Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Segelas air di meja dan alasan kita tidak sebesar dugaan kita

12 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Segelas air di meja dan alasan kita tidak sebesar dugaan kita

Pukul sebelas malam, segelas air putih tergeletak di samping laptop yang menyala. Arthur Koestler pernah mencetuskan satu istilah yang menjelaskan susunan air itu sampai ke rasa lelah di kepala saya.

Topik: Burnout & Dunia Kerja

Pukul sebelas malam, ada segelas air putih tergeletak di samping laptop yang masih menyala. Air itu kelihatan remeh. Kalau tersenggol, tumpahannya cuma membasahi buku catatan kerja atau kabel charger ponsel. Namun jika ditelusuri ke bawah, segelas air itu tersusun dari triliunan molekul, dan tiap molekul dibangun oleh atom-atom yang bekerja tanpa henti.

Penulis Arthur Koestler pada tahun 1967 mengenalkan satu istilah untuk menggambarkan hal semacam itu: holon. Intinya sederhana. Suatu hal adalah wujud yang utuh pada dirinya sendiri, sekaligus menjadi bagian kecil dari hal lain yang jauh lebih besar. Ken Wilber kemudian membedah gagasan ini lewat teori perkembangannya. Atom adalah sebuah keutuhan. Ketika beberapa atom berkumpul, mereka membentuk molekul. Molekul bergabung menyusun sel tubuh kita. Sel-sel menyatu menjadi organ, lalu menjadi tubuh organisme hidup, termasuk tubuh saya yang malam ini mulai pegal di bagian punggung.

Tidak ada bagian yang berdiri sendiri murni tanpa kaitan. Tiap tingkat punya dua dorongan dasar. Wilber mencatat dua kecenderungan itu sebagai agensi dan komuni. Agensi adalah daya untuk mempertahankan diri agar tidak buyar begitu saja oleh tekanan luar. Sementara komuni adalah dorongan untuk menyesuaikan diri dan menjadi bagian dari lingkungan yang menampungnya. Ketika keseimbangan itu goyah, wujud tersebut bisa terurai kembali ke tingkat yang lebih bawah.

Kadang saya memikirkan hal itu saat rasa cemas tiba-tiba datang tanpa alasan jelas. Tubuh kita merasa sebagai penguasa tunggal atas hidup kita sendiri. Kita merasa beban pekerjaan, cicilan, atau urusan keluarga bertumpu penuh di pundak pribadi kita. Kita menuntut diri sendiri begitu keras, seolah-olah seluruh dunia akan runtuh kalau kita berhenti melangkah sebentar saja.

Cara pandang holarki membalik kesombongan halus itu dengan cara yang dingin. Wilber membedakan dua macam nilai: nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Nilai intrinsik berkaitan dengan kedalaman kesadaran. Seekor kera memiliki kedalaman kesadaran yang lebih tinggi daripada sebutir atom, sehingga nilai intrinsiknya lebih tinggi. Manusia berada lebih tinggi lagi dalam rantai kesadaran tersebut.

Tetapi lihatlah nilai ekstrinsiknya, yaitu nilai manfaat bagi keberlangsungan yang lain. Di titik ini, posisi kita berbalik drastis. Atom menempati tingkat paling mendasar. Seandainya semua atom ditiadakan, seluruh galaksi dan semua makhluk hidup musnah seketika. Nilai ekstrinsik atom teramat besar karena ia menopang segalanya di atasnya. Bandingkan dengan kera, atau bahkan manusia. Seandainya spesies kera punah, tata kosmik tetap berjalan seperti biasa. Seandainya manusia lenyap, pepohonan dan sungai akan tetap mengalir mengikuti hukum alam yang telah digariskan Tuhan.

Kita butuh atom dan sel agar bisa bernapas, tetapi atom sama sekali tidak membutuhkan kita untuk tetap ada. Kita sangat bergantung pada hal-hal kecil di bawah kita.

Dalam tradisi Islam, ada anjuran untuk menundukkan pandangan dan mengingat bahwa manusia diciptakan dari segumpal tanah kering dan setetes cairan yang hina. Menyadari susunan tingkatan ini menghadirkan rasa rendah hati yang sangat menenteramkan. Kita sering merasa lelah bukan karena tugas kita terlalu banyak, melainkan karena kita mengira peran kita terlalu sentral di muka bumi. Kita bertindak seolah-olah kitalah yang mengatur jalannya urusan orang lain, menjaga masa depan agar tidak berantakan, atau memastikan hari esok berjalan sesuai rencana kepala kita.

Padahal tugas kita sebagai bagian dari ciptaan sebenarnya cukup bersahaja: menjalankan tanggung jawab pada tingkat kita sendiri. Menjadi hamba yang bersujud, merawat tubuh yang dititipkan, serta tidak merusak tatanan di sekitar kita. Di hadapan Sang Khalik, seluruh alam semesta tunduk dalam keselarasan yang sudah diatur dengan rapi.

Saya meminum sisa air di gelas itu. Tenggorokan terasa basah dan dingin. Besok pagi rutinitas kantor akan berjalan lagi dengan segala tuntutannya. Namun malam ini, mengingat bahwa saya hanyalah satu bagian kecil yang sedang menumpang hidup di atas rancangan Tuhan yang luas membuat pundak saya terasa sedikit lebih ringan.

Baca juga

Disadur dari www.sloww.co


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.