Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Melihat diri sebagai mesin atau melihat diri sebagai manusia

11 Oktober 2026 · 4 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Melihat diri sebagai mesin atau melihat diri sebagai manusia

Pukul dua dini hari, aplikasi pelacak tidur di jam tangan pintar saya menunjukkan angka merah, memberi tahu bahwa tubuh ini sedang berantakan tanpa pernah menanyakan apa yang sedang dipikirkan pemiliknya.

Pukul dua dini hari, aplikasi pelacak tidur di jam tangan pintar saya menunjukkan angka merah.

Alat itu memberi tahu bahwa denyut nadi saya terlalu cepat, durasi tidur pulas saya minim, dan pemulihan fisik saya berada di titik terendah. Di layar ponsel, semua disajikan lewat angka, grafik batang, dan persentase yang rapi. Saya menatap angka-angka itu sambil berbaring telentang. Ada dorongan kuat untuk segera mencari solusi teknis: menambah dosis suplemen magnesium, mengatur suhu kamar pendingin udara lebih rendah, atau membeli penutup mata baru agar besok pagi grafik itu berubah menjadi hijau.

Cara pertama ini sangat akrab bagi kita. Kita memandang diri kita sebagai tumpukan data fisik yang sedang mengalami kerusakan fungsi.

Dalam ringkasan yang ditulis Kyle Kowalski mengenai pemikiran Ken Wilber, cara pandang ini menempati apa yang disebut kuadran kanan. Wilber menyusun kerangka bernama AQAL untuk memetakan pengalaman manusia ke dalam empat kuadran dasar. Bagian kanan dari peta tersebut adalah wilayah luar yang tampak: hal-hal yang berwujud materi, perilaku jasmani, dan sistem yang bisa diteliti dengan indra. Peneliti perilaku seperti B. F. Skinner menghabiskan hidupnya di wilayah ini, mencatat respons fisik, kebiasaan, dan gerakan yang kasatmata. Saat kita memandang diri lewat sudut ini, kita melihat hormon kortisol yang melonjak, kadar gula darah, atau sistem kerja kantor yang menuntut penyelesaian tugas tepat waktu.

Cara melihat seperti ini tidak salah. Dokter membutuhkannya untuk meresepkan antibiotik. Ahli saraf membutuhkannya untuk memahami bagaimana sel-sel otak bereaksi. Kalau mobil kita mogok, kita memang harus membuka kap mesin dan memeriksa kabelnya, bukan mengajaknya mengobrol dari hati ke hati.

Masalah baru muncul ketika cara pertama ini menjadi satu-satunya kacamata yang kita pakai untuk menilai seluruh hidup kita. Wilber memakai istilah Flatland untuk menggambarkan keadaan ketika manusia mereduksi seluruh keberadaannya hanya ke kuadran kanan tadi. Kita menganggap bahwa apa pun yang tidak bisa difoto, tidak bisa direkam video, atau tidak bisa diukur dengan angka laboratorium, dianggap tidak nyata atau tidak berharga.

Kita mulai memperlakukan kelelahan jiwa persis seperti baterai telepon genggam yang kehabisan daya. Kita mengira rasa gundah gulita bisa diselesaikan hanya dengan meminum segelas air kelapa atau berjalan sepuluh ribu langkah di taman.

Lalu ada cara pandang kedua.

Cara kedua mengajak kita menoleh ke kuadran kiri, wilayah dalam yang tidak berwujud benda. Di sinilah tempat tinggal kesadaran pribadi kita, ruang yang diisi oleh perasaan, niat, percakapan batin yang sunyi, dan hubungan batin antarmanusia. Sigmund Freud dan para perenung tradisi hening menaruh perhatian besar di sini. Sesuatu di kuadran ini tidak bisa Anda sentuh dengan ujung jari. Anda tidak bisa membedah dada seseorang dengan pisau bedah lalu menemukan rasa kecewa atau penyesalan yang tersimpan di sana. Bentuknya tidak ada di atas meja operasi, tetapi keberadaannya terasa sangat nyata bagi orang yang mengalaminya.

Ketika rasa sesak datang di tengah malam, cara pandang kedua tidak terburu-buru menyuruh Anda mengutak-atik perkakas di luar. Cara ini meminta Anda berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang sedang terjadi di balik dada Anda.

Bisa jadi detak jantung yang cepat itu bukan sekadar kekurangan elektrolit, melainkan ada rasa bersalah yang belum Anda akui kepada seseorang. Bisa jadi kepala yang berat itu adalah tanda bahwa Anda sedang memaksakan diri mengejar sesuatu yang sejak awal bertentangan dengan nurani Anda sendiri. Dalam sudut pandang Islam, wilayah batin ini adalah tempat bermulanya niat dan keadaan hati. Tindakan lahiriah kita dinilai dari apa yang diniatkan di dalam ruang sunyi ini. Ketika kita menghadap Tuhan dalam doa, yang diadili bukan sekadar gerakan fisik atau hitungan rakaat yang tampak dari luar, melainkan kejujuran jiwa yang membawanya.

Bandingkan rasanya saat Anda memakai kedua cara ini ketika sedang tertekan.

Saat Anda memakai cara pertama secara berlebihan, Anda akan merasa seperti mesin yang terus-menerus gagal memenuhi target produksi. Anda merasa bersalah karena grafik produktivitas turun, merasa cemas karena jam tidur tidak sesuai anjuran aplikasi kesehatan, dan merasa tidak becus karena belum bisa mengendalikan reaksi fisik tubuh Anda. Anda menjadi mandor yang kejam bagi diri Anda sendiri, sibuk mengutak-atik baut yang longgar tanpa mau tahu bahwa yang sedang kelelahan adalah jiwa Anda.

Sebaliknya, cara pandang kedua memberi ruang bagi Anda untuk bernapas. Cara ini tidak menyalahkan tubuh yang letih. Cara ini menerima bahwa manusia memiliki kedalaman yang tidak bisa disederhanakan menjadi rumus kimiawi semata. Saat Anda memberi ruang pada kuadran dalam ini, Anda tidak langsung panik mencari tombol perbaikan. Anda duduk tenang, mengakui bahwa Anda sedang takut, atau mengakui bahwa beban yang Anda pikul memang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Tentu saja, kita tidak perlu membuang jam tangan pintar atau mengabaikan nasihat medis. Wilber sendiri menekankan bahwa keempat kuadran itu saling terhubung dan hadir bersamaan dalam setiap detik hidup kita. Kita tetap membutuhkan air putih yang cukup dan jadwal istirahat yang teratur di dunia luar. Namun, menatap angka merah di layar ponsel malam ini menjadi jauh lebih tenang saat saya sadar bahwa saya bukan sekadar seonggok mesin yang rusak, melainkan seorang hamba yang hatinya sedang rindu untuk diajak bicara jujur.

Baca juga

Disadur dari www.sloww.co


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.