Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
15 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Gelas kopi di sudut meja sudah dingin sejak jam dua siang, dan pekerjaan hari itu masih terasa buntu.
Topik: Burnout & Dunia Kerja · Sabar & Tawakal · Syukur & Kebahagiaan
Jam lima sore, dan kopi di gelas kecil itu sudah dingin sejak siang.
Saya memandangi sisa ampas hitam di dasarnya tanpa minat untuk membawanya ke tempat cuci piring. Kepala terasa tumpul setelah berjam-jam menatap baris angka di layar komputer yang menolak untuk cocok. Kadang ada hari-hari ketika semua tenaga seperti terbuang sia-sia. Kita sudah bangun pagi, mengetik puluhan pesan, berpanas-panas di jalan, tetapi urusan tetap tidak selesai. Pada sore yang payah seperti itu, rasanya gampang sekali merasa hidup kita tidak ada gunanya sama sekali.
Beberapa waktu lalu saya membaca rangkuman yang dibuat Kyle Kowalski mengenai buah pikiran seorang psikiater bernama Viktor Frankl. Frankl menulis buku terkenal berjudul Man's Search for Meaning dan kumpulan kuliah yang kemudian dibukukan dengan judul Yes to Life. Dia bukan orang yang berbicara dari ruang kerja ber-AC yang nyaman. Frankl selamat dari kamp konsentrasi, tempat penderitaan bukan lagi sekadar obrolan filsafat melainkan kenyataan lapar dan dingin setiap detik. Kowalski mencatat bahwa menurut Frankl, ada tiga pintu bagi manusia untuk menemukan makna hidup, dan ketiga pintu itu berurutan dengan sangat masuk akal.
Pintu pertama adalah tindakan. Ini yang paling akrab dengan kita sehari-hari. Kita merasa hidup kita bernilai saat kita berhasil menyelesaikan tugas kantor, memasak sayur lodeh untuk keluarga di rumah, atau menambal genteng yang bocor sebelum hujan turun. Kita memberi sesuatu dari dalam diri kita ke dunia luar lewat karya dan tenaga. Ada kepuasan bersih sehabis kita melihat sebuah pekerjaan tuntas berkat jerih payah tangan sendiri. Agama kita pun selalu memuji tangan yang bekerja dan memberi makan diri dari hasil keringat yang halal.
Masalahnya datang ketika pintu pertama itu terkunci rapat.
Ada masa-masa ketika tangan kita terikat. Entah karena kita diberhentikan dari kantor, badan jatuh sakit dan harus berbaring di kasur berhari-hari, atau tenaga kita habis total dihajar usia. Kalau ukuran keberadaan kita melulu dipatok pada seberapa produktif kita menghasilkan sesuatu, kita akan langsung roboh saat tubuh menolak diajak bekerja. Untungnya, Frankl menunjukkan pintu kedua.
Pintu kedua adalah pengalaman. Makna hidup tidak melulu datang dari apa yang kita keluarkan, tetapi juga dari apa yang kita terima dari dunia ke dalam dada. Menatap langit jingga dari jendela kamar kos yang sempit bisa membuat napas yang sesak menjadi sedikit lebih lapang. Mendengarkan suara gemercik air hujan di teras sambil duduk bersila tanpa memegang ponsel. Menyadari kehadiran seorang teman yang bersedia duduk di samping kita tanpa banyak menuntut. Frankl mencatat bahwa mencintai seseorang dan menghargai keindahan di sekitar kita sudah cukup membuat hidup ini berharga. Kita tidak perlu selalu menjadi produsen yang sibuk. Menjadi penerima yang tahu bersyukur juga merupakan cara hidup yang terhormat.
Namun, bagaimana kalau pintu kedua pun tertutup? Bagaimana bila hidup menjepit kita begitu keras sampai kita tidak punya ruang lagi untuk menikmati pemandangan sore atau mencicipi kehangatan obrolan?
Di titik itulah Frankl menunjuk pintu terakhir: sikap batin.
Pintu ini tidak menuntut kita menyelesaikan proyek besar. Pintu ini juga tidak menunggu situasi menjadi nyaman. Frankl mengatakan bahwa saat kita tidak lagi mampu mengubah keadaan luar, kita dipanggil untuk mengubah diri kita sendiri. Cara kita memandang kesulitan yang tidak bisa dihindari menentukan mutu kemanusiaan kita. Di hadapan takdir yang kaku dan menyakitkan, kebebasan paling akhir yang tidak bisa dirampas siapa pun dari seorang manusia adalah haknya untuk memilih bagaimana ia bersikap.
Di dalam tradisi Islam, kita mengenal ini sebagai maqam sabar dan rida. Bukan kepasrahan yang malas, melainkan keteguhan hati untuk tidak runtuh dan tidak mencaci maki ketetapan Allah saat jalan keluar belum tampak. Sikap ini berat sekali. Saya sendiri sering kali masih mengeluh saat air pam mati mendadak atau saat ban motor bocor di tengah gerimis. Mengaku ikhlas itu mudah di lisan, tetapi menahan hati agar tidak mendidih menuntut perjuangan yang sunyi.
Meski begitu, mengetahui bahwa ada pintu ketiga ini terasa melegakan. Kita tidak selalu harus menjadi pemenang di atas panggung. Hari ini mungkin urusan pekerjaanmu berantakan, badanmu remuk, dan masa depan tampak buram dari sudut kamar. Tapi caramu menahan diri agar tidak melampiaskan amarah kepada orang serumah, atau caramu tetap berbisik pelan memohon pertolongan pada Tuhan di sepertiga malam terakhir, sudah lebih dari cukup untuk membuat harimu tidak sia-sia.
Saya akhirnya bangkit dari kursi, mengambil gelas kopi dingin itu, dan mencucinya di wastafel sampai bersih.
Disadur dari www.sloww.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.