Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Meminta buku tebal saat orang lain mengincar emas

11 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Meminta buku tebal saat orang lain mengincar emas

Di meja perundingan damai dengan Konstantinopel, Khalifah al-Ma'mun menolak meminta peti emas dan memilih naskah Almagest karya Ptolemaeus.

Di meja perundingan sekitar tahun 830 Masehi, pihak pemenang perang biasanya meminta emas, perak, atau sebidang tanah subur. Tuntutan semacam itu wajar pada zamannya karena kemenangan militer hampir selalu diukur dari seberapa banyak harta yang berhasil dibawa pulang ke istana.

Namun, Khalifah al-Ma'mun mengajukan syarat yang aneh kepada kaisar Romawi Timur. Pemimpin Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad itu meminta sebuah salinan naskah kuno astronomi karya Ptolemaeus berjudul Almagest. Di mata para prajurit yang bertaruh nyawa di padang pasir, permintaan tersebut mungkin terdengar janggal. Tumpukan perkamen bertuliskan bahasa Yunani tidak bisa dibagikan sebagai upah perang, juga tidak bisa dipakai membeli gandum di pasar.

Peristiwa kecil di masa lalu itu memperlihatkan dua cara yang berbeda dalam memandang apa yang berharga dari sebuah perselisihan.

Cara pertama memandang selisih sebagai ajang membuktikan siapa yang lebih kuat dan siapa yang berhak menuntut tebusan. Banyak dari kita memakai cara pandang ini setiap hari, tanpa berniat buruk sama sekali. Saat berdebat dengan teman kantor, berselisih paham dengan pasangan di ruang tengah, atau membaca komentar orang asing di media sosial, ada dorongan spontan untuk menuntut pengakuan. Kita ingin pihak seberang mengaku salah, meminta maaf, atau menanggung rasa malu setimpal dengan kekesalan kita. Memandang masalah lewat kacamata ini terasa wajar karena harga diri kita merasa terancam, tetapi kepala kita menjadi panas berhari-hari sesudahnya.

Ada cara kedua, dan cara ini terasa jauh lebih menenangkan bagi jiwa. Cara kedua memandang benturan bukan sebagai ajang memungut pampasan ego, melainkan kesempatan untuk memungut hal baik yang belum kita ketahui. Saat al-Ma'mun meminta naskah ilmiah alih-alih peti harta, dia tidak sedang memikirkan cara mempermalukan lawannya. Dia memperlakukan pihak seberang sebagai pemilik lembaran pengetahuan yang layak dipelajari, disalin, dan dibagikan secara terbuka di Baghdad.

Di kota itu pula, al-Ma'mun menunjuk seorang tabib beragama Kristen bernama Hunayn ibn Ishaq untuk memimpin penerjemahan naskah kedokteran Yunani kuno. Karya-karya Galen dan Hipokrates dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab oleh tangan orang yang berbeda keyakinan, lalu dibaca oleh para penuntut ilmu di masjid dan balai kota. Kalau penguasa saat itu memakai cara pandang pertama, naskah-naskah itu pasti sudah dibakar karena dianggap peninggalan orang luar yang tidak sejalan.

Dalam keseharian kita yang sederhana, dua cara pandang ini sering berpapasan di meja kerja atau di ruang keluarga.

Ambil contoh obrolan di grup percakapan keluarga pada jam delapan malam. Seorang paman mengirimkan tautan artikel yang keliru dan bernada menyudutkan. Cara pandang pertama langsung menyalakan alarm di kepala: orang ini harus ditegur keras di depan semua anggota keluarga, datanya harus dibantah habis, dan dia harus kapok menyebarkan kabar bohong. Kita mengetik bantahan panjang dengan jempol gemetar karena jengkel. Setelah pesan terkirim, kita menunggu balasan sambil bolak-balik memeriksa layar. Malam yang mestinya dipakai beristirahat justru habis untuk menjaga gengsi.

Cara pandang kedua memilih jalan yang lebih teduh. Kita berhenti sejenak sebelum mengetik. Kita menyadari bahwa di balik pesan keliru itu, sang paman mungkin sedang merasa cemas atau sekadar ingin dianggap peduli pada keponakannya. Kalaupun kita perlu meluruskan informasi, tujuannya bukan meremukkan martabatnya di depan kerabat lain, melainkan menjaga agar suasana tetap tenang. Pesan pribadi yang santun sering kali cukup, tanpa perlu menuntut pengakuan kalah di depan umum.

Memakai cara pandang kedua memang tidak selalu gampang. Ada rasa tidak nyaman saat kita menahan diri untuk tidak membalas serangan dengan serangan serupa. Kadang rasanya seperti kita membiarkan orang lain menang di atas kepala kita.

Perbedaannya terletak pada apa yang kita bawa pulang ke tempat tidur. Orang yang menuntut tebusan ego biasanya pulang dengan dada yang sesak dan pikiran yang terus meraba langkah balasan berikutnya. Sementara orang yang mencari hikmah pulang dengan kepala yang lapang. Dia tahu bahwa kebenaran tidak berkurang hanya karena dia tidak berteriak paling kencang, dan kebaikan orang lain tidak hilang hanya karena mereka berbeda haluan dengannya.

Sekitar seribu dua ratus tahun lalu, Baghdad menyambut gerobak berisi lembaran teks tua dari Konstantinopel dengan rasa ingin tahu, bukan dengan amarah kemenangan. Mungkin kita juga bisa melakukan hal kecil yang serupa malam ini: membiarkan satu perbedaan pendapat berlalu begitu saja tanpa harus menuntut siapa pun berlutut meminta maaf.

Baca juga

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.