Ceritain Aja / Catatan & Hikmah / Tentang

Sepuluh meter menuju pintu depan setiap pagi

19 Oktober 2026 · 5 min

Oleh Dimas Prasetya · Pendiri & Editor

Sepuluh meter menuju pintu depan setiap pagi

Pria itu menawarkan rumah dan tiga puluh persen saham perusahaan demi mengakhiri pernikahan sepuluh tahunnya. Sang istri merobek surat itu, lalu meminta satu hal ganjil setiap pagi.

Topik: Pernikahan & Keluarga

Malam itu meja makan terasa kaku. Sup ayam masih mengepul di atas mangkuk keramik, tetapi tidak ada selera makan yang tersisa. Sang suami menggenggam tangan istrinya yang kasar karena terbiasa mencuci piring, menatap matanya sekilas, lalu berucap datar bahwa ia ingin berpisah. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Istrinya tidak membalas dengan amarah besar saat itu juga. Dia hanya meletakkan sendok, duduk terdiam, lalu menatap suaminya dengan sorot mata yang terluka. Dengan suara yang nyaris berbisik, sang istri bertanya apa alasan di balik keputusan itu. Ketika suaminya memilih memalingkan wajah dan menolak menjawab, barulah kemarahan pecah. Sepasang sumpit kayu terlempar ke lantai. Sang istri berteriak, menyebutnya bukan laki-laki sejati, lalu menangis tersedu-sedu di sudut dapur. Sepanjang malam itu tidak ada kata lain yang bertukar. Mereka berbaring di atas kasur yang sama saling memunggungi, dipisahkan jarak dingin yang tak kasat mata.

Di luar rumah, ada perempuan bernama Dew. Teman sekantor pria itu yang periang, wangi, dan memberi letupan perasaan baru yang sudah lama hilang dari rumah tangganya. Selama berminggu-minggu, pria itu terobsesi dengan pikiran untuk memulai hidup baru. Sepuluh tahun pernikahan yang tenang mendadak terasa seperti beban yang menjemukan. Ia merasa rasa sayangnya kepada sang istri sudah habis tak bersisa, hanya menyisakan rasa kasihan yang mengganjal dada. Keesokan harinya, pria itu datang membawa surat perjanjian perceraian. Untuk menebus rasa bersalahnya, ia menyerahkan rumah keluarga, mobil, serta tiga puluh persen kepemilikan saham perusahaannya kepada sang istri. Perempuan itu membaca kertas itu sejenak, menatap suaminya tanpa kata, lalu merobek surat perjanjian tersebut menjadi potongan-potongan kecil yang berserakan di karpet ruang tamu.

Malam berikutnya, pria itu pulang larut setelah menghabiskan waktu bersama Dew. Di bawah lampu belajar yang temaram, sang istri masih duduk menulis di meja kayu. Pria itu tidak peduli. Ia langsung tidur karena tubuhnya letih. Saat terbangun menjelang subuh, posisi istrinya masih sama, duduk menghadap tumpukan kertas dengan pundak yang turun. Baru ketika matahari terbit, istrinya menyerahkan selembar kertas berisi syarat perpisahan. Permintaannya sederhana tapi aneh. Dia menolak semua tawaran harta, baik rumah maupun saham perusahaan. Syaratnya hanya dua: beri waktu sebulan sampai anak laki-laki mereka menyelesaikan ujian akhir sekolah agar konsentrasinya tidak goyah, dan selama tiga puluh hari itu, sang suami harus menggendongnya dari ranjang kamar tidur hingga ke pintu depan rumah setiap pagi. Persis seperti yang dilakukan pria itu saat membawanya masuk kamar pengantin sepuluh tahun silam.

Pria itu menceritakan permintaan tersebut kepada Dew di kantor. Dew tertawa mengejek, menganggapnya taktik murahan seorang perempuan yang berusaha menahan kepergian suaminya. Pria itu menyetujuinya semata-mata agar sisa waktu di rumah bisa dilalui tanpa pertengkaran terbuka.

Hari pertama menjalankan syarat itu, suasana terasa sangat canggung. Sejak kata cerai terucap, tubuh mereka tidak pernah bersentuhan lagi. Langkah kakinya goyah saat mengangkat tubuh sang istri melewati lorong sepuluh meter menuju pintu depan. Tiba-tiba anak laki-laki mereka keluar dari kamar dan bertepuk tangan riang. Anak itu berseru gembira melihat ayahnya menggendong ibunya di pagi hari. Di dalam pelukan, sang istri berbisik pelan agar perceraian ini dirahasiakan dari putra mereka. Pria itu mengangguk kaku, menurunkannya di depan pintu, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.

