Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Dua cara memandang orang yang melukai kita

29 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Dua cara memandang orang yang melukai kita

Pukul satu malam, nama orang itu masih muncul di kepala dan dada terasa sesak. Fred Luskin dari Stanford University meneliti bahwa menahan dendam menekan kerja jantung kita sendiri.

Pukul satu dini hari, dan nama orang itu mendadak melintas di kepala.

Kejadiannya sudah lewat berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun. Tapi begitu ingatannya naik ke permukaan, dada langsung terasa kencang. Rahang mengeras, napas memendek, dan rasa kesal yang sama datang kembali seolah peristiwa itu baru terjadi lima menit yang lalu.

Pikiran kita sering terjebak pada satu cara pandang yang wajar: memaafkan itu hadiah bagi si pelaku. Kalau kita melepaskan amarah, seolah-olah kita membenarkan apa yang dia lakukan. Rasanya seperti mengibarkan bendera putih, membiarkan orang itu melenggang bebas tanpa rasa bersalah, sementara kita menelan perlakuan buruknya mentah-mentah.

Cara pandang ini sangat manusiawi. Siapa pun yang pernah disakiti wajar merasa begini. Kita ingin keadilan. Kita menunggu orang itu datang, mengetuk pintu, lalu memohon ampun dengan sungguh-sungguh. Kalau dia belum meminta maaf, rasanya haram bagi kita untuk melepaskan dendam. Kita mengira rasa benci yang kita pelihara adalah cara untuk menghukum dia dari kejauhan.

Tapi ada yang luput kita perhatikan: orang itu mungkin sedang tidur nyenyak di kamarnya, sementara tubuh kita sendiri yang babak belur menanggung dendamnya.

Di titik ini, ada cara kedua untuk melihat situasi yang sama. Memaafkan bukan tentang membela pelaku, melainkan tentang menyelamatkan diri kita sendiri.

Fred Luskin dari Stanford University, yang menulis buku Forgive for Good, meneliti hal ini secara langsung. Dia bahkan melibatkan orang-orang dari Irlandia Utara yang anggota keluarganya tewas dalam konflik kekerasan. Temuannya jelas: saat seseorang belajar melepaskan kebencian, detak jantungnya membaik, beban pada sistem saraf berkurang, dan keluhan fisik menurun drastis. Tubuh kita bereaksi positif saat amarah disudahi.

Filsuf abad ke-18, Joseph Butler, pernah merumuskan hal serupa. Dia menyebut memaafkan sebagai upaya sadar untuk mengatasi rasa dendam di dalam batin, bukan memaklumi kejahatannya.

Cara pandang kedua ini memisahkan dua hal yang sering kita campur aduk: memaafkan dan berdamai. Banyak orang ragu memaafkan karena takut harus kembali berteman akrab dengan orang yang beracun. Sumber riset psikologi menegaskan bahwa memaafkan tidak menuntut rekonsiliasi. Kamu boleh melepaskan amarah tanpa perlu membuka pintu rumahmu lagi untuk orang yang sama. Kamu tidak wajib melupakan apa yang terjadi. Melupakan bisa berbahaya kalau itu membuatmu lengah pada luka yang sama. Mengakui bahwa perbuatannya salah adalah bagian dari kejujuran.

Dalam tradisi yang kita kenal, menahan amarah dan memaafkan orang lain selalu dipuji sebagai derajat ketakwaan yang tinggi. Bukan karena orang yang melukai kita itu benar, melainkan karena Allah tidak ingin hati seorang hamba kotor oleh kebencian yang menahun. Menyerahkan urusan keadilan kepada Yang Maha Adil membuat pundak kita tidak perlu memikul beban yang bukan jatah kita.

Robert Enright dari University of Wisconsin-Madison, yang merancang dua puluh langkah dalam proses pemulihan luka batin, menekankan bahwa langkah awal adalah mengakui rasa sakit itu apa adanya. Memaksa diri buru-buru tersenyum saat hati masih hancur tidak membawa ketenangan. Rasa marah perlu diakui dulu. Kecewa perlu diberi ruang. Baru setelah lelahnya terasa nyata, kita pelan-pelan memutuskan: apakah kita mau menghabiskan sisa umur dengan membawa bayangan orang ini ke mana-mana?

Ada satu penelitian yang mengamati orang-orang yang menyimpan permusuhan selama dua setengah tahun. Mereka yang sulit melepaskan rasa sakit cenderung terus menghindar dan berputar-putar dalam rencana pembalasan. Hidup mereka habis di ruang tunggu amarah.

Cara pandang pertama membuat kita menaruh kunci ketenangan batin kita di saku baju orang lain. Kita baru merasa boleh damai kalau orang itu sudah berubah, sudah menyesal, atau sudah menerima hukuman setimpal. Celakanya, banyak pelaku yang tidak pernah sadar bahwa mereka telah melukai orang lain.

Cara pandang kedua mengembalikan kunci itu ke tangan kita sendiri. Kamu tidak perlu menunggu orang itu meminta maaf untuk bisa bernapas lega malam ini. Rasa sakitnya nyata, tindakannya tetap salah, tetapi kamu berhak tidur dengan tenang tanpa membawa nama orang itu ke dalam mimpimu.

Malam ini, saat layar ponsel sudah redup dan lampu kamar dipadamkan, napas panjang yang kamu hembuskan adalah milikmu seutuhnya.

Baca juga

Disadur dari en.wikipedia.org


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.