Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Gawai makin pintar dan hati yang makin gampang panas

10 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Gawai makin pintar dan hati yang makin gampang panas

Ponsel di meja memperbarui dirinya sendiri dini hari ini, sementara saya masih orang yang sama: gampang tersinggung oleh komentar orang asing di internet.

Topik: Kecemasan & Overthinking

Pukul dua dini hari, aplikasi di ponsel memperbarui dirinya sendiri tanpa perlu saya minta. Versi sistem operasinya naik lagi, fitur kecerdasan buatannya bertambah, dan tampilannya makin mulus. Sementara itu, saya yang memegangnya di atas kasur masih orang yang sama: gampang tersinggung oleh komentar orang asing di linimasa, gelisah memikirkan tagihan bulan depan, dan sering menunda shalat subuh sampai batas waktu tipis.

Kesenjangan semacam itu sering memicu tanya di kepala banyak orang. Ken Wilber pernah mengupas masalah ini lewat catatan tentang tingkatan perkembangan manusia. Dia menyoroti bagaimana teknologi fisik melaju kencang, sementara kedewasaan batin manusia tertinggal jauh di belakang.

Berikut tiga pertanyaan yang sering muncul ketika kita mulai kelelahan menghadapi laju dunia hari ini.

Kenapa barang makin canggih tapi hati makin gampang panas

Pertanyaan ini sering muncul saat kita melihat orang saling maki di media sosial menggunakan perangkat seharga puluhan juta rupiah. Jawabannya terletak pada perbedaan kecepatan antara benda mati dan kesadaran jiwa.

Benda lahiriah, seperti mesin pabrik atau gawai cerdas, menyebar dengan sangat cepat. Begitu teknologi baru diciptakan dan diproduksi secara massal, siapa pun bisa langsung membelinya di toko. Kamu tidak perlu belajar menahan dengki bertahun-tahun untuk bisa memesan ponsel pintar generasi terbaru. Uang cukup, barang berpindah tangan.

Batin manusia bekerja dengan cara yang sangat lambat. Menumbuhkan kesabaran, melatih welas asih, dan membersihkan ego butuh proses panjang sepanjang hayat. Dalam catatan Wilber, perkembangan luar sudah mencapai tingkat global yang canggih, sementara batin penggunanya masih tertahan pada dorongan rendah yang suka menguasai dan menindas. Mesin abad kedua puluh satu akhirnya dikendalikan oleh watak egois yang tidak pernah dididik.

Alat komunikasi kita bisa menjangkau ujung bumi dalam satu detik. Tapi cara kita merespons perbedaan pendapat tetap sama liarnya dengan orang-orang beribu tahun lalu yang siap bertikai demi sepetak tanah. Kemampuan teknis kita melompat ke depan, sementara akhlak kita berjalan tertatih-tatih di belakang.

Apakah dunia ini memang sedang menuju kehancuran bersama

Kekhawatiran ini wajar muncul saat melihat berita perang atau kerusakan lingkungan yang disiarkan langsung ke genggaman tangan. Wilber sendiri mencatat bahwa sekitar 60 sampai 70 persen populasi manusia masih berada pada tingkatan kesadaran awal. Di tingkat ini, orang masih percaya bahwa nilai dan kelompok merekalah satu-satunya yang paling benar di muka bumi, sedangkan kelompok lain dianggap salah atau bodoh.

Hanya ada sekitar 6 sampai 8 persen orang yang berhasil melompat ke tahap kesadaran yang lebih utuh, yang mampu memandang keragaman dengan rasa hormat tanpa saling meniadakan.

Ketika mayoritas manusia yang masih berpikir sempit memegang teknologi berkekuatan besar, bahayanya terasa di mana-mana. Bahaya itu bukan lahir dari cip silikon atau kabel serat optik. Masalah utamanya ada pada dorongan purba manusia yang serakah, yang sekarang diberi pengeras suara dan daya jangkau tanpa batas.

Dalam pandangan Islam, manusia memikul amanah yang berat di muka bumi. Kerusakan di darat dan di laut timbul akibat perbuatan tangan manusia sendiri karena hawa nafsu yang tidak terkendali. Alat hanyalah benda mati. Masalah muncul karena orang yang memegangnya lupa bahwa setiap fasilitas akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kita merasa cemas bukan karena teknologinya terlalu kuat, melainkan karena sadar betapa rapuhnya rem batin yang kita miliki.

Apa yang bisa dilakukan orang biasa seperti saya

Kamu mungkin merasa tidak berdaya mengubah laju korporasi teknologi atau kebijakan negara. Itu wajar. Menyelamatkan seluruh bumi bukan tugas yang dibebankan kepada satu orang pekerja yang pulang malam sambil menahan kantuk di kereta komuter.

Tugas pertama kita adalah merawat batin sendiri agar tidak ikut terseret oleh arus luar. Wilber menulis bahwa tingkat kesadaran rata-rata masyarakat bekerja seperti magnet yang cenderung menarik orang turun ke bawah bila mereka tidak awas. Kalau lingkungan sekitar kita sibuk pamer, gampang menghakimi, dan gemar bertengkar, magnet sosial itu akan menarik kita melakukan hal serupa lewat ketukan jempol kita sendiri.

Tindakan penyeimbangnya adalah memperlambat diri dan membangun disiplin rohani. Matikan layar saat adzan berkumandang. Ambil wudhu perlahan, rasakan dinginnya air di kulit wajah, lalu berdiri shalat tanpa terburu-buru mengecek notifikasi. Latih diri untuk menahan jemari agar tidak mengomentari setiap hal yang melintas di beranda.

Langkah menahan diri ini kelihatannya kecil. Namun, di tengah suasana yang bising dan serba cepat, orang yang mampu mengendalikan hatinya telah menyumbangkan ketenangan nyata bagi sekitarnya. Perubahan besar di dunia luar selalu berakar dari orang-orang yang mau membereskan batinnya terlebih dahulu.

Baca juga

Disadur dari www.sloww.co


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.