Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Catatan jam dua pagi tentang rasa ingin mengendalikan segalanya

13 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Catatan jam dua pagi tentang rasa ingin mengendalikan segalanya

Mug teh di meja sudah dingin ketika saya membaca catatan Kyle Kowalski tentang tiga tahap kehendak bebas menurut Sri Ramakrishna. Beban di kepala perlahan terasa berbeda.

Jam dua pagi lewat sepuluh menit. Layar laptop di hadapan saya masih menampilkan surel penolakan proyek ketiga dalam dua pekan. Di samping papan ketik, ada mug keramik berisi sisa teh melati yang sudah dingin sejak tengah malam. Kepala saya berdenyut kencang. Pikiran saya sibuk memutar kalimat andai-andai: andai proposal itu saya kirim lebih awal, andai presentasi saya lebih meyakinkan, andai saya tidak salah memilih kata pembuka. Saya merasa seluruh kegagalan itu murni beban salah saya seorang.

Memikul keyakinan bahwa kita adalah penguasa mutlak atas tiap jengkal nasib ternyata sangat melelahkan. Kita merasa memegang kendali penuh, lalu panik ketika ada hal kecil yang meleset dari rencana.

Sambil menunggu kantuk datang, saya membuka arsip bacaan lama. Saya menemukan ringkasan tulisan dari Kyle Kowalski. Dia merangkum buku karya Ayon Maharaj yang membedah pandangan tokoh spiritual Sri Ramakrishna mengenai tiga tingkatan manusia dalam melihat kehendak bebas.

Tahap pertama disebut ajnani. Ini sebutan untuk orang awam yang belum sadar, orang yang mengidentifikasi dirinya sepenuhnya dengan tubuh dan pikiran pribadinya. Di tahap ini, seseorang merasa dialah pemilik kehendak seutuhnya. Ramakrishna menjelaskan bahwa rasa memiliki kehendak bebas itu timbul dari ego. Karena merasa punya kendali penuh, orang tersebut juga memikul beban tanggung jawab moral yang teramat berat di pundaknya. Keberhasilan membuat dia pongah, sementara kegagalan membuatnya hancur dan menyalahkan diri terus-menerus.

Saya mengenali diri saya di sana. Di kamar sempit itu, saya sedang bertingkah persis seperti seorang ajnani. Saya merasa roda kehidupan berputar murni karena usaha jemari saya di atas papan ketik. Padahal dalam tradisi Islam, ada batas yang sangat jelas antara ikhtiar seorang hamba dengan ketetapan Allah. Kita sering kali diajarkan untuk berusaha sekuat tenaga, tetapi di saat yang sama diingatkan bahwa hasil akhir bukan berada di tangan manusia. Ketika seseorang lupa pada batas itu, usahanya berubah menjadi beban batin yang mencekik.

Tahap kedua yang dijelaskan oleh Ayon Maharaj adalah jivanmukta. Ini tingkatan orang yang tercerahkan semasa hidupnya. Pada fase ini, seseorang menyadari bahwa Tuhan adalah Sang Pelaku tunggal dari segala hal di alam semesta. Semua makhluk berada di bawah kehendak-Nya. Orang yang mencapai kesadaran ini menanggalkan egonya dan menyadari ketiadaan kehendak bebas pribadinya. Menariknya, Ramakrishna mencatat bahwa seorang jivanmukta tidak akan berbuat jahat atau bertindak sembrono. Dia melihat dirinya sebagai alat yang pasrah dalam genggaman Sang Pencipta, sehingga perbuatannya selaras dengan kebaikan.

Pemikiran tentang jivanmukta ini mengingatkan saya pada konsep tawakal yang sering dibahas oleh para orang tua. Pasrah di sini bukan berarti malas lalu berhenti berusaha. Pasrah adalah melepaskan kepemilikan atas hasil. Seorang pedagang tetap menggelar dagangannya di pasar sejak fajar, tetapi hatinya tahu bahwa pembeli yang datang digerakkan oleh rezeki dari langit, bukan semata karena suaranya yang lantang memanggil orang. Begitu beban ego dilepaskan, dada kita terasa lebih longgar.

Tahap ketiga adalah vijnani, kesadaran bahwa Tuhan hadir di segala penjuru keberadaan. Dalam tulisan Ayon Maharaj, seorang vijnani memandang segala penderitaan dan peristiwa duniawi lewat kacamata yang tidak lagi terikat oleh keterpisahan egois. Dalam teologi Hindu yang dianut Ramakrishna, tahap ini mengarah pada pandangan panteistis bahwa diri manusia lebur sepenuhnya dengan Yang Ilahi. Sebagai seorang Muslim, pandangan saya tentu berbeda pada titik ini. Kita memegang prinsip bahwa Sang Khalik tetap berbeda dari makhluk ciptaan-Nya. Namun, ada satu titik temu yang menenangkan saya malam itu: rasa sakit akibat kegagalan sering kali membesar hanya karena kita merasa diri kita teramat penting di dunia ini.

Kita mengira bahwa jika kita gagal, langit akan runtuh.

Kenyataannya tidak begitu. Dunia tetap berputar tanpa menunggu izin kita. Matahari tetap terbit besok pagi, dengan atau tanpa persetujuan dari proposal proyek yang saya kirimkan.

Saya menutup laptop perlahan. Suara kipas pendinginnya yang bising akhirnya berhenti, menyisakan derit jangkrik dari halaman samping. Rasa cemas di dada saya belum sepenuhnya lenyap, rasa kecewa itu masih bersarang di sudut hati. Namun, ada sedikit kelegaan yang mulai masuk. Saya sudah mengetik proposal itu sebaik yang saya bisa, dan sisanya bukan urusan saya lagi. Menyadari bahwa Allah yang memegang kendali atas segalanya justru membuat saya merasa tidak perlu lagi menjadi pahlawan yang memikul dunia sendirian.

Saya beranjak ke kamar mandi, membasuh muka dan bersiap untuk tidur.

Baca juga

Disadur dari www.sloww.co


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.