Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Kejujuran saat hati belum siap berdamai

29 Oktober 2026 · 3 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Kejujuran saat hati belum siap berdamai

Mendiamkan orang tanpa alasan sering terasa melegakan, padahal Wahsyi bin Harb dan Hamzah memberi kita contoh cara berjarak yang jujur.

Tiga hari berturut-turut, sebuah nama di aplikasi perpesanan sengaja saya arsipkan agar tidak muncul di layar ponsel. Saya sedang jengkel. Rasanya ingin sekali lenyap tanpa pamit, membiarkan orang di seberang sana menebak-nebak apa kesalahannya sampai ia merasa bersalah sendiri.

Cara seperti itu sering kita sebut silent treatment. Mendiamkan orang lain berhari-hari, memutus obrolan tanpa aba-aba, lalu bersikap seolah orang itu tidak pernah ada. Kita kerap menganggap sikap dingin ini aman karena tidak ada teriakan atau piring pecah. Padahal mendiamkan seseorang dalam ketidakpastian meninggalkan luka tersendiri. Hubungan menjadi menggantung, dan suasana batin kita sendiri tidak bertambah tenang.

Nabi Muhammad memberi batasan tegas soal kebiasaan mendiamkan orang. Dalam riwayat yang disampaikan Imam Bukhari dan Muslim, beliau menegaskan bahwa tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu lalu saling membuang muka, dan yang paling baik di antara keduanya adalah yang lebih dulu mengucap salam. Ada tenggat waktu tiga hari yang diberikan syariat. Waktu itu boleh dipakai untuk meredakan amarah, tetapi setelahnya, pintu komunikasi harus dibuka kembali. Menahan dendam terlalu lama punya konsekuensi yang berat. Dalam hadis lain riwayat Muslim, dijelaskan bahwa pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah diampuni, kecuali dua orang yang masih saling bermusuhan. Ampunan mereka ditunda sampai keduanya berdamai.

Namun, bagaimana kalau luka di hati itu terlanjur dalam? Bagaimana jika kita sudah memaafkan, tetapi batin kita belum sanggup kembali bersikap hangat seperti sedia kala?

Belajar dari Wahsyi dan Hamzah

Nabi Muhammad pernah berada pada posisi manusiawi yang sangat berat. Wahsyi bin Harb datang ke Madinah untuk menyatakan diri memeluk Islam. Wahsyi adalah orang yang membunuh Hamzah bin Abdul Muththalib di perang Uhud. Hamzah bukan orang asing bagi beliau; Hamzah adalah paman yang sangat beliau cintai dan hormati. Ketika Wahsyi berdiri di hadapannya, Nabi tidak mengusirnya keluar. Beliau menerima keislaman Wahsyi dengan adil tanpa mengurangi haknya sebagai saudara seiman.

Tetapi Nabi tidak berpura-pura bahwa rasa kehilangan itu sudah hilang. Beliau berkata kepada Wahsyi, menanyakan apakah Wahsyi bisa menyembunyikan wajahnya agar tidak sering terlihat oleh beliau. Beliau menetapkan batas jarak. Beliau menyampaikannya secara lisan, jujur, dan jelas. Beliau tidak mendiamkan Wahsyi tanpa sebab, dan beliau juga tidak memusuhi Wahsyi. Beliau hanya butuh ruang agar luka lamanya tidak terus tergores kembali.

Sikap tersebut memperlihatkan jalan keluar yang dewasa. Menjaga jarak bukan berarti melancarkan permusuhan sepihak. Jika kita memang butuh jeda dari seseorang, bicarakan dengan jujur. Katakan bahwa kita butuh waktu sendiri untuk menata perasaan, bukan tiba-tiba menghilang dan memblokir nomor teleponnya. Kejujuran menyelamatkan kedua belah pihak dari prasangka yang merusak.

Dua pertiga akal

Tentu tidak semua masalah memerlukan jarak fisik seperti kasus Wahsyi. Sebagian besar gesekan yang kita hadapi sehari-hari sebenarnya berakar dari hal-hal sepele. Di sinilah kemampuan meloloskan kesalahan menjadi relevan. Muawiyah bin Abi Sufyan pernah menyebutkan bahwa akal itu seperti takaran: sepertiganya adalah kecerdasan memahami keadaan, dan dua pertiganya adalah taghaful. Taghaful berarti sengaja pura-pura tidak tahu atau memilih tidak mempermasalahkan kekeliruan kecil orang lain.

Seorang teman kantor berbicara agak ketus di meja makan siang. Kita tahu dia sedang lelah karena tenggat kerja yang menumpuk. Alih-alih tersinggung dan memasukkannya ke dalam hati, kita memilih mengabaikannya begitu saja. Masalah selesai di situ. Tidak perlu ada obrolan panjang, tidak perlu ada perang dingin. Taghaful memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi manusia yang punya hari buruk tanpa harus kita hakimi.

Duduk bersama sebelum memutuskan

Jika perselisihan menyangkut kepentingan bersama yang tidak bisa selesai hanya dengan sikap maklum, langkah yang diajarkan adalah musyawarah. Sebelum berangkat ke Badr, Uhud, maupun Khandaq, Nabi selalu duduk bersama para sahabatnya untuk meminta pendapat. Beliau mendengar pandangan mereka secara terbuka.

Musyawarah menuntut kerendahan hati untuk mendengar sudut pandang orang lain. Keputusan bersama tidak bisa dipaksakan sepihak lalu menyisakan gerutu di belakang. Ketika kita mau duduk bersama dan berbicara tanpa prasangka, banyak kesalahpahaman yang sebenarnya bisa diurai sebelum berkembang menjadi dendam.

Malam ini, layar ponsel saya masih menyala di meja kamar. Nama yang tiga hari lalu saya sembunyikan masih ada di sana. Saya menarik napas panjang, membuka arsip pesan tersebut, lalu mengetik satu sapaan singkat. Perasaan saya belum sepenuhnya lapang, tetapi setidaknya pintu itu tidak lagi saya kunci dari dalam.

Baca juga

Disadur dari muslim.or.id


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.