Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Dua cara melihat layar sandiwara di depan mata

28 Oktober 2026 · 4 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Dua cara melihat layar sandiwara di depan mata

Ada kalanya kita merasa terkuras habis setelah bertemu seseorang. Mungkin kita sedang menonton pertunjukan yang bukan kenyataan.

Ada orang yang berjalan ke arahmu, tersenyum lebar, dan mulai bercerita tentang pencapaian hebatnya minggu ini. Mungkin dia baru saja membeli mobil baru, atau mendapatkan posisi yang membuatnya merasa lebih tinggi dari orang lain di kantor. Kamu mendengarkan. Pelan-pelan, kamu merasa tubuhmu lemas, napas terasa pendek, dan ada rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan. Rasanya seperti ada seseorang yang baru saja menyedot energimu sampai habis tanpa sisa. Kalau sudah begini, biasanya kamu akan pulang ke rumah, merebahkan diri di tempat tidur jam sepuluh malam, lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar tidak karuan.

Dalam situasi seperti itu, ada dua cara untuk memandang apa yang sedang terjadi.

Cara pertama adalah dengan menelan mentah-mentah apa yang disajikan. Kamu melihat orang itu sebagai sosok yang benar-benar hebat, penuh percaya diri, dan mungkin merasa minder karena kamu tidak punya hal yang sama untuk dipamerkan. Kamu menganggap pertunjukan itu adalah realitas yang harus diakui. Kamu membiarkan dirimu menjadi penonton yang patuh, yang setuju bahwa dia memang tokoh utama yang paling bersinar, sementara kamu hanyalah figuran yang tidak berarti apa-apa. Ini melelahkan. Mengikuti narasi orang lain yang haus akan pengakuan memang butuh usaha besar, karena kamu dipaksa untuk terus memvalidasi kebohongan yang dia bangun demi menutupi kekosongan di dalam dirinya.

Cara kedua justru lebih tenang. Kamu memilih untuk melihatnya sebagai sebuah panggung teater. Kamu menyadari bahwa apa yang dia tampilkan bukanlah siapa dia sebenarnya, melainkan topeng yang dia tempelkan dengan lem yang mulai mengering. Mengingat mitos Narcissus yang jatuh cinta pada pantulannya sendiri, kamu bisa melihat bahwa orang ini sebenarnya sedang jatuh cinta pada citra dirinya yang direkayasa. Dia tidak sedang bicara denganmu; dia sedang bicara pada cermin imajiner yang dia bawa ke mana-mana. Ketika kamu berhenti menganggap drama itu sebagai kebenaran mutlak, kamu akan merasa jauh lebih ringan.

Ada perbedaan besar antara merasa rendah diri dan merasa sadar. Saat kamu sadar bahwa energi yang kamu rasakan tersedot itu sebenarnya adalah hasil dari partisipasimu dalam drama orang lain, kamu memiliki kuasa untuk berhenti. Kamu tidak lagi merasa perlu memberikan tepuk tangan atau memuji-muji hal yang sebenarnya tidak penting. Kamu tidak harus menjadi bagian dari suspensi ketidakpercayaan yang mereka butuhkan. Kamu bisa cukup tersenyum tipis, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih nyata, seperti cuaca, atau rencana makan siang nanti.

Psikiater Scott Peck dalam bukunya pernah menyoroti bagaimana orang yang terjebak dalam pola narsistik sering kali menciptakan kerusakan bagi orang-orang di sekitarnya. Eric Fromm bahkan menyebutnya sebagai sebuah kondisi yang cukup berat dalam kesehatan jiwa. Tapi, kamu tidak perlu menghakimi mereka. Menjadi orang yang terus-menerus harus berakting demi mendapatkan perhatian adalah siksaan tersendiri. Bayangkan betapa lelahnya mereka harus memastikan setiap orang melihat "versi terbaik" yang sebenarnya palsu itu. Mereka tidak pernah benar-benar beristirahat dari peran mereka sendiri.

Jika kamu sedang duduk di sofa, memegang ponsel di tengah malam, dan merasa lelah dengan interaksi yang baru saja terjadi di media sosial atau kantor, tarik napas panjang. Jangan salahkan dirimu. Mungkin kamu hanya lelah karena terlalu lama menjadi penonton bagi drama yang bukan milikmu. Berhenti mengomentari postingan yang hanya berisi pamer. Berhenti menanyakan pertanyaan yang memancing mereka untuk menyombongkan diri. Itu bukan berarti kamu jahat atau sombong. Itu berarti kamu sedang menjaga kewarasanmu sendiri.

Kamu tidak punya kewajiban untuk menyediakan panggung bagi orang lain. Jika seseorang merasa perlu membangun istana dari kaca yang rapuh, itu hak mereka. Tapi kamu tidak perlu menjadi tukang kebun yang menyirami ilusi itu setiap hari. Kamu bisa berjalan menjauh. Kamu bisa menutup gorden panggung itu. Kamu bisa kembali pada dirimu sendiri, pada apa yang benar-benar nyata, seperti secangkir teh hangat di meja atau keheningan malam yang menemanimu.

Banyak dari kita merasa cemas karena kita terlalu banyak memberikan waktu pada hal-hal yang tidak nyata. Kita merasa harus selalu tampil impresif, harus selalu punya jawaban pintar, atau harus selalu terlihat menang. Padahal, ketenangan itu justru datang saat kita berani tampil biasa saja. Saat kita tidak lagi peduli apakah orang lain kagum pada kita atau tidak. Saat kita tidak lagi merasa perlu menjadi pemeran utama di panggung orang lain.

Refleksi ini mungkin terdengar sedikit pahit bagi sebagian orang, tapi ada kelegaan yang luar biasa saat kita menyadari bahwa kita punya kendali penuh. Kendali atas siapa yang kita dengarkan, atas cerita apa yang kita percayai, dan atas batasan yang kita buat. Jika ada rekan kerja yang terus-menerus membicarakan kehebatannya, kamu bisa mendengarkannya tanpa harus ikut merasakan emosinya. Kamu bisa hadir secara fisik, tapi pikiranmu tetap damai di tempat lain. Kamu tidak perlu tersedot oleh "vampir energi" tersebut karena kamu tahu cara memutus sambungannya.

Ingat, tidak semua hal di dunia ini layak untuk mendapatkan perhatianmu. Sebagian besar hal yang membuatmu cemas di malam hari sebenarnya hanyalah bayang-bayang di dinding, smoke and mirrors, tipu daya yang akan hilang begitu saja saat lampu ruangan dinyalakan. Kamu tidak perlu menjadi hakim bagi mereka. Cukup jadilah orang yang bisa melihat kebenaran dengan mata yang jernih, dan berjalan pergi dari panggung sandiwara yang melelahkan itu.

Baca juga

Disadur dari aboutislam.net


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.