Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang
27 Oktober 2026 · 3 min
Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor
Catatan Ahmad Ibn Ajiba menyebut jiwa manusia itu satu, tetapi sifatnya berganti-ganti antara jatuh dan bangkit.
Jam satu malam, layar ponsel masih menyala terang. Saya membaca kembali sebuah tulisan tentang tingkatan jiwa dalam tradisi Islam: ada jiwa yang menyuruh pada keburukan, jiwa yang gemar mencela kesalahan diri, sampai jiwa yang tenang. Pembagian itu rapi sekali. Saking rapinya, pikiran saya mulai sibuk menimbang posisi sendiri. Ada dorongan aneh untuk memberi nilai pada batin, seperti guru yang memegang pena merah di depan kertas ujian.
Sebagian orang memandang tingkatan itu layaknya anak tangga kantor berlantai tujuh. Kamu merasa harus tahu sedang berdiri di lantai berapa hari ini. Kalau pagi tadi kamu membentak adikmu atau tergoda melihat hal yang dilarang, kamu merasa jatuh terperosok ke lantai paling bawah. Lalu ketika malam hari kamu berhasil bangun salat, kamu merasa sudah melangkah ke lantai berikutnya. Cara pandang ini bikin kepala tegang. Seseorang jadi gampang putus asa karena mengira satu kelemahan menghapus seluruh proses yang pernah dia lewati.
Ada cara kedua yang terasa lebih membumi. Ulama dari Maroko bernama Ahmad Ibn Ajiba menulis dalam tafsirnya bahwa kita sebenarnya hanya punya satu jiwa. Jiwa yang satu itu tidak menetap di kotak tertentu. Dia terus berputar. Pagi hari dia bisa terseret hawa nafsu, siang hari dia menyadari kesalahannya lalu memarahi diri sendiri, dan sore hari dia merasa damai ketika berzikir. Keadaan batin itu naik dan turun, mengalir seperti cuaca.
Memahami batin yang berganti-ganti membuat kita tidak terburu-buru menghakimi diri. Kita tidak sedang balapan mengumpulkan peringkat kesucian. Guru tasawuf dari Damaskus, Shaykh Abd al-Rahman al-Shaghouri, pernah mengingatkan bahwa kebaikan paling besar bagi kebanyakan orang terletak pada jalur yang panjang. Jalur ini penuh keberhasilan kecil, diselingi kekeliruan sesekali, dan pemahaman yang terbuka sedikit demi sedikit. Masalah atau godaan yang kita temui setiap hari bekerja membersihkan hati, bukan untuk membuktikan bahwa kita manusia gagal.
Banyak orang terjebak menghitung maqam atau derajat batin mereka. Mereka gelisah memikirkan apakah mereka sudah tergolong orang yang damai batinnya atau masih orang yang rendah. Menilai diri sendiri seperti itu menghabiskan tenaga. Kamu tidak wajib tahu kamu berada di tingkatan apa. Yang kamu perlukan hanyalah langkah berikutnya setelah lampu kamar dimatikan.
Para ulama menyusun langkah awal yang sangat sederhana untuk batin yang lelah. Imam Abu Bakr al-Mulla dalam kitab Minhaj al-Raghib berpesan agar perhatian kita untuk menjauhi larangan lebih kuat daripada keinginan mengerjakan amalan sunnah yang berderet. Jangan membebani diri dengan target ibadah yang tinggi kalau mata dan tangan masih gampang tergelincir pada hal yang jelas-jelas dilarang. Menahan diri dari keburukan jauh lebih berat, sekaligus jauh lebih menyelamatkan.
Imam Ismail Haqqi mencatat hal serupa saat menjelaskan tobatnya orang awam. Langkah paling bawah dari perbaikan diri bukan membaca wirid ribuan kali, melainkan membereskan kewajiban dasar: salat yang ditinggalkan diganti, hak orang lain dikembalikan, dan pintu kebiasaan buruk ditutup rapat-rapat. Tugas kita sederhana, meski pelaksanaannya sering kali membuat napas tersengal.
Selain itu, kita butuh kawan yang jujur. Imam Abu Bakr al-Mulla mengutip anjuran Imam Ghazali untuk mencari orang yang bisa menunjukkan kekurangan kita apa adanya. Kalau belum menemukan guru, carilah seorang sahabat baik yang kamu izinkan untuk menegur saat kamu mulai menyimpang. Sahabat seperti itu tidak akan membiarkanmu hanyut dalam ilusi bahwa kamu sudah menjadi orang yang sempurna.
Setiap malam menjelang tidur, simpan rasa penasaran tentang tingkatan jiwamu. Ambil dua pertanyaan yang diajarkan para guru: Apakah hari ini saya menjauhi apa yang dilarang oleh Allah? Dan apakah hari ini saya sempat mengingat-Nya?
Kalau kamu terpeleset, mintalah ampun tanpa perlu membuat drama bahwa hidupmu berantakan. Urusan menamai maqam atau derajat kesucian bukan tugas kita. Serahkan penilaian itu kepada Tuhan yang melihat isi dadamu, lalu tidurlah dengan tenang.
Disadur dari seekersguidance.org
Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.