Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Tangan yang terangkat ke kening dan urusan menahan diri

13 Oktober 2026 · 4 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Tangan yang terangkat ke kening dan urusan menahan diri

Sebuah salam di Asia Selatan dimulai dari telapak tangan yang naik perlahan ke arah kening, tanpa kata-kata panjang.

Topik: Burnout & Dunia Kerja

Tangan kanan terangkat perlahan ke arah kening, lalu kepala sedikit menunduk. Gerakan itu hanya butuh waktu dua detik.

Saya melihat gestur itu pertama kali dalam sebuah rekaman lama tentang orang-orang di Asia Selatan. Di sana, muslim setempat menyebut sapaan santun itu dengan satu kata: adab. Tanpa suara keras, tanpa tepuk pundak, seorang pemuda menyapa orang yang lebih tua hanya dengan menaikkan telapak tangannya ke depan wajah. Ada rasa hormat yang selesai dalam satu tarikan napas. Gerakan tubuh yang begitu ringkas, tetapi rasanya sanggup mendinginkan ruangan.

Kata itu sebenarnya sering mampir di telinga kita sejak kecil. Guru mengaji mengucapkannya, orang tua mengulanginya ketika kita memotong pembicaraan tamu. Tapi sebagian besar dari kita mungkin mengira urusan ini melulu soal tumpukan aturan kaku di buku fiqih, atau tata cara duduk bersila yang bikin kaki kesemutan setelah lima belas menit. Kita mengira itu beban tambahan bagi orang yang sudah cukup lelah menjalani hari.

Kalau ditelusuri ke belakang, riwayat kata ini melangkah jauh sekali. Ribuan tahun lalu di tanah Sumeria kuno, pernah berdiri sebuah kota tua bernama Adab yang kini tinggal reruntuhan tanah liat di Irak. Di Yaman, ada perkampungan kecil yang meminjam nama yang sama. Namun dalam peradaban Islam, kata ini tidak berhenti sebagai nama tempat di peta kuno.

Di masa klasik, kata ini bergeser menjadi sebutan untuk kesusastraan. Orang yang punya adab pada zaman itu dianggap mengerti puisi, paham prosa, dan tahu cara menakar kalimat agar tidak sembrono melukai pendengar. Warisan itu berlanjut sampai abad modern. Di Beirut, Lebanon, pernah terbit majalah sastra daring bernama Al Adab yang menghimpun tulisan-tulisan para perenung Arab. Di wilayah lain, seorang penyair Kurdi abad kesembilan belas bahkan menaruh kata itu di belakang namanya: Misbaholdiwan Adab. Kata ini tidak pernah sempit. Sejak dulu ia berkeliaran di antara etika pergaulan dan keindahan bahasa.

Menutup pintu tanpa bantingan

Di meja kerja saya hari ini, jam dinding menunjuk angka empat sore. Mata perih karena seharian menatap dokumen, punggung pegal, dan ada pesan WhatsApp masuk dari rekan kerja yang isinya menuntut hal yang sebetulnya bukan tanggung jawab saya. Jari saya sudah siap mengetik balasan pedas. Tiga kalimat kasar sudah tersusun rapi di kepala, siap dikirim untuk melampiaskan kekesalan yang menumpuk sejak pagi.

Lalu saya berhenti sebentar.

Di titik itulah makna sapaan tadi terasa dekat dengan hidup kita yang serba terburu-buru. Sikap santun bukan sekadar urusan upacara atau kesopanan yang dibuat-buat di depan pejabat. Sikap ini adalah keputusan sadar untuk menahan diri ketika kita punya tenaga penuh untuk meledak.

Saat lelah, manusia gampang sekali berubah menjadi kasar. Kita merasa kepenatan kita memberi hak istimewa untuk membanting pintu kamar, membentak pelayan warung yang salah mengantar pesanan es teh, atau membalas pesan kerjaan dengan nada ketus. Kita merasa dunia berutang maaf kepada kita hanya karena hari ini berjalan buruk. Padahal orang yang berpapasan dengan kita di jalan raya atau di meja makan rumah juga sedang menanggung bebannya sendiri-sendiri.

Ketika tradisi Islam meletakkan adab sebelum tumpukan ilmu, alasannya sederhana. Orang yang pintar bicara tetapi tidak punya rem dalam bersikap hanya akan menghasilkan kebisingan. Mereka tahu banyak pasal dan hafal banyak istilah, tetapi kehadiran mereka membuat orang lain di sekitarnya merasa cemas dan terancam.

Menjaga ruang aman untuk orang lain

Ada kenyamanan tersendiri ketika kita bertemu seseorang yang tahu batas. Mereka tidak menuntut perhatian penuh saat kita sedang sibuk. Mereka tidak memaksakan pendapat ketika suasana sedang tegang. Kalau mereka tidak setuju, mereka memilih jeda daripada langsung menyemburkan sanggahan.

Menahan diri itu memang tidak nyaman di badan. Otot leher terasa kaku, lidah gatal ingin membantah, dada terasa panas. Menjadi orang yang bersikap pantas sering kali terasa seperti mengalah. Rasanya seperti membiarkan orang lain menang sementara kita menelan ludah sendiri.

Tetapi setelah bertahun-tahun melihat bagaimana percakapan yang kasar merusak hubungan keluarga dan pertemanan, saya mulai paham. Gestur tangan di Asia Selatan tadi, puisi-puisi yang ditulis para sastrawan di Beirut, atau syair peninggalan penyair Misbaholdiwan Adab, semuanya punya benang merah yang sama. Semuanya bermuara pada kesadaran bahwa manusia di depan kita memiliki perasaan yang rapuh.

Sore itu, saya menghapus draf balasan pesan yang tajam di layar ponsel. Saya meletakkan gawai di atas meja, mengambil segelas air dingin, lalu menunggu sepuluh menit sebelum mengetik jawaban yang lebih netral. Masalah pekerjaannya tetap belum selesai, dan rasa lelah di kepala juga tidak langsung hilang begitu saja. Tapi setidaknya, malam itu tidak ada orang lain yang tidur dengan dada sesak gara-gara kalimat kasar yang meluncur dari jempol saya.

Baca juga

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.