Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
22 Oktober 2026 · 4 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Tanaman sukulen kecil di meja kerja sering kita anggap potongan alam murni di tengah barang elektronik. Catatan Bruno Latour mengajak kita menengok ulang batas itu.
Jam sembilan malam, daun tanaman sukulen di sebelah keyboard saya mulai berdebu. Potnya berbahan plastik abu-abu kusam, ditaruh persis di samping tumpukan kabel pengisi daya ponsel dan adaptor laptop kantor.
Saya membelinya tiga bulan lalu di pinggir jalan dekat pasar. Waktu itu pikiran saya sederhana: meja kerja ini terlalu kaku, terlalu banyak mesin, dan saya butuh sedikit sentuhan hijau supaya kepala tidak gampang penat. Saya memperlakukan tanaman kecil itu seperti potongan dunia luar yang suci, yang sengaja saya selamatkan ke dalam kamar ber-AC.
Pola pikir seperti itu punya akar yang panjang. Kita terbiasa membelah dunia menjadi dua kotak rapi. Kotak pertama kita beri nama alam liar, isinya hutan, tanah, air pegunungan, dan dedaunan yang kita anggap murni serta bersih. Kotak kedua kita beri nama buatan manusia, isinya jalan aspal, pabrik, layar ponsel, kabel, dan plastik yang kerap kita cap sebagai biang kerusakan.
Seorang pemikir asal Prancis bernama Bruno Latour mempersoalkan pemisahan itu. Lewat proyek serial video berjudul A Vocabulary for the Future yang digarap oleh Centre de Cultura Contemporània de Barcelona, Latour mengajak orang memeriksa ulang kata alam. Bekerja sama dengan pembuat film Gerard Ortín Castellví, karya visual tersebut memperlihatkan bagaimana batas antara yang alami dan yang buatan tangan manusia sebenarnya saling bertubrukan dan terikat erat.
Latour mencatat kebiasaan kita dalam memberi label pada dua kotak tadi. Garis pembatas antara alam dan bikinan manusia sering kita jadikan tolok ukur moral. Apa saja yang berlabel alami langsung kita anggap baik dan bersih tanpa cela. Sementara apa saja yang tersentuh campur tangan manusia kita pandang dengan rasa curiga, seolah semua hasil kerja kita pasti merusak.
Cara pandang itu membuat kita merasa seperti makhluk asing yang berdiri di luar panggung. Kita memposisikan diri sebagai pengamat yang merasa berkuasa penuh, lalu sesekali menengok ke jendela untuk memandangi tanaman sebagai pelarian saat jenuh mengejar target. Di sisi lain, kita lupa bahwa pot plastik tempat sukulen saya menancap itu berasal dari minyak bumi yang disedot dari perut bumi juga. Keduanya saling bertaut, tidak pernah benar-benar terpisah sejak awal.
Latour menyodorkan sudut pandang lain. Dunia ini tidak sedang menunggu tindakan manusia sendirian.
Makhluk-makhluk lain, bahkan benda-benda di sekeliling kita, punya andil dalam memengaruhi jalannya hari. Hujan lebat yang mengguyur jalanan sore tadi langsung membubarkan jadwal janji temu saya dengan seorang kawan. Semut-semut kecil yang merayap di dekat stopkontak memaksa saya segera menyapu sisa remah makanan sebelum beranjak tidur. Tanah, air, pohon, dan cuaca bukanlah latar belakang bisu yang hanya pasrah menerima perlakuan kita. Mereka ikut menentukan apa yang sanggup dan tidak sanggup kita selesaikan hari ini.
Dalam sudut pandang keimanan, kesadaran ini melahirkan rasa tunduk yang menenangkan. Seluruh ciptaan di langit dan bumi terikat dalam satu jalinan yang sama, bertasbih dan bersujud dengan cara yang tidak kita pahami bahasanya. Saat seseorang memandang dirinya sebagai pusat pengendali tunggal, rasa cemas biasanya cepat menumpuk. Kita merasa memikul seluruh beban sendirian, seolah berhasil tidaknya hidup ini murni ditentukan oleh kekuatan tangan kita sendiri.
Menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan sesama ciptaan perlahan meredam rasa pongah. Meja kayu yang menopang laptop saya berasal dari pohon yang dulu menyerap air hujan dan panas matahari selama puluhan tahun. Kopi yang saya seduh di cangkir keramik berasal dari tanah lereng gunung yang dirawat banyak tangan. Tidak ada satu pun benda di kamar ini yang berdiri sendiri tanpa bantuan bagian bumi yang lain.
Kecenderungan memuja kata alami kerap membuat kita luput menghargai keseharian yang biasa saja. Kita mendambakan liburan jauh ke lereng perbukitan sunyi demi mencari ketenangan, mengira rasa tenang hanya ada di tempat yang steril dari campur tangan manusia. Kita mengabaikan segelas air putih hangat yang tersaji di meja makan, padahal air itu menempuh siklus panjang sebelum sampai ke kerongkongan kita.
Begitu batas kaku itu luruh, kita mulai memperlakukan sekeliling kita dengan lebih teliti. Kita tidak lagi memandang barang buatan manusia sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari kebesaran penciptaan. Mematikan sakelar lampu saat kamar kosong, membersihkan sisa nasi di mangkuk sampai butir terakhir, atau menyiram tanaman sukulen kecil yang mulai lemas berubah menjadi laku hidup yang hening. Kita merawat apa yang ada di dekat kita bukan karena kita penguasa yang hebat, melainkan karena kita sesama penumpang di atas bumi yang sama.
Saya mengambil kain lap basah dari dapur. Daun sukulen di samping laptop itu saya usap pelan satu per satu sampai debu abu-abunya terangkat. Ruangan ini tetap sama, ada dengung kipas komputer dan tumpukan berkas yang harus dibaca besok pagi. Bedanya, malam ini saya merasa tidak lagi sendirian di dalam kamar.
Disadur dari aeon.co
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.