Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Alarm jam satu siang dan dua cara melihat sujud

12 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Alarm jam satu siang dan dua cara melihat sujud

Pukul satu siang, alarm ponsel bergetar di dekat tumpukan berkas. Bagi sebagian orang, suara itu terdengar seperti tagihan utang yang belum lunas.

Pukul satu siang, alarm ponsel bergetar di dekat tumpukan berkas. Layar menyala singkat, menampilkan pengingat waktu zuhur. Kepala sedang pening, dua surel mendesak belum dibalas, dan punggung terasa kaku sehabis duduk empat jam tanpa jeda. Pada menit itu, ada dorongan kuat untuk menekan tombol tunda.

Reaksi seperti itu manusiawi. Banyak orang memandang salat semata-mata sebagai daftar tugas yang harus dicoret. Cara pandang pertama ini menempatkan lima waktu wajib sebagai deretan setoran harian. Begitu azan terdengar, yang muncul di kepala adalah beban. Ada rasa bersalah jika menundanya, tetapi menjalankannya pun terasa berat karena tenaga sudah terkuras untuk urusan kantor dan rumah tangga. Setiap gerakan, mulai dari takbir, ruku, hingga menempelkan dahi ke lantai saat sujud, dijalankan buru-buru seperti orang yang sedang mengejar tenggat waktu. Selesai salam, urusan dianggap lunas, lalu pikiran langsung melompat kembali ke masalah yang tadi ditinggalkan.

Cara pandang semacam itu tidak salah. Dalam kajian fiqih, tindakan manusia memang dikelompokkan ke dalam lima status hukum, dan salat lima waktu menempati posisi fard alias kewajiban mutlak. Kata salah sendiri tercatat sebanyak 83 kali sebagai kata benda di dalam Al-Qur'an. Wajar bila orang merasa terikat pada aturan formalnya. Masalahnya, ketika ibadah hanya dipahami sebagai kewajiban dingin, tubuh kita menjalankannya sementara batin kita merasa dikejar-kejar.

Lalu ada cara pandang kedua.

Sebagian ahli bahasa mencatat bahwa kata salah berakar dari huruf wau, shad, dan lam (w-s-l), yang maknanya adalah menyambung atau menautkan kembali sesuatu yang terputus. Dalam tradisi Persia, ibadah ini disebut namaz yang berasal dari kata penghormatan, sementara di tanah Melayu ia dikenal sebagai sembahyang. Ketika kata itu dipahami sebagai tindakan menyambung, suasananya berubah. Salat bukan lagi interupsi yang merepotkan di tengah hari kerja yang sibuk. Salat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari tuntutan dunia.

Pikirkan sejenak apa yang sebenarnya terjadi saat seseorang mengambil wudu. Air dingin membasuh wajah yang lelah, menyapu sisa kantuk dari kelopak mata, lalu membasahi tangan dan kaki. Secara fisik, itu jeda yang nyata. Lalu orang itu berdiri menghadap kiblat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kiblat ibadah ini pernah berpusat ke arah Masjid Al-Aqsa di Yerusalem sebelum akhirnya berpindah ke arah Ka'bah di Mekkah melalui ayat 144 surah Al-Baqarah. Menghadap satu titik yang sama melatih pikiran yang acak-acakan agar mau diam pada satu arah. Di meja kerja, pikiran kita terpencar ke belasan arah sekaligus. Di atas sajadah, semua arah itu diringkas menjadi satu.

Perbedaan rasa di antara dua cara pandang ini sangat nyata. Orang yang melihat salat sebagai setoran utang akan merasa cemas sepanjang waktu. Kalau terlambat lima belas menit, dadanya sempit karena merasa telah gagal memenuhi standar. Sementara orang yang melihatnya sebagai tautan penyambung akan mendekatinya dengan napas yang lebih longgar. Mereka datang ke sajadah bukan untuk membuktikan bahwa mereka hamba yang sempurna, melainkan karena mereka tahu baterai jiwa mereka sedang sekarat.

Saya sendiri sering terjebak pada cara pandang pertama. Ada hari-hari ketika saya membaca bacaan salat terlalu cepat, tanpa benar-benar mendengar suara saya sendiri. Pikiran saya masih sibuk menghitung pengeluaran bulanan atau mencemaskan percakapan canggung kemarin sore. Salatnya gugur secara hukum fiqih, tetapi hati saya keluar dari musala dengan rasa letih yang persis sama seperti saat saya masuk. Tidak ada yang berubah.

Baru belakangan ini saya mencoba memperlambat satu hal saja: lamanya waktu saat dahi menyentuh lantai. Gerakan sujud menaruh bagian tubuh yang paling kita banggakan di posisi paling rendah. Menempelkan dahi di lantai memaksa otot leher mengendur. Jantung sejajar dengan kepala. Untuk tiga puluh detik, tidak ada target kerja yang perlu dicapai, tidak ada bos yang mengawasi, dan tidak ada angka penjualan yang harus dikejar. Semua peran sosial yang melelahkan itu ditanggalkan sementara waktu.

Mengubah sudut pandang ini tidak butuh teori yang muluk. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang suci yang langsung khusyuk begitu takbir diangkat. Cukup akui saja bahwa jam kerja kita melelahkan, punggung kita pegal, dan beberapa menit di atas sajadah zuhur itu adalah hadiah waktu untuk bernapas yang diberikan cuma-cuma.

Baca juga

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.