Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
14 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Piring kotor masih menumpuk di wastafel dan grup obrolan sudah sepi. Riset genom tahun 2016 memberi tahu hal berharga tentang rasa terasing yang kerap datang tiba-tiba.
Topik: Burnout & Dunia Kerja
Pukul dua belas malam lewat sedikit. Notifikasi obrolan kantor sudah senyap, piring kotor bekas makan malam masih tertumpuk di wastafel, dan jempol saya terus menggeser layar ponsel tanpa membaca apa pun secara sungguh-sungguh. Ruangan ini tidak benar-benar hening. Suara dengung kipas angin terdengar jelas. Di luar pagar, sesekali ada deru motor pengantar makanan lewat. Namun, di dalam dada, ada ruang kosong yang dingin dan sulit diberi nama.
Kondisi semacam ini dialami banyak orang. Vivek Murthy, mantan pejabat kesehatan di Amerika Serikat, menyebut sepi sebagai krisis kesehatan yang menyebar diam-diam pada era modern. Data global memperkirakan satu dari enam orang di dunia bergulat dengan rasa sepi jangka panjang. Remaja menempati urutan paling tinggi dalam merasakan keterasingan ini. Sementara itu, orang yang sudah lanjut usia justru cenderung lebih jarang terganggu oleh kesendirian mereka, walau lingkaran sosial mereka menyusut.
Ketika rasa hampa datang bertamu pada jam-jam lelah seperti ini, ada beberapa pertanyaan yang sering berputar di kepala. Mari membicarakannya dengan santai, satu per satu.
Pertanyaan ini sering muncul ketika kita baru pulang dari acara kumpul keluarga atau makan malam bersama teman sekantor. Ada gelak tawa di meja, obrolan mengalir, tetapi begitu pintu kamar kos ditutup, perasaan terputus itu kembali merayap.
Berada di dekat orang lain berbeda dengan merasa terhubung. Seseorang bisa saja memiliki pasangan atau pekerjaan bagus, namun tetap terasing jika tidak ada ruang aman untuk membagikan rasa cemas tanpa takut dihakimi. Penulis Thomas Wolfe pernah mencatat dalam esai tahun 1930-an berjudul God's Lonely Man bahwa rasa sepi adalah bagian dari pengalaman hidup manusia, bukan aib ganjil yang hanya menimpa segelintir orang.
Rasa sepi yang datang sesekali sebenarnya bekerja mirip rasa lapar. Ketika perut kosong, tubuh menuntut makanan. Begitu pula saat hati merasa terasing, jiwa kita sedang mengirim sinyal agar kita mencari kebersamaan yang tulus. Masalahnya, banyak dari kita memilih menambalnya dengan terus menatap linimasa media sosial. Padahal, para peneliti menemukan bahwa memantau kabar orang lain secara pasif di internet sering kali membuat jarak di hati terasa kian lebar.
Kita kerap menyalahkan diri sendiri ketika sulit membaur. Kita mengira ada yang cacat dari cara kita berbicara, atau mencurigai sifat penyendiri ini merupakan takdir keturunan yang tidak bisa diubah.
Kenyataannya tidak seburuk dugaan kita. Pada tahun 2016, penelitian pemetaan asosiasi genom skala luas menemukan bahwa faktor genetik hanya menyumbang sekitar 14 sampai 27 persen dari kecenderungan seseorang merasa kesepian. Angka itu jauh lebih kecil daripada perkiraan studi-studi lama. Bagian terbesar selebihnya ditentukan oleh riwayat hidup, pengalaman kehilangan orang terkasih, pola asuh, dan lingkungan tempat kita tumbuh.
Ketika seseorang terlalu lama hidup dalam keterasingan, otak masuk ke mode bertahan. Kita mulai memandang lingkungan luar sebagai tempat yang rawan penolakan. Cara pandang defensif semacam itu otomatis menyala demi melindungi diri, walau akibatnya kita jadi kaku dan canggung saat ada orang yang berniat baik mendekat. Ini bukan tanda bahwa kamu rusak. Pikiranmu hanya sedang bersiaga terlalu keras menjaga luka lama agar tidak tergores kembali.
Nasihat umum sering menyuruh kita langsung keluar rumah, memperluas pergaulan, atau bergabung dengan komunitas hobi. Untuk orang yang energinya sudah terkuras oleh beban kerja harian, anjuran itu terasa amat berat. Memulai obrolan panjang dengan orang baru menuntut cadangan tenaga yang belum tentu kita punya malam ini.
Kabar baiknya, pemulihan bisa dimulai lewat hal-hal kecil tanpa banyak tuntutan bicara. Menghabiskan waktu dengan hewan peliharaan, menyiram tanaman di teras, atau berjalan kaki santai di taman terbukti meredakan ketegangan sistem saraf.
Bagi kita, salat berjamaah di masjid sekitar rumah menyuguhkan ruang hening yang sangat menenangkan. Kamu hanya perlu berwudu, melangkah masuk, lalu berdiri merapatkan barisan di saf bersama orang-orang yang mungkin tidak kamu kenal pekerjaannya. Tidak ada tuntutan untuk bercerita. Tidak ada basa-basi yang melelahkan. Kehadiran bahu orang lain yang bersentuhan dengan bahumu di atas karpet sudah memberi tahu tubuhmu sebuah kabar baik: kamu sedang berpijak di bumi yang sama, merunduk menghadap Pencipta yang sama, bernapas di bawah langit yang sama.
Malam ini, kamu tidak perlu memaksakan diri mencari jawaban tuntas untuk semua rasa hampa itu. Cangkir teh di mejamu sudah dingin. Tarik napas perlahan, matikan layar ponselmu, lalu biarkan istirahatmu malam ini berjalan apa adanya.
Disadur dari en.wikipedia.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.