Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
14 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Buku Sacred Instructions mencatat bagaimana cara pandang mandiri tanpa batas perlahan membuat kepala kita terasa berat.
Topik: Burnout & Dunia Kerja
Jam satu dini hari. Lampu kamar sudah padam, tetapi layar ponsel masih menyala menerangi langit-langit. Di meja kecil samping kasur, segelas teh tawar yang dibuat sore tadi tinggal menyisakan ampas dingin.
Dalam keadaan seperti itu, kepala sering kali dipenuhi daftar panjang. Ada tenggat waktu pekerjaan besok pagi. Ada cicilan yang harus dibayar minggu depan. Ada juga rasa jengkel pada seorang rekan kantor yang bicaranya ketus saat rapat siang tadi. Ketika menatap semua itu sendirian di atas kasur, rasanya seperti memikul sebongkah batu besar di pundak tanpa ada siapa pun yang menemani.
Cara pandang pertama bekerja lewat jalur itu. Kita memandang diri kita sebagai benteng terisolasi. Dalam pikiran ini, hidup adalah pertarungan pribadi. Kalau ingin selamat, kita harus bertarung sendirian, membuktikan kemampuan, dan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalan. Keberhasilan diukur dari seberapa banyak harta yang terkumpul serta pujian yang berhasil diraih. Sherri Mitchell, seorang penulis yang dibahas oleh Kyle Kowalski di situs Sloww, menyebut cara pandang ini sebagai dongeng kemandirian ekstrem. Cerita lama dari dua milenium silam yang membujuk manusia untuk merasa terpisah dari sesamanya.
Memandang hidup seperti itu terasa sangat melelahkan. Setiap orang lain menjadi saingan yang mengancam. Jika kawan lama mengunggah foto liburan atau kabar kenaikan jabatan, hati terasa menciut karena merasa tertinggal. Dunia di sekitar kita berubah menjadi ruang perlombaan tanpa garis akhir. Tubuh dipaksa terus berlari kencang. Kita takut berhenti, sebab berhenti berarti tertinggal dan dilupakan.
Ada cara pandang kedua yang ditawarkan Mitchell dalam bukunya, Sacred Instructions. Cara pandang ini mengajak kita melihat ke arah sebaliknya. Kita tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Sejak tarikan napas pertama hingga embusan napas terakhir, kita selalu terhubung dengan sumber kehidupan dan seluruh ciptaan di sekitar kita.
Ketika melihat air yang mengalir di sungai, kita sadar bahwa setiap tetesnya bergerak bersama arus yang sama. Tetes air tidak perlu bersaing dengan tetes lain untuk sampai ke tujuan. Begitu pula manusia. Kita diciptakan bukan untuk saling memangsa atau mengisolasi diri di sudut kamar dengan ketakutan. Dalam tradisi keimanan kita, kesadaran ini dekat dengan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Kita bukan pemilik mutlak atas jalan hidup ini. Tugas kita adalah melangkah dengan tulus, sementara hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Tuhan.
Perbedaan rasa di dada dari kedua cara pandang ini cukup nyata.
Saat memakai cara pandang pertama, amarah gampang menyala. Mengapa tetangga berisik sekali malam ini? Mengapa rekan kerja tidak becus menyelesaikan laporan? Orang lain terasa seperti pengganggu yang merusak rencana kita. Kita mudah menghakimi dan menuntut orang lain tunduk pada standar pribadi kita.
Sebaliknya, cara pandang kedua membawa udara segar ke dalam dada. Rekan kerja yang menyebalkan itu juga manusia biasa yang mungkin sedang memendam rasa lelahnya sendiri. Tetangga yang berisik barangkali sedang menghadapi kesulitan yang tidak kita ketahui. Memandang mereka sebagai sesama hamba yang sama-sama rapuh membuat dada melonggar. Dendam perlahan menguap karena kita sadar bahwa membenci orang lain sama saja dengan meracuni diri sendiri.
Cara pandang kedua ini juga melepaskan kita dari beban harus membuktikan segalanya. Kita tidak perlu tampil sempurna di depan semua orang. Kita tidak perlu menelan semua masalah seorang diri demi terlihat tegar. Meminta tolong kepada orang lain bukan pertanda kekalahan, melainkan pengakuan jujur bahwa manusia memang makhluk yang saling menopang.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa beralih cara pandang itu gampang. Dongeng tentang kemandirian mutlak sudah tertanam lama di kepala kita sejak masa kanak-kanak. Sekolah mengajari kita mengejar peringkat teratas. Iklan di media sosial menyuruh kita terus membeli barang agar tampak lebih unggul dari kawan sebelah. Wajar kalau sesekali kita kembali merasa terasing dan ketakutan saat rebahan malam hari.
Namun, menyadari bahwa ada cara lain untuk bernapas sudah cukup melegakan. Hidup tidak menuntut kita menjadi pahlawan yang menaklukkan seluruh isi bumi.
Ponsel bergetar pelan di kasur, menampilkan notifikasi pesan grup yang tidak penting. Kali ini saya memilih membalikkan badan, memejamkan mata, dan melepaskan sisa beban hari ini ke udara malam.
Disadur dari www.sloww.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.