotak masuk surel kita diberondong pengingat tentang status kawan yang belum sempat kita baca.

Sistem ini hidup dari kelemahan mendasar manusia: rasa ingin diterima dan diakui.

Kita ingin terlihat pintar, terpandang, dan berada di lingkaran yang tepat. Media sosial menyediakan panggung agar kita membagikan urusan remeh-temeh, lalu memberi kita penonton yang siap memuji. Kita mulai membongkar cucian kotor di hadapan publik tanpa rasa canggung. Sedikit demi sedikit, orang yang paling pendiam sekalipun diseret menjadi pemuja diri sendiri yang haus sorak sorai.

Saya sering merasa tidak nyaman melihat bagaimana linimasa menyulap orang-orang tenang menjadi pribadi yang rewel. Kita jadi gampang tersinggung, mudah melempar sindiran, dan selalu menuntut agar dunia luar memperhatikan unek-unek kita setiap jam.

Maka, untukmu yang sedang resah menatap layar di kamar yang gelap, saya punya usulan sederhana: mundurlah beberapa langkah.

Kamu tidak perlu meladeni setiap sanggahan dari teman lamamu itu. Di mata manusia biasa, orang yang berhenti menjawab sering dianggap kalah telak. Padahal, menahan diri untuk tidak membalas cercaan di ruang terbuka adalah bukti bahwa hatimu masih waras. Menelan amarah saat kamu punya kemampuan untuk membalas justru memiliki timbangan yang sangat berat di hadapan Allah.

Besok pagi, cobalah untuk tidak buru-buru menyentuh tombol perbarui status. Taruh ponselmu di laci meja kerja atau tinggalkan di ruang tengah saat kamu makan bersama keluarga. Jika kamu rindu kawan-kawanmu, temui mereka secara langsung atau kirim pesan pribadi tanpa perlu disaksikan ribuan pasang mata.

Tutup aplikasimu sekarang. Matikan lampu kamar, tarik selimut, dan biarkan kepalamu beristirahat tanpa beban harus menyenangkan algoritma.

Baca juga

Disadur dari aboutislam.net


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.