Pada hari kedua dan ketiga, kecanggungan itu perlahan terkikis. Tubuh sang istri terasa lebih pas di pelukannya. Kepalanya bersandar di bahu pria itu, membawa aroma sabun dan pelembut pakaian yang dulu akrab di hidungnya. Di hari keempat dan kelima, pria itu mulai melihat hal-hal yang selama bertahun-tahun ia abaikan saat berangkat kerja terburu-buru. Ada helai uban tipis yang terselip di rambut istrinya. Di sudut kelopak matanya, garis-garis keriput tampak jelas menandakan usia yang tidak lagi muda. Pernikahan selama satu dekade telah mengikis kemudaan perempuan itu perlahan-lahan.

Sebuah kejadian di pekan keempat meruntuhkan pertahanan hatinya. Pagi itu, sang istri mencoba beberapa gaun kerja di depan lemari pakaian tetapi semuanya tampak kebesaran. Istrinya mendesah pelan, bergumam bahwa pakaiannya mendadak longgar. Pria itu tertegun. Menggendong istrinya terasa semakin ringan setiap hari bukan karena otot tangannya menguat, melainkan karena berat badan perempuan itu terus merosot akibat menahan kesedihan seorang diri. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap kepala sang istri, sebelum suara langkah anak mereka terdengar mengingatkan jadwal gendong pagi.

Jarak dalam sebuah pernikahan jarang terjadi secara mendadak. Pertengkaran besar yang memecahkan piring jarang menjadi penyebab utama. Keretakan itu muncul dari tumpukan pengabaian kecil yang dipelihara setiap hari. Dua orang bisa tinggal di alamat yang sama, membayar cicilan bersama, dan makan di meja yang sama, tetapi pikiran mereka terpisah jauh. Percakapan harian menciut menjadi urusan logistik rumah tangga: jemputan anak, token listrik yang berbunyi, atau galon air yang habis. Begitu urusan selesai, masing-masing sibuk menekuri layar gawai sampai larut malam. Sentuhan tangan berkurang, ucapan terima kasih lenyap, dan tatapan mata berganti ke arah layar kaca.

Banyak orang mengira cinta membutuhkan letupan emosi yang besar atau liburan mahal ke tempat eksotis. Saat rasa bosan menyapa, mereka mengira cinta telah mati, padahal hubungan itu hanya kekurangan perhatian pada perkara sepele. Menyapa pasangan saat ia baru membuka pintu, membuatkan segelas air tanpa diminta, atau sekadar mendengarkan keluhannya tentang rekan kerja tanpa menghakimi adalah hal-hal kecil yang merawat ikatan batin.

Hari ketiga puluh tiba. Pagi itu rumah sunyi karena anak mereka sudah diantar berangkat sekolah. Saat mengangkat tubuh istrinya di kamar, pria itu mendadak tak mampu melangkahkan kaki. Di depan pintu keluar, ia mendekap tubuh yang ringkih itu erat-erat. Ia menyadari kebersamaan mereka selama sepuluh tahun terasa hambar bukan rasa cinta yang habis, tetapi mereka berdua berhenti merawat keintiman dalam keseharian. Janji pernikahan yang diucapkan bertahun-tahun lalu menuntut tanggung jawab untuk terus saling mendekap, bukan melepaskan pegangan saat kebosanan tiba.

Pagi itu ia mengemudikan mobilnya langsung ke kantor, menaiki tangga dengan tergesa-gesa, lalu menemui Dew. Tanpa ragu pria itu berkata bahwa ia membatalkan niat bercerai dan memilih kembali kepada keluarganya. Dew menatapnya dengan pandangan tak percaya, lalu melayangkan satu tamparan keras ke pipinya sebelum membanting pintu ruangan. Pria itu tidak mendebat. Ia menuruni tangga, menyalakan mesin mobil, dan berhenti di sebuah toko bunga di persimpangan jalan. Ia memesan serangkaian bunga segar untuk istrinya, lalu menuliskan pesan di atas kartu kecil: saya akan menggendongmu setiap pagi sampai maut memisahkan kita.

Kemewahan rumah, kepemilikan saham, atau kendaraan pribadi tidak pernah menjamin kehangatan di atas ranjang. Ketenangan hidup berumah tangga justru tumbuh dari kerelaan untuk saling melihat, merawat yang mulai rapuh, dan tetap bertahan di samping orang yang sama ketika masa muda telah berlalu.

Baca juga

Disadur dari aboutislam.net


Ceritain Aja — tempat cari hikmah & ketenangan batin.